Membangun kelekatan ibu dan anak

Pernahkah kita berpikir kenapa manusia setelah dilahirkan memerlukan waktu lebih lama untuk bisa berjalan sendiri? Mengapa tidak seperti kambing, kuda, sapi, atau kerbau yang bisa berjalan sendiri begitu dilahirkan? Kenapa manusia berada dalam kandungan hanya 9 bulan, sedangkan hewan hingga 20-22 bulan? (Wih, lamanya…pernah ga ya hewan berpikir tentang itu? Hehehe)

Menurut Ibu Ratna Megawangi* dalam bukunya berjudul Yang Terbaik untuk Buah Hatiku, janin dalam kandungan adalah simbol penyatuan sempurna antara ibu dan anak. Dalam rahimlah janin mendapatkan perlindungan, kehangatan, dan kenyamanan total.

Kemudian, penyatuan sempurna ini dilanjutkan setelah anak dilahirkan. Artinya, anak di bawah satu tahun harus banyak didekap, dipeluk, digendong, diberikan kasih sayang, dan dilindungi oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, terutama oleh ibunya sendiri.

Sarana yang paling tepat untuk memberikan suasana penyatuan sempurna ini adalah melalui pemberian ASI. Dalam prosesi ini, anak tidak hanya mendapatkan gizi terbaik yang dibutuhkan tubuhnya, tetapi juga pelukan, kehangatan, dan kenyamanan. Anak akan merasa aman dan dicintai. Hasilnya, akan tumbuh rasa percaya pada ibunya.

Kelak ketika dewasa, anak akan mudah membangun hubungan harmonis berdasarkan rasa percaya (trust) dengan orang-orang di sekelilingnya.

Perasaan aman dan dicintai juga akan membuat hatinya lembut dan sensitif terhadap penderitaan orang lain (empati, simpati, dan toleran). Inilah yang disebut pribadi pro sosial.

Bukankah cinta yang membuat peradaban manusia menjadi terang benderang?

Jadi orang tua yang lebih bijak yuk.

*Ratna Megawangi adalah pendiri dan direktur eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF), sebuah yayasan yang bergerak dalam pengembangan model Character-based Holistic Education.

5 Tanggapan to “Membangun kelekatan ibu dan anak”

  1. edratna Says:

    Kata suamiku (rada iri karena anak-anak lebih dekat sama ibu)…”Terang aja bapak kalah, lha dalam kandungan 9 bulan…udah begitu masih menyusui…” Lha iya, si sulung menyusui sampai umur 2 tahun, si bungsu nggak sampai setahun, dia mudah bosan…atau mungkin lebih mudah pakai botol (maklum anak cewek)….kalau si sulung sampai dipijit hidungnya baru mau lepas…hehehe

  2. sanggita Says:

    Kerasa banget manfaat pengalaman menyusui ini, bu. Alhamdulillah saya menyusui si sulung sampai 22 bulan. Waktu usianya 24 bulan, saya ke Jakarta dan setiap weekend saya jenguk dia di Sukabumi. Pernah juga saya titipin sebulan karena tugas luar kota.

    Nah, setiap ada ibunya, maunya semua-mua sama ibu. Yang lain tidak ‘terpakai’. Seneng deh kalo melihat dia sedang bermain, terus tiba-tiba menghampiri saya dan memeluk. Ternyata – meskipun jarang bertemu – secara emosi dia tetap lekat sama ibunya.

    *Loh, malah jadi curhat nih.

  3. Mufti AM Says:

    Ya maklum sajalah, dalam tiga hal (mengandung, melahirkan dan menyusui) ibu memang lebih berperan sehingga secara psikologis anak lebih dekat dengan ibunya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, biasanya anak lebih takut pada bapaknya dan cenderung lebih nakal (ngeyel) kalo sama ibunya. Kok bisa begitu ya??

  4. sanggita Says:

    Yup, sepakat mas mufti.

    Memang anak jadi ngeyel sama ibunya kalau ibunya cuma memperingatkan tanpa tindakan tegas ya. Bisa juga karena terlalu sering dimarahi/dilarang, nah anak malah menjadi kebal/ngeyelan.

  5. aulia muttaqin Says:

    Kita orang tua hanyalah fasilitator untuk menghantar anak kekehidupannya. Kahlil Gibran menulis ; Anakmu bukanlah anakmu, anakmu adalah putra kehidupan.🙂, salam kenal ya mbak..! (amq)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: