Adakah penelitian tentang kepribadian ganda di Indonesia?

Novel karya Schreiber tentang MPD (Multiple Personality Disorder) atau DID (Dissociative Identity Disorder) yang diterjemahkan oleh Pak Sarlito Wirawan Sarwono, yaitu Sybil : Kisah Nyata Gadis dengan 16 Kepribadian adalah salah satu buku psikologi populer yang wajib dibaca mahasiswa psikologi.

Kecenderungan yang terjadi pada diri Sybil yang mengalami penyiksaan fisik dan seksual pada masa anak-anak menarik untuk diamati dengan melihat fakta bahwa cara yang dilakukan dalam menghadapi permasalahan berbentuk memecah kepribadiannya. Detail resensi ditulis dengan sangat menarik di sini.

Saya penasaran, kenapa ya kasus seunik ini luput dari perhatian? Bagaimana jika sebagian besar kasus DID hanya kurang dikenali (underrecognize) oleh masyarakat Indonesia, seperti halnya autisme dan homoseksual dulu?

Saya pun pernah membaca tulisan Pak Sarlito mengenai pasien beliau yang mengalami DID. Perpecahan tersebut berawal dari peristiwa pemerkosaan yang pernah dialami semasa SMP. Nama-nama kepribadian yang lain mirip dengan nama-nama yang ada di komik yang sering dibaca pasien.

Dari share Pak Sarlito, pasien tersebut datang sendiri ke tempat prakteknya, tidak ada yang menyuruh, dan dia bercerita bahwa ada milis dan situs khusus untuk kaum DID. Bahkan mereka sering bertemu darat di mal-mal tertentu dan ngerumpi (domisili Jakarta). Pasti seru ya, karena yang ada cuma 5-6 orang, tapi yang ngobrol bisa sampai 15 orang lebih. Namun sayang, proses terapi tidak berlanjut karena si pasien tidak pernah menemui Pak Sarlito lagi.

Bukankah kesadaran terhadap kasus DID meningkat seiring dengan munculnya kasus yang digambarkan dalam media populer, seperti The Three Faces of Eve oleh Dr. Thigpen dan Cleckley di tahun 1954 dan Sybil dengan 16 kepribadian yang ditangani oleh Dr. Wilbur dan dipublikasikan oleh Schreiber di tahun 1974? Misalnya, sebelum Sybil beredar, hanya ada 75 kasus DID yang dilaporkan. Satu dekade kemudian telah ada 40 ribu kasus yang mendapat penanganan serius.

Bagaimana jika DID berlangsung terus menerus pada diri individu dan tidak tahu kemana dan bagaimana mencari bantuan? Tentu tekanan-tekanan yang dialami semakin menumpuk, akhirnya banyak aktivitas primer saat itu menjadi terbengkalai atau menjadi terhambat untuk berkembang.

Minimnya informasi yang tersedia tentang kasus ini pun semakin memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi. Sejumlah kasus yang tercatat dalam Kaplan dkk (1997), dari keadaan seperti itu, yang terjadi biasanya adalah perilaku bunuh diri.

Kenyataan seperti ini dapat terjadi karena minimnya informasi mengenai DID, sehingga minim pula pemahaman yang dimiliki masyarakat. Kondisi yang memperparah adalah belum terdapatnya tempat-tempat yang menyediakan bantuan bagi kasus serupa.

Kesenjangan pengetahuan tentang masalah ini menjadikan masyarakat beranggapan bahwa kasus ini sama saja dengan kasus lain yang pernah mereka ketahui. Misalnya, disebabkan oleh kesurupan.

Bandingkan dengan kondisi di luar negeri. Putnam dkk (1986) dapat meneliti 100 kasus DID. Ross, Miller, Reagor, Bjomson, Fraser, dan Anderson (1990) dalam Kaplan dkk (1997) dapat meneliti 102 kasus DID yang dimuat dalam jurnal Am J Psychiatry.

Atau penelitian Scroppo, Weinberger, Drob, dan Eagle ( 1998 ) terhadap 21 wanita yang didiagnosis DID dalam Journal of Abnormal Psychology di mana partisipannya diambil dari Klinik Gangguan Disosiasi, Bellevue Hospital Center, New York.

Adakah yang berminat untuk mendalami kasus langka ini?

Referensi :

Kaplan, Harold. I & Sadock, Benjamin. J. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara

Schreiber, F. R. 2001. Sybil: Kisah Nyata Seorang Gadis dengan 16 Kepribadian. Jakarta: Sinar Harapan

Scroppo, J. C., Weinberger, J. L., Drop, S. L, & Eagle, P. 1998. Identifying Dissociative Identity Disorder: A Self-Report and Projective Study. Journal of Abnormal Psychology, 107, 272-284


About these ads

32 Tanggapan to “Adakah penelitian tentang kepribadian ganda di Indonesia?”

  1. achoey sang khilaf Says:

    saya ga berminat
    saya bukan ahlinya

    ayo siapa yang ahli masala ini? :)

  2. goncecs Says:

    waduuuuhhh !!!
    rumiiiittt
    aku ahli bikin tempe bisa !!!

  3. sanggita Says:

    To achoey dan goncecs:
    Kasus kepribadian ganda ini rumit, unik, dan langka lho. Ups, selera tidak bisa diperdebatkan yak?

  4. rani Says:

    kasian orang yang kepribadian ganda itu dia senantiasa binggung dengan dirinya sendiri ,jiwanya kacau, di mohon untuk di mengerti tapi tak seorang pun mengerti apalagi di negara yang kurang maju ,yang sama sekali tidak memperhatikan kepribadian ganda dari sisi keilmuan .

  5. sanggita Says:

    Iya, mbak rani. Saya salut dengan empati, mbak karena tidak semua orang bersedia meluangkan waktu dan hatinya untuk penderita gangguan ini. Mungkin karena terlalu banyak masalah yang lebih urgent ya.

    Sayangnya, penderita gangguan ini juga belum bersedia membuka diri – seperti pasien Pak Sarlito yang saya ceritakan di atas. Seandainya mereka bersedia berhubungan dengan para ahli kejiwaan, saya yakin makin banyak orang yang terbantu karena ada peningkatan keilmuan di bidang DID.

  6. A. Muttaqin Says:

    Walaupun tidak seberat kasus Sybill, saya pernah punya teman yang menderita DID. Hasil analisa saya (dengan sample yg sangat terbatas tentunya) penyebab DID adalah penolakan penderita pada kenyataan yang dia alami (biasanya sangat traumatis), sehingga yg dilakukan penderita adalah berusaha melupakan “koreng pada jiwanya” tersebut dengan mencoba menggunakan “topeng” (dalam psikologi disebut persona). Secara bertahap “topeng” tersebut menjadi lekat dan akhirnya si penderita kehilangan orientasi diri.

  7. sanggita Says:

    Penanganan kasusnya tahun berapa, Pak? Terus bagaimana hasilnya? Ada semacam dokumentasi atau rekam datanya-kah?

    Sejauh yang saya tahu, belum ada studi mendalam tentang kasus ini. Saya pernah mengangkat tema ini untuk penelitian, tapi kesulitan mencari subjeknya. Sampai sekarang masih terobsesi lho.

    Jika ada kesempatan untuk kuliah lagi, saya ingin mengangkat tema DID ini untuk thesis, Pak.

  8. pribadidewa Says:

    mungkin saja DID itu kemampuan alamiah.. jadi ingat masa kecil, saya dulu waktu kecil punya “teman” yang sering mengajak berdiskusi (“dia” yang ngajak bicara duluan tapi hanya dalam pikiran) tapi kemudian menghilang seiring meningkatnya usia, dulu saya sampai bertanya .. kamu tu siapa sih ? diri saya di masa depan? malaikat pelindung ? jin pengganggu? (maklum saat itu lagi demen2nya baca komik2 fantasi seperti doraemon)..
    kebetulan muncul lagi dalam bentuk berbeda, saat saya memasuki dunia yang sangat normatif.. dimana sering ada tindakan yang tidak ada dalam pikiran saya untuk menentang norma tersebut, padahal saya juga menerima norma tersebut … saya juga dalam kondisi sadar sepenuhnya..
    akhirnya bisa menghilang saat saya mencoba mengikuti keinginan”nya” untuk tidak terlalu patuh pada norma ..
    apakah ini masuk ke dalam kasus DID ya ? atau pembelajaran nirsadar?.. padahal orang tua saya baik, bahkan sangat baik, dan saya tidak pernah mengalami penyiksaan apapun oleh lingkungan, bahkan sering dihargai karena selalu menjadi juara kelas
    dan apakah hal2 seperti ini terlihat dalam psikotes mbak ?, karena berkali2 melamar kerja semua tes (TPA, Teknis, Inggris, Wawancara, dlsb) saya bisa lolos selain tes satu itu,

  9. sanggita Says:

    Dari cerita singkat mas Dewa, belum bisa disimpulkan apakah itu DID atau tidak. Kan ada beberapa ciri medis untuk menarik diagnosis, misalnya merasa ‘kehilangan waktu’ seperti yang dialami Sybil, dll.

    Kalo pengalaman masa kecil seperti yang mas Dewa tulis, hmmm terlalu singkat ya. Mungkin bisa ‘terbaca’ melalui serangkaian tes psikologis dan wawancara mendalam.

    Tapi untuk menterjemahkan yang mas Dewa alami pun tergantung kacamata mana yang ingin kita pakai. Berdasarkan supranaturalkah? Atau ilmu psikologi kontemporer?

  10. andro Says:

    MPD, meskipun blm baca sybil saya rasa saya juga pengidap MPD secara serius. masa kecil saya tidak dilecehkan hanya mengalami bully dr bbrp teman2 sekolah, itu yg membuat sy mengubur diri sy yg sbnrnya dan menciptakan identitas baru dimana saya bisa merasa nyaman untuk memerankannya. sy adalh pria berusia 23 th. tp saya memerankan tokoh yg berusia 28 th, 21 th, 25 th. dan untuk setiap tokoh yg sy perankan sy tidak segan2 untuk melakukan research. misalnya sy memerankan tokoh mjd pria usia 28th, mk sy mencari tau apa sj yg dialami olh org2 usia tsb. saat ini sy sdh mmiliki 9
    kpribadian yg bbda. tujuannya bkn untuk menipu. sy hny tdk comfort mjd diri sy sndiri. sy ingin dihargai. dgn mjd org lain rasanya mrk lbh mudah menerima sy, kkurangan sy, kelebihan sy. sy mjd org lain hny dlm dunia cyber sja. untuk dunia nyata sy blm brani terbuka. =) mudah2an bs mbantu.

  11. tukiman Says:

    MPD, meskipun blm baca sybil saya rasa saya juga pengidap MPD secara serius. masa kecil saya tidak dilecehkan hanya mengalami bully dr bbrp teman2 sekolah, itu yg membuat sy mengubur diri sy yg sbnrnya dan menciptakan identitas baru dimana saya bisa merasa nyaman untuk memerankannya. sy adalh pria berusia 23 th. tp saya memerankan tokoh yg berusia 28 th, 21 th, 25 th. dan untuk setiap tokoh yg sy perankan sy tidak segan2 untuk melakukan research. misalnya sy memerankan tokoh mjd pria usia 28th, mk sy mencari tau apa sj yg dialami olh org2 usia tsb. saat ini sy sdh mmiliki 9
    kpribadian yg bbda. tujuannya bkn untuk menipu. sy hny tdk comfort mjd diri sy sndiri. sy ingin dihargai. dgn mjd org lain rasanya mrk lbh mudah menerima sy, kkurangan sy, kelebihan sy. sy mjd org lain hny dlm dunia cyber sja. untuk dunia nyata sy blm brani terbuka. =) mudah2an bs mbantu.

  12. ghdjw Says:

    MPD, meskipun blm baca sybil saya rasa saya juga pengidap MPD secara serius. masa kecil saya tidak dilecehkan hanya mengalami bully dr bbrp teman2 sekolah, itu yg membuat sy mengubur diri sy yg sbnrnya dan menciptakan identitas baru dimana saya bisa merasa nyaman untuk memerankannya. sy adalh pria berusia 23 th. tp saya memerankan tokoh yg berusia 28 th, 21 th, 25 th. dan untuk setiap tokoh yg sy perankan sy tidak segan2 untuk melakukan research. misalnya sy memerankan tokoh mjd pria usia 28th, mk sy mencari tau apa sj yg dialami olh org2 usia tsb. saat ini sy sdh mmiliki 9
    kpribadian yg bbda. tujuannya bkn untuk menipu. sy hny tdk comfort mjd diri sy sndiri. sy ingin dihargai. dgn mjd org lain rasanya mrk lbh mudah menerima sy, kkurangan sy, kelebihan sy. sy mjd org lain hny dlm dunia cyber sja. untuk dunia nyata sy blm brani terbuka. =) mudah2an bs mbantu.

  13. kumat Says:

    oops he2 bikin komen pun jadi multiple ID maap yak!

  14. arin Says:

    aku punya temen yang kelakuannya aneh,kadang2 dia bicara seolah-olah bukan dia sendiri.. apa dia termasuk yang punya kepribadian ganda atau gimana? saya bukan psikolog jadi saya ga ngerti, bagi siapa az yang ngerti tolong bantu saya untuk tau apa yang sebenarnya terjadi sama temen saya itu, karena saya khawatir yang saya liat dari dia merasa kacau,aneh. en klo emang jiwa nya ga sehat saya ingin sekali gimana caranya supaya buat jiwanya normal.

  15. celinereyssa Says:

    duuuhh,, pengen banget meneliti mpd ini… sayang banget,, gw saljur niiihh!! makin gw menengok ke arah mpd,, makin menderita gw ma jurusan kuliah yg gw ambil… T___T
    ada yg mo ngobrol ma gw ttg mpd ga?? klo mau,, silahkan kirim2 email ke tempat gw : celinereyssa@hotmail.com

    *elus-elus* Gpp kok. Tertarik bikin novelnya? Risetnya harus dalam lho. Mau donk novel Lika-liku Luka yang ada tanda tangan kamunya…

  16. rRRrra Says:

    minta korespondensi(via imel) pak sarwono plis…thx 4 attention

    Saya sudah cari di contact-list, tapi belum ketemu. Lupa di-save dimana. Bentar ya
    Eh, ketemu :
    sarwono@makara.cso.ui.ac.id. Semoga membantu

  17. putri Says:

    assalamu alaikum.wr.wb
    hm….putri saat ini lg penelitian terhadap penderita DID. tapi ada kendala mbak, harus ada penegakan diagnosa dari psikiater. kebetulan putri di medan n udah mengadakan tes terhadap subjek penelitian dengan menggunakan MMPI-2, tapi laporan dari RSJ tidak menunjukkan subjek menderita DID, sedangkan dari observasi putri, subjek menunjukkan simtomp2nya. Menurut dosen pembimbing putri, coba dilakukan tes kepribadian khusus untuk penderita DID, di internet mungkin ada. tapi, putri belum jumpa sampe sekarang. bantu putri ya mbak, tolong kasih referensinya dunks….
    makasy sebelumnya…
    wassalam

  18. Fina Says:

    asslm…

    saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai DID. pertama sy mau mengajukan pertanyaan mendasar.. apakah DID sama dengan schizophrenia?,
    saya bukanlah org yg berlatarbelakang ilmu psikologi, tapi ketertarikan saya terhadap kasus serupa telah muncul ketika saya membaca ref. Sybil, film “beautiful mind”, dan 24 wajah billy..
    yang saya tanyakan adalah:
    1. apa saja gejala nyata yang terlihat pada gangguan DID?
    2. selama ini menurut apa yang telah saya baca mengenai DID, saya menarik kesimpulan, bahwa orang yang terkena gangguan kejiwaan ini tidak pernah menyadari bahwa dirinya benar2 sakit? apa asumsi itu benar? (kalau demikian, bisa saja orang sekitar kita terkena gangguan tersebut dan kita pun tidak menyadarinya?
    3. sebenarnya ada berapa fase dari DID?
    4. selain pengobatan medis (seperti yg sy lihat pada true story prof. john nash), ada pengobatan lainnya?.. mungkin menurut saya yang lebih efektif adalah pengobatan secara ilmiah dengan pendekatan secara internal dengan pasien tsb.
    5. pada kasus prof.nash… dia akhirnya sembuh, tetapi tetap saja tidak bisa menghilangkan ilusi mengenai teman bayangannya sendiri.. , apakah penderita DID ini tidak akan pernah sembuh total?

    kiranya mohon dikoreksi apabila terdapat beberapa kesalahan dalam pemahaman.. jawaban anda sgt sy harapkan…trimakasih….

    wassalam………………..with luv……fina….

  19. Donny Oktavian Syah Says:

    kurang begitu tahu perihal ini….tapi membacanya jadi sedikit paham….salam kenal Mba Sanggita….keep sharing

    cheers,

    Donny
    http://www.manuverbisnis.wordpress.com

  20. dewa temenmu sma Says:

    Git aku bersedia meluangkan waktu buat pengidap DID.. koe ngerti tho aku edan hahahaha (becanda.com).. TAPI AKU BUKAN PSIKOLOG gimana dung.. dan waktuku juga sibuk.. mmm.. (sok sibuk.com)

  21. dewa temenmu sma Says:

    heheehhehe…

  22. ilham Says:

    emg ciri2 orang berkepribadian ganda ato lebih itu gimana mbak git?
    bisa kah di lihat??
    matur suwunn..

  23. stupid girl Says:

    orang yang saya sayang memiliki kepribadian ganda,
    dan saya tidak akan berhenti berjuang untuk mengembalikan dia seperti semula.
    saya tidak akan membiarkan kepribadiannya yang lain mengambilnya.
    saya sudah tau identitas dan penyebab munculnya kepribadian dia yang lain,
    tapi setelahnya saya bingung, apa lagi yang harus saya lakukan??
    haruskah saya menceramahinya untuk menerima kenyataan atau bagaimana?? :(

  24. novi Says:

    saya tertarik untk mmpelajari lebih lanjut

  25. amin Says:

    ad yg tw cra menghilangkan alter ego yg laen g? w benci ma sexeist, nelly ma jean! tp w gk bs ngilangin mereka! cos kta tinggal ditubuh yg sama! kt tnggal ber7 !
    thx sblumnye!

  26. pandjoel Says:

    MPD (Multiple Personality Disorder),,kami hanya ingin ada orang yang mengerti keadaan kita,,ada orang yang mengerti perasaan kita,,
    tapi kami selalu merasa tak ada satu orangpun yang peduli pada kami.

    saya btuh bantuan,,di
    max_ziggie@yahoo.com

    walau hanya skedar sharing saya sangat berterima kasih..

  27. zeze Says:

    menyenangkan sekali membahas masalah ini,, :D

  28. blogspot.com Says:

    I was curious if you ever considered changing the page
    layout of your site? Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better.
    Youve got an awful lot of text for only having one or
    2 pictures. Maybe you could space it out better?

  29. Rueben Says:

    What’s Taking place i’m new to this, I stumbled upon this I have discovered It positively useful and it has aided me out loads.
    I’m hoping to contribute & aid different users like its aided me. Good job.

  30. kristienboyle.wordpress.com Says:

    Hello, I think your blog might be having browser
    compatibility issues. When I look at your blog site in Ie,
    it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping.
    I just wanted to give you a quick heads up!
    Other then that, wonderful blog!

  31. This Web-site Says:

    With havin so much content and articles do you ever
    run into any issues of plagorism or copyright infringement?
    My website has a lot of exclusive content I’ve either authored myself or outsourced but it seems a lot of it is popping it up all over the web without my permission. Do you know any solutions to help prevent content from being stolen? I’d certainly appreciate it.

  32. Finlay Says:

    Have you ever thought about including a little bit more than just your articles?

    I mean, what you say is important and everything. However imagine if you added
    some great photos or video clips to give your posts more,
    “pop”! Your content is excellent but with pics and videos, this site could undeniably be one of
    the best in its niche. Great blog!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: