Metode kuantitatif atau kualitatif ya

little-prince-spamKetika masih kuliah semester 4, saya sempat bingung menentukan apakah skripsi saya kelak menggunakan metodologi penelitian kuantitatif sebagaimana yang banyak digunakan kakak-kakak angkatan waktu itu, ataukah kualitatif yang masih jarang digunakan.

Dari yang saya baca, saya berkesimpulan bahwa suatu bidang ilmu, apa pun bidang pengkajiannya, bila telah menginjak kedewasaan mau tidak mau akan bersifat kuantitatif, seperti pengamatan anak-anak dalam buku Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery :

Orang dewasa senang sekali pada angka-angka. Bila kau katakan kepada mereka bahwa kau punya teman baru, mereka tidak pernah bertanya hal-hal penting, seperti, “Permainan apa yang paling ia senangi? Apa makanan favoritnya? Apakah ia senang mengumpulkan kupu-kupu?”

Sebaliknya, mereka bertanya, “Berapa umurnya? Berapa orang saudaranya? Berapa kilo beratnya? Berapa penghasilan ayahnya?”

Angka, tanpa kita sadari, memang bisa menjadi tujuan dan bukan alat itu sendiri. Seperti pengamatan anak kecil itu yang menggerutu, “Dikiranya hanya angka-angka saja mereka bisa mengetahui sesuatu!”

Gejala ini kemungkinan besar disebabkan karena kita kurang mengetahui hakikat sebenarnya dari angka. Tulisan ilmiah kemudian berubah menjadi kumpulan rumus dan tabel yang tidak berbicara apa-apa.

Kerangka pemikiran seorang peneliti – bagaimanapun rumit dan dalamnya – harus mampu dikomunikasikan dengan kata-kata yang sederhana, tidak seperti ilmuwan dalam sajak Taufik Ismail*:

Sang kambing, di seminar itu,
membawakan sebuah makalah.
Yang karena banyak tabel dan angkanya,
kelihatan ilmiah.

Angka tidak bertujuan menggantikan kata-kata. Pengukuran sekedar unsur dalam menjelaskan persoalan yang menjadi pokok analisis utama.

Ada yang mau menambahkan?

*Taufik Ismail Membaca Puisi (Taman Ismail Marzuki, 30-31 Januari 1980, hlm. 8). Sajak ini saya temukan di antara tumpukan buku-buku ajaib di perpustakaan pribadi bapak saya.

Catatan :
Akhirnya, skripsi saya menggunakan metode eksperimen, dari rencana semula yang kualitatif. Alasannya sederhana : supaya cepat lulus. Maklum, kasus klinis yang ingin saya angkat sebagai skripsi belum pernah ada penelitiannya di Indonesia dan mungkin membutuhkan waktu tahunan untuk dianalisis.

Kasus tersebut adalah Dissociative Identity Disorder, seperti kasus Sybil Gadis dengan 16 Kepribadian yang butuh 11 tahun untuk sembuh. Jika ada yang punya informasi untuk kasus ini, bisa japri. Saya masih sangat terobsesi dengan kasus kepribadian majemuk di Indonesia. Tapi informasinya masih minim sekali.

Ada yang bisa menghubungkan saya langsung dengan Pak Sarlito Wirawan Sarwono? Kabarnya beliau pernah menangani kasus ini beberapa tahun yang lalu.

2 Tanggapan to “Metode kuantitatif atau kualitatif ya”

  1. Teddi Prasetya Yuliawan Says:

    Halo Git!

    Akhirnya bisa ketemu di sini. Anyway, sepemahamanku, metode hanya lah sebuah metode. Alat yang menjadikan tujuan kita terwujud. ketika meneliti sesuatu, apakah tujuan yang ingin kita wujudkan: mengeksplorasi sebuah fenomena yang masih langka penelitiannya, membuktikan asumsi, atau menciptakan penemuan baru. Tujuan pertama jelas membutuhkan eksplorasi kualitatif, yang kedua tentu dengan model korelasional, dan yang ketiga barulah cocok dengan eksperimen.

    Aku tiba2 ingat ajaran pak Fathul waktu liat proposal penelitian kualitatifku yang pertama kali kuajukan. dia bilang, “Kualitatif itu bukan sekedar metode, melainkan metodologi. It’s a way of thinking.”

    Salam,

    Teddi

  2. Abas Says:

    Kalau ngutip sebutkan sumbernya dong. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer (Jujun S. Suriasumantri)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: