
Beberapa waktu yang lalu, teman-teman kantor yang baru datang dari site melihat foto-foto liburan keluarga saya waktu di Jungle-Bogor, Ancol, Sela Bintana, dan yang terakhir ke Pelabuhan Ratu.
Mereka pun berceletuk, “Wah, kayaknya menikah muda asik ya, Mbak.“
Tidak lama dari itu, saat chat dengan sahabat yang meski baru saya temui sekali namun terasa dekat berkat tulisan-tulisan di blognya, beliau bertanya:
Agoyyoga : “Git, menikah sepertinya menyenangkan ya?”
Saya : “Menyenangkan, Ga. Kalo tahu cara bersenang-senang.”
Cinta. Pernikahan. Hidup. Kadang bagi saya seperti makan coklat atau minum kopi.
“A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” (Grow A Day Older, Dewi ‘Dee’ Lestari)
Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati.
Itulah pernikahan, kadang tak hanya untuk dimengerti, tak hanya untuk memahami diri sendiri tapi juga untuk dinikmati.

Mei 7, 2009 pukul 7:51 am
Yap. Saya sedang mellow akhir-akhir ini. Sepertinya overdosis Seven Pounds, hehe. That film? Gosh, it’s totally romantic paska Titanic (gimana ngga OD, wong saya sampai hafal dialognya)
Mei 7, 2009 pukul 8:18 am
Kalo mbak lagi mellow…aku lagi sensitip…hihihiii….itu seven pounds film baru yaa…?? waduw maap ga gaul banget ya sayah…..
Totally romantic…??waah…musti nonton itu….btw setuju ama tulisan mbak di paragraf terakhir…tentang pernikahan….
Mei 7, 2009 pukul 8:34 am
hueee….. saya jadi pengen cepet2 nikah nih…. rasanya memang sudah waktunya kalo yah.. blakangan ini saya gampang termenung memikirkan hidup, sepertinya kalau ada pendambing ga jadi termenung lagi deh…malah jadinya diskusi..
salam kenal..
Mei 7, 2009 pukul 9:58 am
Sebenarnya, dengan status apapun yang melekat dalam diri kita, yang masih melajang, yang sudah menikah, menikah muda, menikah tua eh menikah senior, selalu ada dua sisi di sana, suka-duka, bahagia-sedih, pahit-manis. Karena kebahagiaan sejatinya berasal dari diri kita sendiri, bukan dari apa status yang kita sandang. *kalau mbak sanggita lagi melow, saya lagi belajar wise
*
Mei 7, 2009 pukul 1:08 pm
menikah adalah sarana untuk mengenal cinta itu seperti apa…dari situ kita belajar kedewasaan yang ada juga sarana untuk menghargai apa yang kita dapatkan selama ini
Mei 7, 2009 pukul 6:59 pm
nikah muda… saya juga ngelakuin hal itu mbak, terutama istri saya yg waktu nikah baru 20 tahun. Memang emosi kita waktu itu cukup labil.. sekarang sih udah mulai gak lagi
Mei 8, 2009 pukul 2:12 am
suwe ra mampir,
komen sik ah…
Mei 8, 2009 pukul 6:18 am
cinta dalam pernikahan lebih nikmat daripada cinta saat pacaran
Mei 8, 2009 pukul 11:33 am
mbak. mas widie apriana yang orang sunda itu ya? beliau tuh temanku pas bimbel di primagama
Mei 8, 2009 pukul 2:08 pm
……….”paragraf terakhir”……………
lagi jadi penyemangat suami yang sedang kejar tayang disertasinya, deadline tahun terakhir. terutama urusan emosi (=yang tidak stabil) dan rela menitipkan anak2 ke neneknya dulu.
Mei 8, 2009 pukul 3:37 pm
iya yah mba?
jadi pengen cepet2 nikah nih… inspiratif banget postingan nya mba
Mei 9, 2009 pukul 12:58 am
Mei 9, 2009 pukul 2:06 am
dulu pernah mau nikah muda sekali, tapi apa daya cinta bertepuk sebelah tangan, yg penting sekarang sudah punya momongan
Mei 11, 2009 pukul 8:29 am
Menikah, terutama menikah muda*bagi saya yang mengalaminya* terkadang ditanggapi secara positifatau negatif oleh persepsi yang berbeda. Tapi bagi-ku*yang menjalaninya* ternyata lebih menyenangkan dari persepsi sebelumnya sebelum melewatinya. kehilangan waktu bermain, kebebasan? ternyata salah besar. mungkin bisa berbeda karena sosok suami yang ternyata mendukung semua keinginan….dan pada dasarnya kebahagiaan bukan berawal dari suatu status tapi dari kemampuan kita membuat segala sesuatu menjadi lebih indah dari sebelumnya.
Mei 11, 2009 pukul 2:30 pm
[...Cinta. Pernikahan. Hidup. Kadang bagi saya seperti makan coklat atau minum kopi...]
Hm, sebuah pilihan kalimat yang menarik.
Mei 12, 2009 pukul 11:45 am
gak ada hidup yang sempurna y.. jd coba dinikmati aja
Mei 15, 2009 pukul 7:59 pm
nonton Seven Pounds brapa kali, Bu? bagus banget yaaa
*yang masih belum menemukan teman romantis yang pas*
Mei 16, 2009 pukul 7:28 pm
Pernikahan memang untuk dinikmati….manis-getirnya. Mengingkari salah satunya, adalah cermin ketidak-dewasaan dan pasti menimbulkan masalah.
Mei 16, 2009 pukul 8:10 pm
kalu soal ngopi setuju bin nikmat kalau pagi hari baru bangun tidur ( kemepyar )
Mei 16, 2009 pukul 10:49 pm
Ya ALLAH, jika cinta itu ada, berilah satu untuk saya agar saya dapat membangun syurga di dunia dan mengantarkan suami saya ke syurga Mu ya ALLAH.
amin …
Mei 18, 2009 pukul 9:16 am
hallo… salam kenal pengen ikutan komen nih…
saya juga ” pelaku ” nikah muda, saya nikah saat usia 19 tahun, dengan rentang usia dengan suami yang bisa dikatakan terpaut jauh ( 7 thun lebih ), awalnya memang terasa berat tapi setelah di jalani + dan di nikmati dengan penuh ke ikhlasan serta berniat hanya untul mencari keridhoan Alloh semua terasa ringan, meskipun kami sudah menikah tapi kami tetap merasa seperti pacaran ( soalnya kami tidak pacaran, kenal bentar langsung nikah )
. so… nikah muda itu nikmat banget ………
:D:D
Mei 27, 2009 pukul 8:08 pm
Menikah menyenangkan kalau ketemu yang cocok, dan bisa mengelolanya.
Dan bersyukur atas semua tahapan yang dilakukan….serta ikhlas apapun yang kita peroleh
Mei 30, 2009 pukul 4:01 am
hahaha.. aku sebenernya sudah seiap untuk menikah. siap semuanya, kecuali… calon istrinya!! hwakakaakakakaka
Juli 10, 2009 pukul 6:00 am
menikah itu kadang kaya naik roller coaster, tapi kadang seperti di jalan tol…lurus lengang…hahaha…salam nggit…