Pentingnya merencanakan kehamilan

Usia ibu

Goal

Yang harus disiapkan untuk memasuki fase selanjutnya

22 tahun

Lulus kuliah, awal karir, saving

Konsentrasi pada pemantapan karir, menabung untuk menikah, rumah, dan gadget.

Menambah ilmu tentang peran menjadi istri dan ibu.

24 tahun

Menikah

Konsolidasi sebagai pasangan baru. Ini adalah fase penyesuaian. Anda berdua juga saling menyamakan frekuensi, saling beradaptasi terhadap kebiasaan pasangan. Komunikasi yang sehat sangat dibutuhkan di sini.

Saat-saat hanya berdua di awal pernikahan seperti ini, manfaatkan untuk mematangkan rencana pernikahan.

25 tahun

Melahirkan anak pertama

Amatilah setiap proses di fase ini. Mulai dari hamil-melahirkan-hingga mengasuh dan mendidik. Anda akan cepat didewasakan oleh keadaan.

30 tahun

Melahirkan anak kedua

Wah, saya belum punya kapasitas untuk bicara banyak di fase ini. Proses saya sendiri baru sampai di sini (tapi usia saya sekarang 25 tahun, karena saya menikah ketika 21 tahun).

35 tahun

Melahirkan anak ketiga

Idem.

Dari beberapa buku yang saya baca mengenai kehamilan, usia paling aman untuk hamil adalah 25-35 tahun. Intinya, secara fisik dan psikis sang ibu sudah cukup siap untuk bereproduksi.

Secara umum, usia tersebut berarti:

  • Telah memiliki kematangan kepribadian dan kedewasaan berpikir. Usia 20an telah melewati fase pencarian jati diri dan mulai memantapkan karir.
  • Hormon juga jauh lebih stabil dibandingkan masa remaja.

Mengapa harus menjaga jarak kelahiran?

1. Memberi waktu bagi rahim, hormon, dan organ-organ terkait dengan melahirkan untuk memulihkan dirinya.

Kondisi tubuh ibu akan kembali normal setelah 2 tahun melahirkan anak pertama. Saat itulah tubuh ibu siap mengandung janin baru.

2. Perhatian kepada anak pertama

Jarak anak pertama dengan yang kedua terlalu dekat (< 2 tahun), anak pertama akan cukup riskan mengalami sibling rivalry atau iri dengan saudara kandungnya karena telah mencuri perhatian orangtua dari dirinya.

3. Kemandirian anak

Bayangkan, betapa repotnya mengurus 2 bayi. Meskipun salah satu akan Anda serahkan kepengurusannya pada pengasuh, tetap saja mereka berdua membutuhkan perhatian yang sama besar dari Anda. Akan lebih mudah jika anak pertama sudah bisa diajak berkomunikasi, cukup bisa mengurus dirinya sendiri, dan mampu mengemong adiknya.

Semoga bermanfaat.

9 Tanggapan to “Pentingnya merencanakan kehamilan”

  1. yuniyanto Says:

    kalau dalam islam yang saya pelajari, anak mempunyai hak menyusui pada ibunya selama dua tahun. Jadi selama dua tahun itu ASI menjadi hak penuh anak (anak tidak disapih sebelum dua tahun). Wallahu a’lam, tapi saya yakin itu sangat baik bagi si bayi.
    maka baiknya mengatur jarak kelahiran minimal adalah dua tahun sejak kelahiran p[ertama, sehingga bayi bisa maksimal pertumbuhannya. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan sebelum itu terjadi kelahiran lagi, itu pun tidak masalah.

  2. evicipluk Says:

    Wah, “ideal” sekali ya kalau kondisinya begitu. Tapi mungkin tidak semua orang bisa “beruntung” melalui itu semua pada saat tersebut. Ada banyak faktor yang membuat setiap orang tidak sama waktunya untuk memutuskan untuk berumah tangga. Seperti harus mampu untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga barunya nanti, tanpa harus (atau tidak bisa) minta sokongan pada ortu atau mertua. itu menurut pendapat saya sih..hihihi.šŸ˜›

  3. sanggita Says:

    To yunianto :
    Sepakat, mas. ASI adalah hak penuh anak. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menyusui anak pertama hingga 22 bulan.

    Insyaallah calon anak kedua ini juga karena saya mengalami langsung manfaatnya, antara lain : daya tahan tubuh anak lebih bagus daripada yang non ASI, daya tangkap, dan – yang utama – terjadi kedekatan emosional ibu anak yang tidak terbayar dengan apapun.

    To evi,
    Yang tertulis di atas adalah rencana waktu semester 4 dulu, vi. Kenyataannya banyak hal tidak terencana terjadi. Yang penting bagaimana menyikapinya dengan bijak.

    Tentu evi punya rencana yang paling pas untuk dirimu sendiri toh?

  4. Apa yang harus dilakukan di tahun pertama menikah « Sanggita Says:

    […] Kapan akan punya anak, berapa anak, berapa tahun jarak kelahirannya, siapa dokter untuk anak (jika diproyeksikan pada pengalaman pribadi kami : rencana tinggallah rencana. Kenyataannya, anak-anak muncul di rahim begitu saja […]

  5. mia Says:

    salam kenal mba..aku mia.hmm ak lg butuh penulis nih boleh minta nomor kontaknya ga? (HP)

  6. sanggita Says:

    Boleh, tapi japri aja ya, mbak mia. Minta no. hp mbak mia via e-mail : sanggita_psi_ugm@yahoo.com yak. TQ

  7. vays Says:

    salam kenal
    mbak sanggita hebat….
    kayaknya aku sebagai ibu muda mungkin sangatlah muda bisa belajar banyak dari mbak….

  8. Dewi Says:

    Salam kenal mba,

    aq dewi, aq udah 1 tahun menikah dan belum punya momongan. ada tips biar cepat hamil ga y?
    sekalian mba bisa kasih aq info tentang rumah sakit/bidan/dokter yang bagus untuk nanti cek kahamilannya juga y…
    oh ya juga biaya persalinnanya… he…..
    aq dapat info temanku kemarin melahirkan di Puskesmas biayanya cuma 800ribu, tapi info yg aq dapat lainnya k’lo di RS bersalin minimal 2-3jt.
    Apa service di Puskesmas tidak sebagus RS bersalin ya?
    trus bagusnya gimana y???
    Tak tunggu infonya y….
    thx

  9. faly Says:

    Salam kenal,mbak..
    Aku faly,,23 thn,insyaAllah bulan depan aku menikah. Calon suami ku juga 23 thn,en kita berdua baru tamat kuliah (blm kerja),, Kmaren calon ku blg dia ngusulkan untuk menunda punya anak dulu,,stidaknya 1 thn sampai kmi siap secara finansial dulu (punya kerja tetap).. Aku mw tanya mbak,Apakah punya anak d thn pertama pernikahan memang merepotkan dan menghabiskan banyak biaya? Dan apakah setelah punya anak itu kita tidak bs lg membeli barang2 yg kita inginkan karena semua biaya ke anak? Makasi jawabannya ya mbakkk..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: