Bagaimana berdamai dengan tuntutan sosial

man-playing-chess_731038511

Setiap orang pasti memiliki masalah. Masalah terjadi karena ada kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan yang terjadi. Semakin bertambah usia seseorang, tuntutan pun semakin besar.

Ketika masih sekolah, meskipun kebutuhan hidup masih dipenuhi oleh orang tua, selalu saja ada tuntutan untuk memberikan performa terbaik di sekolah.

Memasuki dunia perkuliahan – meskipun juga masih disupport orangtua – dituntut untuk mandiri, berani mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atasnya.

Masa akhir kuliah, kekhawatiran akan kepastian masa depan mulai muncul. Kepastian apakah akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan, minat, bakat, dan cita-cita. Tapi tetap harus mampu keluar dari zona nyaman dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan sendiri.

Kuliah selesai. Mendapat pekerjaan yang match lahir batin. Masih juga dituntut, ‘Kapan menikah? Sudah saatnya lho. Kuliah selesai, kerjaan mapan, kurang apa?’

Ada cerita lucu. Waktu saya kuliah semester akhir, teman-teman SMA mengusulkan untuk mengadakan reuni kecil (hanya 20an orang yang datang), sekalian dengan halal bi halal karena bertepatan dengan liburan lebaran.

Sahabat dekat saya – perempuan, waktu itu juga masih kuliah di fakultas kedokteran – bersikukuh untuk tidak menghadiri acara tersebut. “Tidak pede”, katanya. Teman-teman yang lain pasti sudah pada lulus. Tidak sedikit pula yang mulai kelihatan jodohnya.

Saya bilang, “Datang aja. Kalo mendengarkan tuntutan sosial, tidak akan ada habisnya. Masih kuliah, dikejar-kejar untuk selesai. Kuliah selesai, rasanya malu kalo nganggur. Dapat pekerjaan, ditanyain kapan nikah. Udah nikah, ditanya kapan punya anak. Gitu terus.”

“Yang bisa kita lakukan adalah melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama kita tahu bahwa we’re on the right track, just do what have to be done whether you like it or not. Saat ini, yang harus kamu lakukan adalah beresin kuliah, ya udah beresin aja. Suka atau tidak. Selama kamu tahu setelah lulus kamu mau ngapain. Masalah jodoh, kan sudah ada yang mengatur. Asal kamu proaktif aja biar jodohnya ga di tangan Tuhan terus,” sambung saya.

Akhirnya, sahabat saya bersedia menghadiri acara tersebut.

Sebenarnya saat itu saya juga sedang mengingatkan diri sendiri. Seringkali kita terlalu memikirkan apa kata orang terhadap hidup yang sedang kita jalani.

Saya juga hobi membuat drama sendiri di pikiran. Masalahnya, lebih sering drama negatif daripada positif. Yang akhirnya membuat saya lupa bahwa apa yang saya inginkan akan terlihat hasilnya melalui hal-hal kecil yang saya lakukan mulai saat itu juga.

Pada intinya, fokus saja pada yang kita inginkan. Daripada cemas karena memikirkan hal terburuk, bayangkan saja hal-hal terbaik yang mungkin terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: