“Wimaaa…ya Allah, jangan maen air! Nanti basah!”, teriak orang rumah waktu melihat anak saya bermain air di kran samping rumah. Atau di saat lain, “Wima! Jangan lempar-lempar mainan! Nanti kena lampu!”
Seringkali saya dibuat gemas oleh perilaku anak saya itu. Baru ditinggal ke toilet, mainan yang sudah dirapikan jadi bersebaran lagi. Baru ditinggal sholat, langsung terdengar teriakan wima dengan sepupunya karena berebut mainan. Dasar bocah. Ampun deh.
Biasanya, orang tua menggunakan kata jangan untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai. Cara itu pun diwariskan turun temurun. Dari nenek diwariskan ke ibu, dari ibu diwariskan ke kita, kemudian kita menggunakan cara yang sama untuk mengendalikan perilaku anak. Tapi efektifkah cara itu?
