Genap satu bulan saya menghibernasikan blog. Ada banyak kejadian yang saya alami dan tidak sabar ingin saya bagi.
Bukan peristiwa besar, hanya sekumpulan peristiwa-peristiwa sederhana namun tidak lagi dilihat dari sudut pandang orang awam.
Sebuah transformasi dari dalam dan butuh kesabaran. Karena seringkali membuat saya lebih moody dan sangat sensi.
Saya yakin, setiap orang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Mendengarkan kilatan-kilatan perasaanya, membahasakan dan memaknainya. Dan semua itu bermuara pada genangan pemahaman terhadap diri dan dunia yang lebih mendalam. Saya tidak tahu apakah Anda pernah mengalami hal yang sama. Tapi itulah kenyataan yang sedang saya rasakan.
Jadi jangan pula terkejut jika gaya menulis saya terkesan plin-plan. Kadang puitis, seringkali realis. Pada akhirnya, saya hanya menulis sesuai suasana hati saat itu. Menulis apa yang saya mau tulis. Kadang panjang, bisa juga hanya sebentuk gambar dengan kalimat pendek tanpa penjelasan, dimana pemahamannya murni saya serahkan pada sidang pembaca sekalian.
Saya tidak mau terkungkung dengan hanya menulis sesuai profesi yang sedang saya geluti. Ataupun peran saya sebagai istri dan ibu di usia yang masih sangat belia. Blog ini menyajikan saya sebagai pribadi utuh. Bahkan saya tidak peduli lagi dengan statistik yang ada dalam blog ini. Saya hanya akan terus menulis. Itu saja.
Dan (lagi-lagi), saya sepemahaman dengan Dee :
” Seperti Ndoro Kakung, sejak dulu saya percaya bahwa kekuatan blog sesungguhnya adalah konten. Isi. Kita bisa aktif gila-gilaan di beragam jejaring sosial internet demi memompa jumlah pengunjung, atau mendandani blog kita seindah dan secanggih mungkin, tapi — sebagaimana kunci semua relasi — akhirnya kita selalu kembali pada isi dan sentuhan hati.” (Dee, dalam endorsement buku NdoroKakung ‘Nge-blog dengan Hati‘)
Sepakat dengan blogger yang tulisannya sangat saya kagumi :
“Bahwa membangun dan mengelola blog bukanlah layaknya berlari sprint, namun sebuah marathon. Stamina, endurance dan ketekunan yang kokoh diperlukan agar tulisan bisa terus bergulir.
Dengan spirit itu, blog ini akan selalu berikhtiar menghadirkan menu yang inspiratif dan mencerahkan, meracik aneka gagasan, kemudian menghidangkannya dalam sebuah sajian yang penuh kerenyahan.
Siapkan tempat duduk Anda, cicipi kelezatan hidangannya, nikmati pemekaran pengetahuan dan gagasannya serta jadikan waktu 5 – 10 menit yang Anda investasikan untuk membaca tulisan ini selalu menjadi the most productive and memorable time dalam perjalanan keseharian Anda semua.”

Juni 3, 2009 pukul 8:58 am
Horeeeeeeee……
——
Makasih, sayang. Lanjutkan?
Juni 3, 2009 pukul 9:24 am
akhirnya menulis lagi…!
——
Makasih atas kesabarannya, Mas..
Juni 3, 2009 pukul 9:25 am
ok, saya sgt stuju dgn apa kata mb, tulisan di blog itu adalah sebuah pikiran, saya selalu percaya bahwa berkata ju2r dalam sebuah tulisan kemudian di lemparkan ke segenap pembaca, dan dihangatkan dengan feed-back adalah sebuah kebahgiaan yg sulit untuk dijelaskan. Terus berkarya mbak, posting2an yg lebih menarik selalu dituggu. Keep going dn honestly I really like this blog.nuwun
——
Wahhh, apresiasi Mas Ryo membuat saya semakin bersemangat, euy. Maturnuwun saestu..
Juni 3, 2009 pukul 5:14 pm
Betul, Mbak. Saya juga berusaha menganalogikan kalau ngeblog itu ibarat orang merawat tanaman… mesti ditelateni kalau orang Jawa bilang.
Lah, padahal saya sendiri ya nggak telaten… :p
——
Whuaah, Mas Haryo radarnya kuat juga, hehe. Merawat tanaman…saya ndak punya taneman buat dirawat’e, Mas *mlengeh*
Juni 3, 2009 pukul 5:34 pm
asiiik….uadh balik lagi mbak…dan siap menikmati kelezatan ‘hidangan’ mbak….
——
Saya masak orak-arik dengan nasi pulen hangat plus camomile tea. Mau?
Juni 3, 2009 pukul 7:37 pm
setuju dengan mbak gita, bukankah blog sebagai saluran nuansa hati?? bahkan menurut saya menulis tak jauh berbeda dengan memasak, hahaha. . . .
ketika hati sedang senang maka masakan akan enak, tapi ketika hati sedang gundah maka rasa yang dihasilkan juga nggak enak. menulis juga begitu, makna yang tertulis akan memunculkan suasana hati yang sedang dirudung saat itu.
*iNtiNya teteP N9eBLo9. . . . v^_9
——
Apa, Dit??! Mbak Gita? Owh, plz…!!
Tapi jangan nge-blog sambil masak aja. Ntar gosong kayak nasib bakwanmu ityu.
Juni 3, 2009 pukul 7:47 pm
akhirnya keluar juga mbak..
setuju mbak… tulisan yg bermutu pasti dicari bnayk orang
——
Walah, kok kayak jin lampu to, Mas…
Sayalah jin lampu jaminan mutu, hehe…*nyengenges*
Juni 4, 2009 pukul 12:31 am
Yupss…
Just tuangkan anything in your mind….
cara dan gaya Menulis tiap orang itu berbeda, dan perbedaan itulah yang menyebabkan kita berbeda dengan orang lain, dan ternyata apa yang telah di bagi setiap Blogger itu tidak sama…
Selamat menulis kembali Mbak(membaca komentar nomor 2)…
Salam hangat Bocahbancar…
——
Wah, berarti Mas Joko ini juga termasuk yang sabar yah? *terharu*
Juni 5, 2009 pukul 10:03 am
Nganti lumuten ki mbak, ngenteni awakmu tangi seko status hibernasi. Anyway, welcome back mbak. Segeralah kau luncurkan tulisan2 yang kriuk..kriuk itu
——
Waduh, kok ngganggo lumuten, Mb Ririn?? *ngambil-WPC*
Juni 5, 2009 pukul 8:02 pm
setuju sekali dengan tulisan Dee (nge-fans juga…)
dirimu hibernasi tapi tetep fesbukan ya? hehehe. welcome back.
——
Update status min. 1x/hari teteup, Mb Mala. Kadang lebih all-out karena ngga pake mikir lama, hehe. Makasih yah atas sambutannya. Halah.
Juni 8, 2009 pukul 6:56 pm
oh ternyata, kmaren2 lg ov nge-blog tho… pantesan.tak buka blognya, ko ga pernha update..
——
Sekarang dah update kok. Monggo dinikmati, Mas…
Juni 16, 2009 pukul 4:14 pm
Hehehehehe….saya kok merasa deja vu ya dengan kalimat terakhir itu…..
——
Ah, masya’? Saya juga ngrasa pernah baca loh. Di mana yah? hehehe…['cuma' ngga di-link aja akibatnya fatal yah, Mas?]
Juli 14, 2009 pukul 8:25 am
istirahat dari rutinitas memang perlu mb, terkadang bangun dari tidur yang panjang bisa membuat sesuatu yang lebih baik…siiiipppp lanjjutkannnn…..
Oktober 19, 2009 pukul 9:13 pm
salam kenal mbak, saya fans baru, tapi langsung ngefan pol kale jenengan.. yang jelas baru kenal sebentar aja, saya udah dapat banyak manfaat dari tulisan mbak.. saya ibu dari 4 anak dgn usia 28 th, sekarang lagi PAUD di rumah. semoga mbak anggi bersedia jadi teman plus guruku ya… thanks before
——
Salam kenal juga, Mbak Ulfa Anis. Terima kasih untuk apresiasinya yah. Saya malah nunggu share dari Mbak. Wong di usia 28 tahun, sudah berputra/ putri 4, jhe. Melakukan PAUD di rumah pula. Wow! Luar biasa!! Harusnya saya yang berguru ke njenengan, Mbak…
Oktober 27, 2009 pukul 11:27 pm
tampaknya saya mengenali gambar kaki itu Git….itu seperti kaki saya, (tepatnya) foto kaki saya pada waktu saya main paralayang….hehehehe…..