Pilih mana : Perempuan berkarir atau ibu rumah tangga?

confuse“”Kadang capek juga BJJ*, aku pengennya resign, nyusul suami dan pure jadi ibu rumah tangga. Tapi kok baik ortuku maupun mertua pada nglarang yah…bingung aku…hehehe orang tua jaman sekarang yah malah ngedukung anak perempuannya buat berkarya.”

Nikmah, via e-mail

*Bebojoan Jarak Jauh

Perempuan zaman sekarang memang seolah didorong untuk bekerja di luar rumah. Bahkan ada kecenderungan merasa rendah diri ketika ia ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga dan menjalankan pekerjaan domestik.

Ketika anak pertama saya lahir, saya juga full mengurus dia dari bangun tidur hingga tidur lagi. Sampai saat si kecil merayakan ultahnya yang kedua, saya baru memutuskan untuk berkarir karena ingin merasakan kerja kantoran.

Pada awalnya saya sangat menikmati rutinitas bekerja 8-5. Rencana tahunan tersusun dengan rapi plus breakdown per bulan dan hariannya.

Sayangnya semua itu buyar. Baru memasuki bulan keempat bekerja, saya hamil anak kedua. Padahal, saya tidak merencanakan untuk hamil lagi hingga 5 tahun ke depan karena ingin berkonsentrasi di karir dan pengembangan potensi.

Berkaca pada pengalaman mengasuh dan mendidik anak pertama di bawah usia 2 tahun, saya ketakutan tidak bisa memberikan perhatian penuh jika bekerja kantoran. Hidup saya yang sudah dibeli perusahaan dengan gaji bulanan, tidak mungkin menggantikan waktu yang seharusnya untuk anak-anak.

Bingung, stress, dan kehilangan fokus. Hingga memasuki bulan ketiga kehamilan, saya merasa seperti zombie. Masuk kantor dan bekerja seadanya. Absen dari menulis – termasuk nge-blog dan bergaul di dunia virtual – serta mulai jarang membaca buku baru.

Hingga pada satu titik, saya pun berdamai dengan takdir. Saya belajar untuk tidak mencemaskan masa depan. Saya belajar untuk siap menghadapi apa pun.

Sambil menjalani yang ada, saya terus meminta petunjuk. Sepusing-pusingnya dan se-ngotot-ngototnya kita merencanakan sesuatu, sudah ada yang punya rencana untuk hidup kita juga kan. Jadi, kenapa tidak berjalan seiring dengan petunjukNya?

Kalau toh saya harus resign dari pekerjaan sekarang, kalau toh harus kehilangan salah satu sumber penghasilan keluarga, kalau toh harus pindah ke kota lain, asal itu jawaban dariNya, pasti saya jalani.

Menjalani dengan keyakinan penuh bahwa itu panggilan hidup. Saya kok yakin, ketika kita berani melepaskan diri dari keterikatan, hidup akan lebih tenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: