Kenapa saya jatuh cinta pada filsafat?

acropolisSaya berkenalan dengan filsafat ketika duduk di bangku kelas 3 SMA. Beberapa teman saya yang masuk golongan lempeng dot com selalu memperingatkan untuk tidak mendalami ilmu – yang menurut mereka – bisa menyesatkan ini.

Namun semakin dilarang, membuat saya semakin penasaran. Konsekuensi untuk dijauhi dan dianggap aneh oleh sahabat-sahabat saya waktu itu pun saya ambil.

Ternyata, berfilsafat mendorong kita untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak berbatas ini.

Berfilsafat juga berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya.

Orang skeptis biasanya berkata : sudah lebih dari dua ribu tahun orang berfilsafat namun selangkah pun dia tidak maju.

Memang.

Ah, paling tidak, berkenalan dengan filsafat membuat saya tidak mudah jatuh cinta dengan turut menyaksikan gebrakan jenius acara Superseleb, Supermama, hingga Next Star.

Filsafat membuat saya lebih dalam memaknai kehidupan.

PS :

misteri-soliter

sophie

Ada beberapa buku filsafat dengan bahasa ringan sehingga mudah dicerna dan enak dibaca : Dunia Sophie dan Misteri Soliter karya Jostein Gaarder serta Filsafat Ilmu karya Jujun S. Suriasumantri. Bapak sayalah yang merekomendasikan untuk membaca Filsafat Ilmu ketika saya masih SMA.

Peringatan :

Buku-buku Gaarder sudah cukup langka karena tidak ada cetak ulang.

5 Tanggapan to “Kenapa saya jatuh cinta pada filsafat?”

  1. pigikushi Says:

    sanggita is back!!hehehehe
    nice to read your thought again mbakyuu…..
    thanks buat diskusinyah yah..sedikit melegakan ketika ada yang mensupport ketika kebanyakan menghakimi..hehehe..
    wish u all the best yah bu!

  2. Resi Bismo Says:

    wah filsafat, agak berat bacanya, saya lebih suka artikel….

  3. Mas Kopdang Says:

    Mbak,
    ahli psikologi di Amrik, malah banyak yang jadi Tim Sukses Kandidat Presiden dan Pengamat Politik..
    Karena berhubungan dengan perilaku massa.

    Nah ahli psikologi di Indonesia apa isinya jago speakologi saja..?
    😆

  4. sanggita Says:

    Sebenarnya, ilmu psikologi luas sekali penerapannya, mas. Bisa ke politik, yayasan sosial, pendidikan, perkembangan (dari anak hingga lanjut usia), klinis/gangguan kejiwaan, masalah keluarga, dan keHRDan. Ini tergantung minat setiap orang ingin mendalami yang mana.

    Modal lulusan psikologi ya memang speakologi, mas. hehe.

  5. MAS Nanang Says:

    psikologi, yang pas tu’ analisa kondisi sosial sekarang, adalah psiko analisis milik Eric Fromm. bahwa kematian merupakan kesadaran personal yg ta’ dapat ditolak. didunia ni semua ga’ ada yg pasti, hanya kematianlah yang akan dialami semua yang hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: