What’s on HRD’s mind?

interview-pic1Seorang teman menulis dalam salah satu postingnya bahwa setelah 3 tahun lulus dari fakultas mentereng salah satu Big 5 universitas di Indonesia, dia telah pindah ke 3 perusahaan yang berbeda.

Fenomena seperti ini pun sering saya jumpai ketika mewawancarai orang. Ketika seorang kandidat mempunyai track record sering berpindah kerja (misalkan setiap 1-2 tahun pindah), tentu ada hal-hal yang harus digali. Karena perusahaan tidak menginginkan hal yang sama terjadi ketika meng-hire kandidat tersebut. Bukankah memperkerjakan orang juga merupakan cost?

Ada yang bertanya, salahkah pindah-pindah kerja? Untuk masa sekarang, hal tersebut memang tidak menjadi masalah seperti dulu – yang selalu mem-black list orang yang sering berpindah kerja sebagai kutu loncat. Karena ada pendapat bahwa bukan zamannya lagi loyal pada satu perusahaan, tapi lebih pada loyalitas terhadap profesi.

Nah, hal yang harus diklarifikasi oleh pewawancara adalah apa alasan kandidat tersebut hanya singgah sebentar di sebuah perusahaan, apa motivasinya. Pewawancara pun akan berasumsi apakah ia sering pindah kerja karena memiliki outstanding performance sehingga banyak diperebutkan perusahaan, ataukah justru karena lari dari masalah yang dihadapi.

Inilah yang akan dikejar oleh pewawancara hingga menemukan hot button atau alasan paling mendasar seseorang pindah. Penelusuran pun mungkin akan menggunakan pertanyaan-pertanyaan jebakan untuk menguji konsistensi jawaban si kandidat, selain juga dikonfirmasi dari hasil psikotes.

Salah satu pertanyaan yang pasti diajukan adalah pertanyaan tentang situasi perusahaan yang telah disinggahi sebelumnya. Bagaimana persepsi kandidat terhadap perusahaan terdahulu, masalah-masalah apa yang pernah ditemui (baik teknis maupun non-teknis, seperti hubungan dengan atasan dan rekan kerja), dan apa solusi yang dilakukan untuk menghadapi masalah tersebut.

Ada 3 peraturan yang harus diperhatikan ketika melakukan wawancara kerja :

Rule number 1 : Be upbeat and positive. Never be negative.

Jika seorang kandidat hanya memandang negatif semua perusahaan yang ditinggalkan, bukan tidak mungkin di tempat yang baru ia akan bersikap yang sama bukan? Karena yang bermasalah sebenarnya tidak pada perusahaannya terdahulu, tapi lebih ke mindset atau way of thinking kandidat tersebut. Pantas saja jika ia terus menemukan kekecewaaan dan lari dari masalah dengan mencari kerja di tempat lain.

Rule number 2 : Find out what people want, than show them how you can help them get it.

Setelah mengklarifikasi alasan kepindahan kerja, langkah selanjutnya adalah meyakinkan pewawancara bahwa si kandidat memenuhi kualifikasi kompetensi yang dibutuhkan untuk mengisi posisi yang ditawarkan. Sell what the buyer is buying. Jadi harus tahu dulu apa yang dicari pewawancara.

Rule number 3 : Be honest…Never lie.

Pewawancara tidak saja mendengarkan kata-kata yang disampaikan kandidat. Tapi ia juga akan mengobservasi kesesuaian ucapan dengan gerak tubuh. Bahasa non verbal seringkali dilakukan tanpa disadari. Tanda-tanda kebohongan dan ketidaknyamanan akan terdeteksi dari gerak tubuh, seperti tangan (misalkan ketika kandidat menjelaskan sesuatu, tiba-tiba tangannya menggaruk jidat atau telinga yang tidak gatal), kaki, bahkan arah bola mata dan kerutan dahi bisa mengidentifikasi kejujuran ucapan seseorang.

Semoga bermanfaat.

2 Tanggapan to “What’s on HRD’s mind?”

  1. HeLL-dA Says:

    😉
    Artikel yg sangat bermanfaat..!

  2. edratna Says:

    Kadang-kadang pencari kerja saling mencocokkan apa yang ditanyakan oleh pewawancara sebelumnya. Walau pertanyaan mungkin sama, diskusi bisa berbeda tergantung jawaban, gesture tubuh pelamar. Banyak hal yang menarik, karena kita harus memahami benar apakah kompetensi calon pelamar sesuai dengan perusahaan kita…ataukah terlalu tinggi? Jujur saja, setiap bidang tugas mempunyai kompetensi (baik hard maupun soft kompetensi yang berbeda-beda)…..dan untuk pelamar yang lebih tinggi daripada bidang tugas yang diperlukan, nantinya akan tidak sesuai….jadi memang harus match. Tidak diterima bukan berarti gagal, tetapi karena kompetensinya memang tidak match dengan bidang kerja yang lagi diperlukan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: