Seni melarang anak dengan bijak

boy-7-8-watering_hhf01615“Wimaaa…ya Allah, jangan maen air! Nanti basah!”, teriak orang rumah waktu melihat anak saya bermain air di kran samping rumah. Atau di saat lain, “Wima! Jangan lempar-lempar mainan! Nanti kena lampu!”

Seringkali saya dibuat gemas oleh perilaku anak saya itu. Baru ditinggal ke toilet, mainan yang sudah dirapikan jadi bersebaran lagi. Baru ditinggal sholat, langsung terdengar teriakan wima dengan sepupunya karena berebut mainan. Dasar bocah. Ampun deh.

Biasanya, orang tua menggunakan kata jangan untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai. Cara itu pun diwariskan turun temurun. Dari nenek diwariskan ke ibu, dari ibu diwariskan ke kita, kemudian kita menggunakan cara yang sama untuk mengendalikan perilaku anak. Tapi efektifkah cara itu?

Dari mengamati lingkungan sekitar dan hampir 3 tahun ini mengasuh anak, ternyata semakin keras kita membentak, anak tetap saja mengulang perilakunya.

Kadang dengan membentak, si anak memang akan menghentikan perilakunya, tapi bukankah kekerasan verbal kita akan menyakiti perasaan bocah polos itu?

Rumusnya sederhana kok : Tanya alasan anak kenapa melakukan perilaku tertentu – Jelaskan kenapa tidak boleh – Beri alternatif kegiatan.

  • Bertanya kenapa anak melakukan sesuatu menunjukkan bahwa kita perhatian dengan aktivitas anak. Kita bersedia memahami perasaan senang anak terhadap permainannya. Ini disebut dengan validating emotion, yaitu kemampuan untuk membaca, menyimpulkan, dan merasakan perasaan orang lain.

Bukankah anak melakukan sesuatu berdasarkan senang-tidak senang? Barulah dari lingkungannya – terutama orangtua – anak belajar mengendalikan perilakunya.

Misalnya, waktu melihat anak asyik bermain pasir. Daripada langsung melarang, dekati saja dan tanyakan sedang apa. Tunjukkan ketertarikan kita dengan kesibukan si anak.

  • Tujuan kita melarang anak adalah supaya ia memahami konsekuensi dari perilakunya. Jadi, kenapa tidak membuat kalimat yang lebih positif?

Seperti kasus anak bermain pasir. Jika serta merta melarang, tentu anak akan bingung karena tidak mengerti. Yang dia pahami, bermain pasir itu menyenangkan lho. Katakan saja, “Nak, di dalam pasir ada cacing dan kumannya lho. Tuh lihat kukunya. Hitam-hitam kan? Nanti bisa masuk perut, trus sakit deh perutnya.”

  • Memberi alternatif kegiatan tujuannya agar tidak membuat anak bingung harus melakukan kegiatan apa. Misalnya, “Nak, daripada main pasir, masuk yuk. Kita mewarnai mobil-mobilan.”

Yang juga perlu diingat, tegur perilakunya, tapi bukan pribadinya seperti membuat labelling (contoh : dasar anak nakal, anak susah diatur). Hal itu hanya akan menyinggung harga dirinya.

Sekarang, apa yang Anda lakukan jika menemui kasus berikut ini?

Daftar kenakalan anak : Main air. Main pasir. Melempar setiap barang yang ditemui. Menendang. Mengacak-acak barang yang sudah dirapikan. Rebutan mainan. Bermain ludah. Lari-lari di dalam rumah.  Memanjat lemari. Bermain korek api. Tidak mau mandi. Susah makan. Hmmm…banyak juga ya.

Well, seandainya perilaku si anak tidak juga berubah, bagaimana? Ya kuat-kuatan saja.

Jika anak tetap melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, ya kita persisten saja mengingatkan dengan sabar. Dibentak, si anak tetap mengulang perilakunya; tidak dibentak juga tetap melakukan perilakunya. Mending tidak membentak kan? Daripada capek dua kali.

Mudah dituliskan, tapi tidak mudah dilaksanakan. Kalo wima kebangetan, saya gigit saja pipi gembilnya. Waktu melihat dia tertawa, jadi lupa dengan kejengkelan dan kemarahan saya sendiri, hehe.

Yang penting, komitmen kita sebagai orang tua untuk tidak membesarkan anak dengan membuat luka akibat pertempuran-pertempuran kecil. Mari kita asuh dan didik anak dengan lebih bijak, buat anak merasa aman, dicintai, dan dihargai. Agar kelak ia menjadi pribadi yang percaya diri, dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

Baca juga :
Bagaimana berperilaku di depan balita Anda
Darimana balita belajar
Kompetensi balita usia 1,5-2 tahun

6 Tanggapan to “Seni melarang anak dengan bijak”

  1. edratna Says:

    Anak kecil belum memahami mengapa ini boleh dan mengapa itu tidak. Perlu kerjasama antara ibu dan lingkungan sekitar dengan anak, ajak mengobrol dan jelaskan dengan bahasa anak-anak. Dan yang paling penting, beri contoh….

  2. rhadhia Says:

    Setuju…mbak, anak-anak punya daya imajinasi dan kreatifitas yang tinggi, kadang apa yang kita bayangkan belum tentu sama dengan yang kita pikirkan, menggunakan kata “jangan” bisa saja menghentikan kreatifitas en imajinasi mereka..

  3. sanggita Says:

    @Edratna,
    Wah, terimakasih tambahannya, bu Enny. Harus lebih banyak belajar dari yang lebih berpengalaman ni..

    @Rhadhia,
    Itu dia, mbak. Saya menulis ini karena prihatin, banyak ibu-ibu sekitar saya yang masih suka main larang dan marah-marah ke anaknya. Semoga generasi kita bisa lebih bijak mengasuh anak ya.

  4. dwiprayogo Says:

    namanya juga anak-anak…..

  5. ekojuli Says:

    Mencari Cara Mengasuh anak Tanpa Memarahi, apalagi dengan kekerasan:

    klik: Mencoba Mempraktekkan Reward & Punisment pada Anak

  6. bundarazan Says:

    sebenarnya maksud2 ibu2 sekarang yg adik maksud itu baik dik, hanya mereka mungkin belum tau cara yang tepat dan efektif bagaimana cara melarang yg nyikologis itu? makanya kenapqa orang tua perlu sekali “sekolah”? karena seni mengasuh anak itu memnag ga akan ada habisnya… la wong setiap anak itu berbeda je.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: