
Menulis di sela-sela pekerjaan rutin. Di luar job-desc soalnya, hehe...
Di divisi HRGA PT BUMA tempat saya bekerja, ada media sosialisasi project HR dalam bentuk buletin dua mingguan bernama ‘Angkringan HR’. Ide dari Mr. DGM (Deputy General Manager) sendiri yang sepertinya melihat hobi menulis saya. Aseek..
Saat proses pengiriman e-mail edisi ketiga kemarin ke level Managing Director sampai Supervisor, ada beberapa nama yang belum tercantum di sent -list e-mail saya. Kemudian beliau menegur via e-mail :
Mr. DGM : “Kok untuk supervisor tidak ada?”
Saya : “Udah kan, Pak? Di e-mail susulan karena supervisor dilampiri PDF edisi 1 sampai 3 sekalian.”
Mr. DGM : “Ok tks, Kabag TC belum.”
[Kabag TC : Training Center Section Head]
Saya : “Inggih, Pak. Sendhika dhawuh..”
[Iya, Pak. Siap menjalankan perintah..]
Mr. DGM : [mulai main wayang]
“Wara Sembodro…
Lha, kowe kok lali… ora ngirimake gaman kang wujud wacan angkringan marang para punggawa-ku TC. Mengko para punggawa aning lapangan bisa2 ora mbiyantu aku ning laga Kurusetra. Lha mengko piye, para prajurit ku bisa pralaya.
Kenapa tangan terlipat di dada adalah kesalahan besar dalam wawancara kerja? Bagaimana mengidentifikasi pasangan yang berbohong dengan mudah?
Ini forward dari email yang saya terima dari Pak Taufik (Pimred JHC) tadi malam :
Kamis (12/3) minggu lalu, saya menumpang kereta api ekspress jurusan Bekasi karena berniat menginap di rumah saudara.
Menyambung tulisan
Satu bulan yang lalu, teman saya mengajukan diri untuk resign. Tidak seperti yang saya bayangkan, kami malah mengadakan farewell-party : sebuah acara makan-makan yang sangat menyenangkan. 
Mbak, saya ingin berdiskusi (konsultasi tepatnya) kalo berkenan. Sebut saja nama saya Budi, 30 tahun, menikah, 2 anak.
Saya seringkali dibuat takjub dengan orang-orang yang sepertinya banyak sekali yang dilakukan. Padahal sama-sama diberi jatah 24 jam sehari.