
Menunggu mobil untuk berangkat ke Pelabuhan Ratu. Wima senyum ala Joker, Willa protes dipaksa pose. Ibunya? Sadar kamera donk...teteup, hehe
Long-weekend dua minggu lalu, kami sekeluarga besar Sukabumi, jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu. Ada Umi dan keenam anak-anak dan menantunya serta cucu dan cicitnya. Kecuali Bi Mia — anak bungsu — yang sedang dinas di rumah sakit tempatnya bekerja.
Yang unik dari keluarga suami saya ini adalah : mereka mau repot! Lihat saja di foto. Segala sesuatu dimasak sendiri, bawa wajan, galon, hingga kompor gas. Tapi itulah yang membuat keluarga ini guyub sekali.
Ck ck ck…beda banget sama keluarga saya di Solo yak. Trah Poerwo Soeharto prefer dilayani deh. Bayar orang, nikmati sajian. Dasar mental priyayi
)
Meski on the spot-nya kami bahagia-bahagia saja, sepulang dari piknik : suami, Wima, dan Willa teler semua. Seperti yang saya ceritakan di sini minggu kemarin.
Setelah melahirkan Willa setengah tahun yang lalu, nifas, disusul kemudian mengikuti kontrasepsi suntik 3 bulan, membuat saya tidak juga mendapatkan tamu bulanan.
Terus terang, sejak saya melek terhadap kontrasepsi dan gender, saya tidak juga mengerti : dengan kemajuan teknologi medis yang bahkan sudah mampu meng-klon DNA, alat pencegah kehamilan tetap juga dikenakan pada perempuan.
Lihat dampak dari suntik (mempermainkan hormon alami perempuan), IUD/spiral (memasukkan benda asing ke dalam rahim perempuan), pil KB (harus ajeg diminum, pada beberapa kasus dapat menimbulkan kegemukan dan flek hitam pada wajah), hingga susuk (bentuk kecil seperti kipas yang ditanamkan ke bawah kulit).