Memilih dengan hati

businesswoman-crossroads-deciding_bon0615Bagi saya, memilih adalah hal yang mudah. Saya merasa tidak perlu membandingkan kelebihan kekurangan, analisis sana sini, dan memikirkan hal-hal memusingkan lainnya. Saya yakin saja dengan pilihan hati dan pasti menjalani pilihan saya dengan penuh syukur.

Jika diruntut, kemampuan ini muncul sejak kecil. Misalnya :
Lulus SD, saya bilang ke orangtua, saya ingin masuk SLTPN 19 Solo. Menurut guru dan orangtua, dengan hasil belajar saya yang mendapat nilai tinggi, saya lebih layak masuk ke SLTP paling favorit di Solo. Tapi saya tetap kekeuh. Dan alhamdulillah saya tetap bisa mempertahankan prestasi di sekolah tersebut.

Setelah lulus SLTP, saya memilih SMAN 1 Solo. Pilihan ini pun tanpa membandingkan dengan sekolah lain. Pokoknya SMAN 1. Titik. Bahkan saya tidak tahu bentuk gedungnya seperti apa. Tapi saya sangat bersyukur masa remaja dihabiskan di sana.

Menjelang akhir SMA, ketika teman-teman yang lain bingung menentukan pilihan masuk fakultas apa, saya mantap memilih psikologi. Saya pun mengambil jalur IPC supaya kemungkinan masuk psikologi lebih besar karena pilihan menjadi 3. Pilihan 1 : Psikologi UGM (jalur IPS), pilihan 2 : Psikologi UNAIR (jalur IPS), pilihan 3 : Psikologi UNDIP (jalur IPA). Untuk cadangan, saya mengambil Psikologi UMS.

Dan buat saya, masa kuliah di Psikologi UGM adalah saat-saat terbaik dalam hidup saya.

Untuk memilih pasangan hidup pun saya tidak perlu berpetualang cinta. Kenal karena sama-sama aktivis pers mahasiswa, cocok, dikenalkan ke orangtua, mengajukan proposal menikah, tidak lama kemudian menikah.

Sayang, sejak itu, saya menjadi kesulitan mengambil pilihan lagi. Misalnya, saat memutuskan untuk berkarir, bingung memilih di kota mana. Apakah Solo, Jogja, Sukabumi, atau Jakarta. Sepertinya terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Analisis SWOT-lah, manajemen resiko-lah. Rasanya terlalu kompleks.

Dan sekarang pun saya dihadapkan pada pilihan. Di satu sisi, saya merasa beruntung karena termasuk golongan orang yang memiliki keleluasaan untuk memilih. Tapi di sisi lain, jadi merasa : ternyata tidak mudah ya menjadi orang dewasa?

Mungkin karena setiap pilihan yang diambil sekarang akan berdampak pada lebih banyak orang. Ada perasaan untuk bertanggung jawab terhadap risiko dari setiap keputusan.

Ah, memang lebih mudah memilih dengan intuisi. Saya pun harus belajar untuk lebih berserah diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: