Jadi spesialis atau generalis?

long-roadSelepas semester dua di fakultas psikologi UGM, secara tidak tertulis masing-masing mahasiswa akan memilih program studi yang diminatinya. Memang, secara resmi tidak ada jurusan khusus seperti fakultas lain. Tapi seingat saya, ada beberapa program : (CMIIW)

1. Psikologi Klinis
2. Psikologi Sosial
3. Psikologi Industri Organisasi
4. Psikologi Perkembangan
5. Psikologi Pendidikan
6. Psikologi Umum Eksperimen

Well, masalahnya, setiap tahun saya selalu berganti minat.

Tahun pertama (semester 1 dan 2) tertarik klinis, karena sedang asyik mengamati diri sendiri. Kelak setelah lulus akan banyak membantu psikiater di rumah sakit jiwa.

Tahun kedua (semester 3 dan 4) tertarik sosial, karena sedang menikmati aktivitas sebagai pegiat pers mahasiswa yang banyak berhubungan dengan teman-teman sospol. Akibatnya, saya lebih banyak membaca diktat mereka daripada diktat psikologi. Kelak setelah lulus akan menjadi aktivis LSM.

Tahun ketiga (semester 5 dan 6) tertarik industri organisasi, karena sedang diprospek sekelompok orang yang mengaku business owner, yang ternyata artinya network marketing. Kelak setelah lulus akan bekerja di perusahaan-perusahaan bonafid.

Tahun keempat dan kelima (semester 7-10) tertarik pendidikan dan perkembangan, karena menikah (semester 7) sambil kerja paruh waktu di sebuah playgroup (agar lebih memahami dinamika perilaku balita untuk preparation menjadi ibu). Kelak setelah lulus akan menjadi guru, BK, atau family and children advisor.

Kira-kira seperti itulah.

Akhirnya, saya mengalami kebingungan menentukan ingin mendalami yang mana. Apalagi – sewaktu memberi mata kuliah Psikologi Gender – Pak Faturrohman (sekarang Dekan Fakultas Psikologi UGM) menyarankan agar kita terspesialisasi pada satu hal.

Sejak SMA, saya jatuh cinta dengan ilmu ini. Terus terang, saya tidak ingin terkotak-kotak menjadi spesialis psikologi ini atau psikologi itu. Saya mau semuanya, karena saya cinta psikologi, titik.

Jadi teringat kutipan cerita dari sebuah buku :

“Saya adalah Doktor Polan, ahli burung betet betina,” demikian dalam abad spesialisasi ini seseorang memperkenalkan diri. Jadi tidak ada lagi ahli zoology, atau ahli burung, bukan juga ahli betet, melainkan khas betet betina.

“Ceritakan, Dok, bagaimana membedakan burung betet betina dan betet jantan?”

“Burung betet jantan makan cacing betina, sedangkan burung betet betina makan cacing jantan…”

“Tapi bagaimana membedakan cacing jantan dan cacing betina?”

“Wah itu di luar profesi dan keahlian saya. Saudara harus bertanya pada ahli cacing.”

Nah lho.

*Sepertinya saya harus mencari profesi alternatif sehingga semua bidang psikologi ter-cover­ yak. Ok, we’ll see next 5-10 years…

2 Tanggapan to “Jadi spesialis atau generalis?”

  1. honeysweet Says:

    trus gimana mbak…sekarang akhirnya spesialisasi di bidang apa?

  2. oenoen Says:

    yup ditunggu beberapa tahun lagi nieh😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: