Benarkah mendapatkan pekerjaan itu sulit?

Mbak, sudah setahun ini aku jobless. Selama itu juga aku udah masukin lamaran kesana sini. Tiap ada jobfair aku ikut, tiap ada lowongan di koran, aku masukin. Dari PNS sampai swasta. Dari perusahaan bonafid, sampai ecek-ecek (pelayan toko). Tapi semuanya nihil. Nggak lolos admin-lah, gagal di tes, bahkan udah sampai wawancara, gagal juga. Kalo dihitung udah puluhan kali, tapi kok gagal terus ya?
Adik kelas, via e-mail.

Ironis ya. Padahal selama bekerja di perusahaan sekarang, hampir setiap minggu saya melakukan tes seleksi untuk mengisi posisi-posisi yang kosong.

Belum lagi tim rekrutmen yang bergentayangan di Sumatra, Kalimantan, dan mengitari kota-kota di Jawa untuk mencari kandidat terbaik. Selain disebabkan kebutuhan perusahaan akan man power untuk tahun ini cukup tinggi (karena akan ada pembukaan project baru), perusahaan juga cukup kesulitan dalam memilih kandidat yang match dengan kualifikasi yang diminta.

Itu baru tempat saya. Jika diamati, selalu ada iklan lowongan kerja kok:
– Koran, seperti kompas sabtu-minggu dan koran-koran lokal.
– Internet. Lihat saja di JobsDB, Jobstreet, dan Karir.com. Biasanya di situs-situs resmi perusahaan juga mengumumkan jika memang ada job vacancy. Belum lagi pertukaran informasi dari milis.
– Papan pengumuman bagian kemahasiswaan dan alumni, misalnya iklan lowongan kerja di UGM ditempelkan di gedung rektorat lantai 1 sayap utara.
– Bursa kerja atau jobfair yang diadakan depnaker maupun institusi seperti kampus.

FYI, sewaktu masih menjadi jobseeker, saya juga membutuhkan waktu satu tahun setelah kelulusan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan minat saya lho. Ada beberapa pembelajaran selama proses itu yang akan saya share di sini :

1. Ubah mindset
Waktu itu, saya juga sempat minder. Lulusan psikologi universitas negeri dengan IPK cukup kompetitif kok susah dapat pekerjaan ya. Apalagi saya juga aktif di kegiatan kemahasiswaan.

Saya pun mulai menyalahkan keadaan, menyesali pilihan-pilihan yang pernah saya buat. Misalnya, seandainya dulu saya lebih fokus ke psikologi industri, pasti lebih mudah lolos psikotes karena paham trik-triknya. Seandainya dulu tidak memilih untuk menikah sambil kuliah, pasti lebih mudah mendapat pekerjaan karena biasanya perusahaan memilih yang berstatus single untuk fresh grad.

Belum lagi ungkapan-ungkapan negatif dari keluarga sendiri bahwa terlalu idealis-lah, terlalu pilih-pilih pekerjaan-lah, sampai membuat saya sering uring-uringan sendiri.

Tapi kemudian saya sadar bahwa minder, menyalahkan keadaan, dan mendengarkan opini-opini negatif tidak membantu memecahkan permasalahan saya sama sekali. Saya harus mampu menggunakan apa yang saya miliki sekarang sebagai kekuatan, bukan hambatan.

Setelah berada di state yang tepat, step kedua yang saya lakukan adalah…

2. Pertajam visi
Pertanyaan yang cukup menyengat dari buku The Secret adalah apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup? Seringkali kita hanya menjalani hidup mengalir begitu saja, tanpa tahu apa tujuan akhirnya. Dalam buku 7 Habits pun, Covey memaparkan bahwa orang yang efektif selalu memulai dari yang akhir.

Saya pun mulai membuat dreambook. Buku berisi gambar-gambar yang mewakili apa saja yang saya ingin capai jika mendapat jatah umur panjang. Setiap saya tidak bersemangat, saya lihat buku itu, memvisualisasikan dan merasakan bahwa yang saya inginkan sudah terjadi.

Saya belajar banyak dari seorang master NLP/Neuro-Linguistic Programming, International Certified Hypnoterapist, sekaligus trainer Law of Attraction yang sangat mumpuni di sini. Beliau sangat murah hati membagi ilmunya secara gratis lho.

3. Perluas wawasan
Bangun kebiasaan membaca dan optimalkan penggunaan internet untuk mencari tahu hal-hal baru. Pelajari cara-cara berkomunikasi, bernegosiasi dan persuasi secara langsung dari orang yang ahli yang ada di sekitar, jangan sekedar dari buku-buku panduan.

Sewaktu saya menyadari minimnya wawasan tentang psikologi industri, saya belajar aplikasi ilmu psikologi di bidang industri antara lain dari situs portalhr, e-psikologi, dan Jakarta Consulting Group. Konsep teoritis dari buku-buku diktat memang bermanfaat, tapi studi kasus yang dipaparkan dari situs-situs tersebut sangat membantu saya ketika menghadapi wawancara kerja.

Blog walking pun mampu memperluas wawasan. Siapa sih blogger yang tidak mengenal Anjar Priandoyo? Alumni Ilkom UGM yang sekarang bekerja di Ernst and Young ini banyak membahas tentang perbandingan gaji, menyajikan informasi-informasi paling sensitif di dunia kerja, dan turut membantu dalam proses pengambilan keputusan.

4. Silaturahmi membawa rezeki
Pak Roni Yuzirman – founder komunitas Tangan di Atas selalu mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi. Bisnisnya menjadi sebesar sekarang juga karena prinsip ini.

Untuk para jobseeker, coba optimalkan daftar nama di handphone. Jaga komunikasi dengan teman-teman. Tidak hanya yang satu angkatan, kakak angkatan juga. Ikuti milis. Misalnya psikologi UGM ada psikogama at yahoogroups dot com. Dari sana kita bisa saling bertukar informasi, termasuk lowongan kerja lho.

5. Evaluasi strategi
Setelah dinyatakan lulus kuliah, saya sempat sakit sehingga harus bedrest selama satu bulan penuh di Solo. Oleh karena itu, saya terputus dari dunia kampus dan tidak tahu bagaimana menjadi jobseeker yang efektif.

Bayangkan, saya sampai harus mengirim 52 lamaran via pos dari iklan di koran, pengumuman yang terpampang di kantor pos maupun depnaker, belum lagi yang via e-mail.

Ternyata, saya belum mampu membuat CV yang menjual – yang merupakan syarat awal agar nama kita dihubungi oleh pihak HRD untuk proses selanjutnya.

Kemudian saya mulai rajin mendatangi papan pengumuman lowongan kerja di rektorat kampus. Biasanya, lamaran dititipkan ke bagian kemahasiswaan dan alumni, kemudian diumumkan beberapa hari kemudian. Ternyata cara ini cukup efektif. Setiap lamaran yang saya masukkan, pasti lolos administrasi dan bisa mengikuti psikotes.

Tahap selanjutnya adalah memahami psikotes sehingga bisa lolos ke tahap selanjutnya. Kebetulan saya punya teman yang memiliki konsultan psikologi. Saya belajar tentang psikotes dan trik-trik menghadapi wawancara dari sana.

Itu untuk yang fresh grad. Bagi yang experience, di sini ada bocoran bagaimana supaya headhunter dapat menemukan Anda dengan mudah.

6. Tidak ada alasan untuk berhenti mencari
Menurut direktur dan pendiri Experd Eileen Rachman, yang menulis buku Jadi Nomor Satu: Terdepan di Era Persaingan, profesional yang berhasil adalah mereka yang meyakini bahwa tanggung jawab untuk masa depan dan pengembangan karier ada di tangan dirinya sendiri.

Sewaktu saya sudah hampir menyerah, suami saya terus men-support. Katanya, jika terus mencari, kemungkinannya ada dua : lolos dan gagal. Kalau berhenti mencari, ya pasti tidak dapat apa-apa. Logis kan.

Kata Aa Gym dalam salah satu ceramahnya, kita sebenarnya hanya bertugas menjemput rezeki. Kalau istilahnya menjemput, berarti rezekinya sudah ada kan? Tinggal usaha dan kemauan kita saja untuk mengambilnya.

10 Tanggapan to “Benarkah mendapatkan pekerjaan itu sulit?”

  1. Muhammad Mufti Says:

    Betul mbak, saya yakin diantara sekian ribu lowongan kerja itu pasti ada satu celah yang bisa kita masuki. Thomas Alfa Edison aja baru bisa sukses dengan penemuannya setelah bereksperimen seribu kali.

  2. Haryo Says:

    Satu yang mau saya tambahkan, Mbak Sanggita; selalu ingat bahwa kita pasti punya passion pada satu hal tertentu.

    Bekerja akan menjadi lebih ringan dan menyenangkan kalau kita menekuni pekerjaan yang merupakan passion kita, jadi saran saya: try to find your passion… and then try to find the job that match with your passion

    Biasanya strategi seperti itu juga akan mempermudah untuk mempersempit (sekaligus mempertajam) fokus bidang pekerjaan yang akan kita lamar.

  3. fnoor Says:

    Mencari pekerjaan itu bisa diibaratkan spt mencari pasangan. Kalau mmg “jodohnya” ya dapat, begitu pula sebaliknya🙂. Salam kenal aja ya…

  4. Wahyu Purnomo Says:

    Salam kenal Mbak…..,

    Good post yach….,

    tapi yang pasti Don’t stop tryin kali ya….., dan sering-sering introspeksi diri, anyway karena menurut saya Perusahaan sekarang lebih melihat Attitude, & EQ orang dalam menerima karyawan, yang lainnya saya kira bisa menyusul, kecuali untuk bidang2 kerja yang butuh skill khusus kali ya…

  5. sanggita Says:

    Salam kenal juga (mas or mbak?) fnoor…

    @Muhammad Mufti,
    Yup, sepakat, Mas. Nah, yang sulit itu menyemangati diri sendiri ketika sudah down banget karena ga dapet-dapet *Hehe, ngalamin sendiri soalnya*

    @Wahyu Purnomo,
    Bagaimanapun pertimbangan terhadap EQ, IQ, attitude, dan kemampuan teknis calon pekerja tidak bisa dipisahkan ya. Salam kenal juga…

    Terimakasih, Mas Haryo. Wah, sudah ditambahin oleh senior nih. Jadi tambah ilmu lagi.

  6. edratna Says:

    Mencari pekerjaan adalah susah-susah gampang, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan bagi diri sendiri. Betul, saat ini banyak sekali lowongan kerja, namun perusahaan sulit mencari pekerja yang match dengan kebutuhan perusahaan….karena tak semua perusahaan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

  7. yanti Says:

    huahauha…..tulisan yang sangat mengena di hati….skrng aku ngalamin juga mbak…nganggur 4 bulan setlah bekerja selama 5 tahun…*ternyata gak enak ya..:((*

    ada info lowongan nggak mbak??😛

  8. sanggita Says:

    @Edratna,
    Sepakat banget bu Enny. Yang penting juga, kita memang harus selalu meningkatkan daya saing ya.

    @Yanti,
    Wah, kalo sudah experience 5 tahun, logikanya sih lebih mudah mendapat pekerjaan. Info lowongan sih ada, mbak. Tapi kan saya tidak tahu kualifikasi Anda. Coba deh e-mail CVnya. Posisi di Jakarta kan?

  9. Rudy Says:

    yup..
    aku setuju sama apa yang di tulis oleh Anda..
    usaha, kerja keras n berdoa..
    jika ada kemauan pasti ada jalan..
    segala sesuatu d mulai dari diri kita sendiri..
    jangan pernah menyalahkan..
    berani mencoba dan jangan takut gagal..
    berusaha tuk lebih baik lagi dan lagi..
    teruslah bermimpi, wujudkanlah mimpi itu..

    “Keep your dreams alive. Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe.”

    Salam kenal..

  10. bungnoer Says:

    salam kenal mbak, tulisannya menginspirasi..

    sekarang giliran saya yg lagi jobseeker..hehe.. baru satu bulan wisuda nih.. hmm, mohon doanya ya..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: