Karena saya tidak mau tua di jalan

jakarta-traffic_tr005396Menempuh lokasi kantor dari tempat tinggal minimal 30 menit sekali jalan adalah hal biasa di Jakarta. Namun bagi orang daerah seperti saya, kemacetan tetap saja menimbulkan efek tidak menyenangkan.

Terbiasa dengan lengangnya Jogja dan Solo, cukup membuat saya tidak habis pikir kenapa begitu banyak orang yang bersedia menghabiskan waktunya di jalan dari hari ke hari.

Saya pernah mengalaminya ketika bulan pertama di kota ini. Waktu itu saya tinggal di mess kantor di Jl. Pemuda, Jakarta Timur (sekarang sudah tidak digunakan lagi). Dari mess jam 06.00, naik kendaraan umum ke terminal Pulogadung kemudian dilanjutkan naik bus Patas AC 51, turun di tanjakan Bandengan Jl. Jembatan Dua, Jakarta Utara. Sampai di kantor sekitar jam 07.45.

Pulang setelah sholat maghrib, sekitar jam 18.30, naik L-300 ke Beos, lanjut naik busway turun di Layur. Sampai mess sekitar jam 20.30. Kemudian di bulan kedua di Jakarta, saya meminta kantor untuk memindahkan saya di mess Jakarta Utara, dengan alasan:
1. Simplify my life

Berhubung di Jakarta jauh dari keluarga inti, saya mempunyai kebebasan untuk memilih tempat tinggal dan pengalokasian waktu 24 jam per hari. Saya pikir, rutinitas 3-4 jam hanya untuk perjalanan adalah pilihan kurang bijak. Bukankah lebih baik jika jumlah waktu yang sama digunakan untuk hal yang lebih produktif? Seperti membaca, menulis, membuat life-plan, menyusun materi presentasi, atau beribadah?

2. Commuting is a stress that doesn’t pay off

Kelelahan dan minimnya waktu untuk bersosialisasi semakin lama menggerogoti kesehatan jiwa dan raga. Terasa sekali karakter mudah marah, mudah tersinggung dan curiga berlebihan terhadap orang asing terutama saat saya berada di luar gedung Jakarta. Kondisi ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan di daerah. Saya pikir, daripada saya menggadaikan hati nurani seperti itu, mending saya tinggal di daerah lokasi kantor.

3. Meminimalisir hal-hal negatif

Memasuki bulan ketiga di Jakarta, saya keluar dari mess dan memilih kost. Alhamdulillah syarat utama kost bagi saya terpenuhi, yaitu kebersihan, keamanan, dan kebersamaan. Apalagi hanya dibutuhkan waktu 2 menit 51 detik jalan kaki menuju gedung. Dengan harga per bulan yang sama seperti daerah Trisakti dan Untar, at least saya tidak perlu mengeluarkan uang transport dan waktu 1 jam PP menuju kantor.

Lagi pula, saya tidak ingin terjebak turut mengeluh, marah, dan mengutuk Jakarta yang selalu macet, polusi di atas ambang toleransi, tingkat kriminalitas yang tinggi, daerah-daerah kumuh di sepanjang jalan, dan udara yang pengap. Toh bekerja di Jakarta adalah pilihan sadar saya. Jadi semua yang disebutkan di atas adalah konsekuensi logis dari pilihan itu.

Ada yang mau menambahkan atau berbagi pengalaman?

7 Tanggapan to “Karena saya tidak mau tua di jalan”

  1. evicipluk Says:

    Haha, selamat datang Bu! Aku malah mesti pindah kost 4x, karena dulu kostku di Jogja nyaman banget, aku jadi kaget karena ga bisa mendapatkan kondisi yang sama. Kost-kantor 1,5 km ditempuh dlm 30 menit menggunakan metro mini bobrok yang seringnya umpel2an dan kesulitan ketika mau turun.

    Sudah ah. Aku ke Kalimantan dulu ya, lumayan ninggalin Jkt sebulan. Refresh my life😀

  2. Nazieb Says:

    Lha makanya saya milih kost-kostan deket kantor…
    Berangkat kerja sekalian jalan-jalan pagi..

    Tapi seringnya kesiangan terus😛

  3. sanggita Says:

    Iya, vi. Kosmu emang hommy. Inget ga, dulu aku rajin dateng ke tempatmu buat ngajakin ke B21? Weh, ke site?Aku belum dapet jatah niy. Mungkin bulan-bulan depan deh.

    Sepakat, zieb. Makin deket kantor kok makin mepet aja ya masuknya?

  4. ganis Says:

    yup, aku juga ga mau tua dijalan mbak
    2 jam perjalanan dari mess ke kantor menurutku bener2 ga lumrah, itu sama kayak rumah disolo kerja di jogja bukan?
    melelahkan sekali…
    aku merindukan jogja mbak, kemana2 relatif mudah, lancar dan aman, hiks2….

  5. Cak Kris Says:

    Saya juga merasakan hal sama. Selalu uring-uringan kalau terkena macet. Untung saya biasa mengendarahi motor. Atau malah nyepeda ke tempat kerja. Jakarta memang sudah tidak manusiawi lagi.

  6. metrotrans Says:

    lho.. saya malah skrang tinggal dijogja, sengaja tinggal jauh dari tempat kerja dan agak sebel klo pulang di sapa tetangga.. maunya bersosialisasi selaras degn kerja saya n sibuk dgn diri saya sendiri ketika usai kerja.. hmm mungkin ini efek karena sebelumnya saya lahir dan dibesarkan di jakarta n baru2 ini pindah ke jogja.. sy malah berencana mo refreshing balik ke jakarta, bu.. hehe..

    Weh, asik banget, Mas. Kerja di Jogja penghasilan Jakarta. Tapi memang enak – untuk tipe kepribadian tertentu – sepulang kerja melepas penat dalam keheningan ya.

  7. Norma Says:

    buat aku kejakarta baru sekali seumur hidupku. itupun aku lakukan bersama suami karena keadaanku masih belum sehat (masih ada perban menempel diperutku, beberapa hari setelah operasi usus buntu). itu kulakukan demi untuk ikut tes dep sos, yang pada akhirnya tak membuahkan hasil. sebelum ke jakarta, bayangan terhadap jakarta adalah indah, maju,dsb. pengalaman pertama (notabene kata Omku yang mengantar kesana-kemari mengatakan agak aneh, setiap mengantar aku jalanan tidak seperti biasa, tidak macet dan lancar). tapi……..apapun katanya, pengalaman itu tetap membuatku beranggapan bahwa hidup dijakarta sangat tidak menyenangkan. sampai2 saya rasa2nya lebih memilih hidup di kalimantan atau papua daripada hidup di jakarta (padahal belum pernah kesana…). traumaku terhadap jakarta masih benar2 melekat, sampai akhirnya suatu saat aku akan mencobanya lagi (atas pertimbangan temanku, siapa tahu pengalaman kedua bisa merubah penilaianku terhadap jakarta). Yah,kalo mbayangin hidup mbak,kos dekat tempat kerja gitu rasanya menyenangkan juga ya…

    Menyenangkan kok asal pinter milih sudut pandang aja. Tapi tetap enakan Jogja, say. Bener deh. Kalo mau detailnya, via japri aja. *pantang-menulis-hal-negatif-di-blog-ini*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: