Rinduku

Ku merindukanmu, sayangAlunan nada itu menyentak ruang dengarku.
Menjembatani penggalan waktu bersamamu :
Pendar lampu Kota. Batavia. Dini hari. Kopi. Dan, diskusi.

Tahukah, jangkar yang kau benamkan ini terlalu berat?
Bahkan aroma tubuhmu masih melekat?

Saat ini kuhanya ingin berteriak lantang.
Menembus gendang telinga setiap orang…

Ku merindukanmu, sayang.

*Inspired by one tempting-night at Dunkin’ Donat, Hayam Wuruk.

Dari Penulis:

Saya lahir di keluarga yang mempunyai concern besar terhadap kesenian. Dedikasi Bapak dan Ibu saya terhadap budaya, Jawa khususnya, sudah dimulai sejak beliau berdua masih remaja. Tak heran jika sejak saya balita, tidak ada rasa canggung berdiri di atas panggung. Melakonkan Harjuna kecil dan menari Jawa tradisional telah menjadi ritual mingguan saya.

Beranjak remaja, saya mulai menggandrungi karya-karya sastra. Puisi, prosa, serta teater. Drama “Perempuan di Titik Nol” adalah lakon pertama dan terakhir yang paling berkesan. Sekaligus membawa kelompok teater yang saya ikuti pada performance terbaiknya.

Dan beberapa minggu terakhir, gejolak itu mendesak kuat. Memberontak dari kungkungan benak. Jika diperkenankan, sedikit demi sedikit, saya akan perkenalkan satu bagian dari diri  ini ke dalam kategori baru : Art and Culture. Kategori ini berisi apresiasi saya terhadap karya-karya seni dan budaya.

Akan sangat bahagia rasanya jika Anda pun bersedia meluangkan sejenak waktu untuk mengapresiasi apa yang saya suguhkan ini.

Terakhir, saya haturkan kalimat penutup yang tak henti-hentinya menggugah selera : Selamat Menikmati. :mrgreen:

4 Tanggapan ke “Rinduku”

  1. Norma Says:

    Lanjutkan mb…..
    apresiasi terhadap seni membuat hidup lebih berwarna, tidak hanya hitam dan putih tapi juga semua warna di dunia….
    aku salut sama orang2 yang masih concern pada dunia seni….padahal itu secara tak sadar telah menyeimbangkan harmoni hidupnya.

  2. raynovar Says:

    saya spendapat dengan mba, siapa lagi kalo bukan kita2 yg bisa concern terhadap seni budaya bangsa kita sendiri…

  3. juno Says:

    selamat berekspresi…
    buat saya, seni atau pun sastra tidak ada yang amatir atau perofesional. seni atau pun sastra adalah ungkapan jiwa yang menjadi teman sejati bagi hati yang selalu bersenandung.

  4. seli_usel Says:

    . seni maupun sastra sama adalah ungkapan jiwa yang menjadi teman sejati bagi hati.

    . selamat berekspresi iyya kak.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.