Menjadi ibu seutuhnya

Tiga minggu saya tidak posting satu tulisan pun. Satu minggu sebelum cuti bersama, saya full fokus pada kantor. Ada beberapa hal yang harus dibereskan karena saya sekalian mengambil cuti melahirkan. Bayangkan, per tanggal 26 September kemarin hingga 6 Januari tahun depan, saya bakal off dari kantor dan – suatu kemewahan bagi saya – mengurus anak sulung dan suami 24 jam. Wow!

Nah, inilah kegiatan saya sehari-hari dua minggu terakhir: bermain dengan anak.

Gambar 1 : Role-play bayi-bayian dengan membedong wima (niatnya sih untuk mempersiapkan dia menyambut si dedek).

Gambar 2 dan 4 : Terlihat kan kenapa saya susah sekali online? Yup, laptop dan komputer di rumah seringkali di-kudeta olehnya. Kurang ngerti juga kenapa juga musti pakai helm sambil nge-game yak?

Gambar 3 : Niatnya mau jadi superman, tapi kok malah mirip kabayan to ki?

Gambar 5 : Sesekali biarin saja main panjat-panjatan. Asal diberi pengertian bahwa memanjat hanya boleh dilakukan jika ada yang menjaga dirinya. Balita usia 3 tahun sudah bisa diberi pengertian kok.

Gambar 6 : Ini yang seringkali membuat jengkel orangtua : anak bermain kotor-kotoran. Ceritanya, wima menemukan bedak yang sudah tidak pernah dipakai. Langsung deh ditaburkan di lantai. Waktu ditegur, dia menjelaskan sedang membuat debu. “Tuh, bu. Ada debu-debunya kan?”, katanya. Jadilah bedak itu bertaburan tidak karuan di baju dan kulitnya.

Yang paling penting, ajarkan anak untuk membereskan dan membersihkan hasil kejahatan dia saja, hehe.

*yang sedang curi-curi waktu untuk nge-blog lagi

2 Tanggapan to “Menjadi ibu seutuhnya”

  1. edratna Says:

    Duhh asyiknya…betapa senangnya Wima.
    Si sulung perlu dipersiapkan untuk menerima kedatangan adik baru, agar tak iri. Sudahkan menyiapkan hadiah-hadiah buat si sulung…bungkus dalam kertas kado, simpan. Jika nanti adik lahir, dan banyak tamu yang memberi hadiah khusus hanya untuk si adik, ibu bisa mengambil hadiah yang di simpan, dan diberikan pada kakak…dengan ucapan…ini untuk kakak, yang tadi untuk adik.

    Sulungku dulu sempat menjadi pendiam, termenung di bawah pohon, untung cepat ketahuan, sejak itu saya hanya meneteki adiknya, setelah selesai segera diberikan pada suami atau si mbak…dan ibu tetap momong si sulung…sambil berusaha menjelaskan pada si kakak, betapa senangnya punya adik…..
    Mudah2an tak ada gejolak berarti penerimaan si sulung terhadap adik barunya (walau sudah dipersiapkan , harus diingat tetap ada rasa cemburu lho…ini yang perlu disikapi dengan hati-hati)

  2. Mencegah sibling rivalry sejak dini « Sanggita Says:

    […] Bu Enny, dalam salah satu comment […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: