4 Kesalahan dasar dalam melakukan wawancara kerja

interview-pic1

Melakukan wawancara kerja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Alasannya – selain melalui wawancara tersebut saya bisa mengkonfirmasi atau mencocokkan hasil psikotes dan memperdalam pemahaman saya terhadap karakteristik kandidat – saya memang suka ngobrol, jadi hobi tersalurkan, hehe.

Nah, dari pengalaman menjadi interviewer plus mengamati sesama interviewer, ada beberapa catatan yang terkait dengan kesalahan dasar dalam melakukan wawancara. Singkat saja ya :

Baca entri selengkapnya »

Maaf, sedang negatif…

caricature-elderly-angry_rbc4_10Bukan berniat menyebar virus negatif. Tapi beberapa hari ini memang sedang lowbat. Mudah sedih, mudah marah, sering melamun, dan sangat sensitif/mudah tersinggung. Maaf ya, belum bisa posting tulisan yang positif dan konstruktif…

Memilih dengan hati

businesswoman-crossroads-deciding_bon0615Bagi saya, memilih adalah hal yang mudah. Saya merasa tidak perlu membandingkan kelebihan kekurangan, analisis sana sini, dan memikirkan hal-hal memusingkan lainnya. Saya yakin saja dengan pilihan hati dan pasti menjalani pilihan saya dengan penuh syukur.

Jika diruntut, kemampuan ini muncul sejak kecil. Misalnya :
Lulus SD, saya bilang ke orangtua, saya ingin masuk SLTPN 19 Solo. Menurut guru dan orangtua, dengan hasil belajar saya yang mendapat nilai tinggi, saya lebih layak masuk ke SLTP paling favorit di Solo. Tapi saya tetap kekeuh. Dan alhamdulillah saya tetap bisa mempertahankan prestasi di sekolah tersebut.

Setelah lulus SLTP, saya memilih SMAN 1 Solo. Pilihan ini pun tanpa membandingkan dengan sekolah lain. Pokoknya SMAN 1. Titik. Bahkan saya tidak tahu bentuk gedungnya seperti apa. Tapi saya sangat bersyukur masa remaja dihabiskan di sana.

Menjelang akhir SMA, ketika teman-teman yang lain bingung menentukan pilihan masuk fakultas apa, saya mantap memilih psikologi. Saya pun mengambil jalur IPC supaya kemungkinan masuk psikologi lebih besar karena pilihan menjadi 3. Pilihan 1 : Psikologi UGM (jalur IPS), pilihan 2 : Psikologi UNAIR (jalur IPS), pilihan 3 : Psikologi UNDIP (jalur IPA). Untuk cadangan, saya mengambil Psikologi UMS.

Dan buat saya, masa kuliah di Psikologi UGM adalah saat-saat terbaik dalam hidup saya.

Baca entri selengkapnya »

Kata-kata bijak dalam mendidik anak

Ketika saya bertandang ke kediaman rektor salah satu universitas negeri di Jogja sekitar tahun 2002, saya melihat untaian kalimat bijak yang dipigura cantik di salah satu sudut dinding kamar tamu beliau.

Saat itu, saya hanya membaca sekilas. “Ah, saya sudah tahu kok. Kan orang psikologi”, batin saya waktu itu.

Saat ini, dengan kondisi sudah berkeluarga, saya baru benar-benar paham kenapa kalimat tersebut sangat penting bagi sang rektor hingga harus dipampang di kamar tamunya.

Baca entri selengkapnya »

GOOD TO GREAT : Why Some Companies Make the Leap And Others Don’t

Gambar diambil dari sini

Beberapa saat yang lalu, kami – tim HRD – melakukan meeting dalam rangka meng-goal-kan sebuah project keHRDan demi pengembangan perusahaan.

Sayangnya, sudah beberapa kali usulan dilakukan oleh manajer, sulit sekali di-acc BOD. Akhirnya, untuk kesekian kalinya kami harus meyakinkan BOD bahwa project ini super duper penting.

Dengan didukung data-data perusahaan, kami menyajikan presentasi dengan prinsip simplicity dan back to basic. Untuk pembukaan, kami menggunakan ilustrasi yang sangat menarik dalam buku Jim Collins, GOOD TO GREAT : Why Some Companies Make the Leap And Others Don’t.

Konsepnya sangat sederhana : Get the right people in the right seats on your bus and the bus will take you where you want to go.

Caranya bagaimana?
First – get the right people on the bus and the wrong people off the bus
Second – get the right people in the right seats on the bus
Third – get the bus moving in the right direction

Baca entri selengkapnya »

Dewi Lestari di O-Channel tadi pagi

Sebelum berangkat kerja, saya iseng menyaksikan O-Channel. Ternyata salah satu penulis favorit saya, Dewi Lestari – yang akrab dipanggil Dee – menjadi bintang tamu untuk sebuah talkshow. Kabar terbaru : buku keenamnya yang berjudul Rectoverso sudah terbit!

Yang unik dari karya ini adalah tidak hanya kumpulan cerita yang kita dapat. Tapi juga CD yang berisi 11 lagu ciptaan Dee sendiri dengan aransemen Andi Rianto.

Jadi, di balik setiap lagu dalam CD, ada ceritanya di buku. Sesuai dengan arti Rectoverso – dari bahasa Latin – yaitu dua image yang saling bercermin. Idenya orisinal ya?

Baca entri selengkapnya »

Seni melarang anak dengan bijak

boy-7-8-watering_hhf01615“Wimaaa…ya Allah, jangan maen air! Nanti basah!”, teriak orang rumah waktu melihat anak saya bermain air di kran samping rumah. Atau di saat lain, “Wima! Jangan lempar-lempar mainan! Nanti kena lampu!”

Seringkali saya dibuat gemas oleh perilaku anak saya itu. Baru ditinggal ke toilet, mainan yang sudah dirapikan jadi bersebaran lagi. Baru ditinggal sholat, langsung terdengar teriakan wima dengan sepupunya karena berebut mainan. Dasar bocah. Ampun deh.

Biasanya, orang tua menggunakan kata jangan untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai. Cara itu pun diwariskan turun temurun. Dari nenek diwariskan ke ibu, dari ibu diwariskan ke kita, kemudian kita menggunakan cara yang sama untuk mengendalikan perilaku anak. Tapi efektifkah cara itu?

Baca entri selengkapnya »

Selamat mengulang hari lahir

zero-mind

dari inbox e-mail :

Jika Anda bangun pagi ini dan merasa sehat, Anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup sampai akhir minggu ini.

Jika Anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan atau kelaparan, Anda berada selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.

Jika Anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa, atau mati, Anda beruntung karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.

Jika Anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat Anda beristirahat, Anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.

Jika Anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, Anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.

Jika orang tua Anda masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan pernikahan Anda, maka Anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka.

Baca entri selengkapnya »

Winner vs Quitter

the-road-to-the-dreamland

Orang-orang yang sukses – menurut sejarah – adalah orang-orang yang berani berpikir besar. Artinya, mereka memiliki gambaran tentang masa depan yang dicita-citakan. Dan itu mendorong mereka untuk berusaha mewujudkannya.

Misalnya, Bill Gates dengan raksasa perusahaan Microsoft, Sam Walton sang pendiri Wal Mart –perusahaan retail raksasa, dan Saichiro Honda. Daftar ini bisa lebih panjang lagi jika ditambahkan dengan nama-nama anak bangsa kita.

Ada satu hal yang sama : mereka berani menantang diri sendiri untuk mewujudkan gambaran masa depan yang mereka inginkan.

Baca entri selengkapnya »

Bagaimana berdamai dengan tuntutan sosial

man-playing-chess_731038511

Setiap orang pasti memiliki masalah. Masalah terjadi karena ada kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan yang terjadi. Semakin bertambah usia seseorang, tuntutan pun semakin besar.

Ketika masih sekolah, meskipun kebutuhan hidup masih dipenuhi oleh orang tua, selalu saja ada tuntutan untuk memberikan performa terbaik di sekolah.

Memasuki dunia perkuliahan – meskipun juga masih disupport orangtua – dituntut untuk mandiri, berani mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atasnya.

Masa akhir kuliah, kekhawatiran akan kepastian masa depan mulai muncul. Kepastian apakah akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, minat, bakat, dan cita-cita. Tapi tetap harus mampu keluar dari zona nyaman dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan sendiri.

Kuliah selesai. Mendapat pekerjaan yang match lahir batin. Masih juga dituntut, ‘Kapan menikah? Sudah saatnya lho. Kuliah selesai, kerjaan mapan, kurang apa?’

Baca entri selengkapnya »