Hikmah kehilangan barang kesayangan

kopi-dan-buku

Beberapa minggu yang lalu saya pindah dari mess ke kost baru menggunakan bajaj. Ketika merapikan kamar kost, saya baru sadar bahwa ada barang kesayangan yang hilang. Bukan barang mahal. Hanya tempat pensil warna merah. Tapi memiliki fungsi avaibility yang besar bagi saya.

Dan saya sangat yakin bahwa barang tersebut berada di tempatnya. Saya sempat su’udzon dengan sopir bajaj, karena ada bukti yang menguatkan dugaan tersebut. Sudahlah, semoga dugaan itu salah.

Saya tidak bisa dipisahkan dari buku diari. Setiap ada lintasan pemikiran, selalu ditulis di buku tersebut. Tentang apa pun, dimana pun dan kapan pun. Nah, untuk menulis, saya menggunakan pensil mekanik yang ditaruh di tempat pensil merah. Meskipun sekarang era keyboard, saya tetap menggunakan metode konvensional ini untuk terus melatih fungsi motorik halus.

Awalnya marah juga karena ketika butuh menulis, tool-nya tidak ada. Tapi kemudian saya pikir, apakah worthed jika hal sekecil itu mempengaruhi mood?

Hal ini pun sempat membuat saya semakin tidak percaya Jakarta. Ketika ada teman yang bertanya via sms, “Git, gimana Jakarta?” Saya pasti jawab,”U can’t trust anyone in this town.” Atau “Sedang belajar tidak mempercayai orang.”

Ah, bukankah itu tidak proporsional? Terlalu menggeneralisasi. Jika kebetulan saya bertemu satu untrusted people di daerah Penjaringan, bukan berarti semua orang di Jakarta masuk golongan untrusted people juga kan?

Kemudian Ganis – rekan kerja saya – menyadarkan dengan mengirim sms : “Mbak, positive thinking is a must, but stay alert.” Quote inilah yang kemudian saya pegang sebagai alat survival untuk bertahan di Jakarta.

Nah, saya pun berpikir, “Kurang bijak juga jika terikat dengan benda mati seperti itu. Bagaimana jika kehilangan hal yang lebih besar? Kalau sudah hilang dan berusaha mencari ternyata tidak menghasilkan, ya sudah. Solusinya apa? Mending ke stationery Gramedia saja untuk mencari gantinya. Masalah selesai kan. “

6 Tanggapan to “Hikmah kehilangan barang kesayangan”

  1. Resi Bismo Says:

    udah gak usah sedih,relain aja dah. kumpulin duit beli yang baru atau cari yang bekas. , seperti saya disini: http://resibismo.wordpress.com/2007/12/15/belajar-mengikhlaskan/

  2. kabarihari Says:

    yah namanya juga repot pindahan pasti ada saja yang keselip (belum tentu ilang), tapi memang hilang ya mungkin bukan rejekinya🙂 jadi ikhlasin aja..

  3. sanggita Says:

    Udah ikhlas kok. Hwhe..

  4. ganis Says:

    horay2, namaku disebut diblog
    waduh, klo tiba2 jadi beken gimana dunk?

  5. oenoen Says:

    barang hilang bisa dicari, klo sahabat hilang sulit nyarinya, hehe g nyambung ya..

  6. dias senja Says:

    kemarin sore aku baru kehilangan hape yg udah 2th nemenin ak, hape itu jatuh di angkot , dan yg nemuin ga ngembaliin hape sony w395 ku itu.
    Aku slalu yakin semuanya milik Allah, tapi aku suka sedih kalo inget hapeku itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: