Akhirnya baca Rectoverso juga

RV pic

RV pic

Judul : Recto Verso

Penulis : Dee/ Dewi Lestari

Penerbit : Goodfaith Production

Cetakan : I, Juli 2008

Tebal : XIV + 148 halaman

Harga buku : Rp 67.500,00 (online) atau Rp 75.000,00 (toko buku)

Harga CD : Rp 49.500,00 (online) atau Rp 55.000,00 (toko kaset/CD)

Hampir tiga bulan saya menunggu momen ini : menikmati Rectoverso. Sebagaimana terhadap karya-karya sebelumnya, saya selalu terpukau dengan kepiawaian Dee merangkai kata-kata indah tanpa meninggalkan kedalaman kisah. Dee adalah jawara untuk hal yang satu ini.

Bukan itu saja, untuk menikmati kisah dalam buku Rectoverso, harus dipadu dengan mendengarkan musik dalam CDnya. Pun untuk menikmati musiknya, harus melebur dengan ceritanya.

Karena ini bukan cerita ber-soundtrack. Tapi bagaimana dua karya yang secara wujud terpisah mampu tampil dalam satu wajah.

Itulah filosofi Rectoverso, yang didefinisikan ulang oleh Dee sebagai dua citra yang saling melengkapi tetapi juga bisa terlihat berpisah secara bersamaan.

Bahkan demi mendapatkan suasana dan memperdalam penjiwaan dalam menikmati Rectoverso ini, saya meluangkan waktu khusus dan tidak mau diganggu hingga saya selesai membaca buku serta mendengarkan musiknya sekaligus.

Meskipun lama baca hanya memakan waktu satu jam, kisah-kisahnya selalu hidup dalam pikiran saya, sebagaimana tentang Diva, Bodhi, dan Elektra dalam Supernova. Musiknya? Selalu di jajaran teratas playlist saya, menggantikan musik classic yang biasanya saya putar untuk anak-anak.

Di setiap judulnya, saya merasa seperti bercermin, diingatkan, turut merasakan kesedihan, hingga turut gembira. Perasaan saya dipermainkan hanya dalam satu jam itu.

Seperti dalam kisah Tidur yang bercerita tentang seorang wanita karir dengan dua anak balita dan harus menjadi “ibu tega nian” karena pergi ke luar negeri selama 2 tahun demi panggilan pekerjaan. Berikut potongan tulisannya :

“Mereka adalah martir keluarga dan martir bagi diri sendiri. Demi penghidupan yang lebih layak. Demi jaminan pendidikan anak-anak mereka kelak. Demi aktualisasi diri. Demi ambisi pribadi. Serta sekian banyak demi yang lain, mereka memutuskan untuk menjadi pencari nafkah. Mereka mengeluhkan kecemburuan pada ibu-ibu lain yang memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda. Sekaligus merasa tak berdaya karena terlanjur biasa dan suka. Itulah jalan terbaik yang bisa mereka ambil.”

Cerita favorit saya yang lain adalah Peluk, Grow a Day Older, dan Back to Heaven’s Light. Karena ketiga kisah tersebut sama-sama bertema komitmen cinta meski dalam konteks yang berbeda.

Masih ada tujuh kisah lain yang khas gaya Dee : reflektif, dramatis (baca Firasat dan Cicak di Dinding), dan obsesif pada hal-hal kecil (seperti di kisah Curhat Buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Selamat Ulang Tahun, Aku Ada, dan Hanya Isyarat).

Bagaimanapun, Dee sudah mewanti-wanti untuk membaca karya ini dengan hati. Nikmati saja perjalanannya. Tanpa pretensi maupun ekspektasi apa-apa. Biarkan setiap kata dan nada bersenyawa dengan sel-sel otak Anda.

Anyway, selamat untuk Dee yang telah melahirkan karya kembar yang luar biasa ini.

5 Tanggapan to “Akhirnya baca Rectoverso juga”

  1. Bundanya Dita Says:

    Salam kenal mbak Sanggita.
    Baca postingan ttg buku terbaru Dee ini jadi tersadar nih kalau sudah lama aku gak menikmati buku-buku sastra. Tersibukkan dengan hamil, melahirkan dan memberi ASIX. Alasan!🙂 Dee juga tms penulis fav ku, selain Andrea Hirata dan Seno GA. Aku tidak pernah bisa menikmati karya Fira Basuki, yang menurutku “terlalu ngepop”.
    Soal buku sastra, baru semalam mulai baca Maryamah Karpov nya AH. Karena buku ini “rebutan baca” dengan suami, sepertinya harus beli Recto Verso nih, sdh kangen dengan tulisan Dee🙂 .
    Anyway, blog nya aku link ya mbak.

  2. sanggita Says:

    Huhuy! Sama donk, mbak. Untuk karya Fira Basuki, buat saya juga cukup sekali baca. Alias, minjem pun tak apa. Tapi buku-buku Dee atau SGA memang musti ada di koleksi perpustakaan keluarga ya.

    Monggo aja kalo mau nge-link…

  3. Semalam untuk selamanya « Sanggita Says:

    […] Kesan saya setelah menikmati RectoVerso […]

  4. Dewi Says:

    Wah, mbak Sanggita ngefans bueraaat ma Dee ya??

    Saya juga ngefans🙂.

    Tapi, saya juga penggemar beratnya FirBas loh. Meskipun lebih ngepop, tapi karyanya juga ‘cerdas’ kok. Setidaknya lebih nyambung bacanya daripada karyanya Ayu Utami atau Djenar. Hehehe2.

    Met Kenal, mbak.
    Makasih atas saran2′ Kriteria Suami Ideal’ nya di blognya mas Anjar😉

    Emang nge-fans sih, Dew. Tapi pengennya (kalo bisa) kelak sahabatan aja. Lebih tidak berjarak. Saya juga baca kok karya FirBas (tuh, blognya saya link), Djenar, dan Ayu Utami. Tapi kok kebetulan lebih sreg mengikuti karya Dee saja. Mungkin karena ngga ada ‘adegan ranjang’nya kali ya. Hmm, selera memang tidak bisa diperdebatkan.

    Haha, itu sih bukan saran, say. Tapi curhat dan pamer…Salam ken(y)al juga deh

  5. seli_usel Says:

    . asyik dong kalau sudah baca nya ..

    . jadi pengen juga baca ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: