Pentingnya memahami hidden need orang lain

interview-pic-2Di balik proses bisnis yang dinamis, selalu muncul riak-riak konflik yang jika dibiarkan begitu saja, akan mengganggu harmonisitas dan produktivitas kerja.

Oleh karena itu, dibutuhkan orang-orang yang mampu menjadi katalis untuk mendapatkan mutualisme yang optimal di antara pihak yang berkonflik.

Jadi ingat pada mantan manajer HRD saya, sebut saja Mr. Y. Beliau adalah orang yang mumpuni dalam memahami dan mempengaruhi orang lain. Usianya baru memasuki kepala tiga, namun sangat berwibawa dan bijaksana. Hingga saat ini pun, saya sangat respect dengan beliau meski tidak dalam satu perusahaan lagi.

Ceritanya, setelah jam kerja, saya meminta waktunya sebentar. Beliaupun mengiyakan dengan sangat ramah. Saat itu, ada 2 hal yang saya konsultasikan padanya, yaitu tentang permasalahan hubungan saya dengan salah satu rekan kerja dan masa depan karir di perusahaan.

Beliau mendengarkan kata-kata yang saya ucapkan sekaligus ‘menghapusnya’ dengan melakukan short cut dan menelisik hidden need saya.

Wah, rasanya gentar juga setelah sekitar 45 menit saya curhat ngalor ngidul, berbicara berputar-putar, beliau merespon dan menyimpulkan apa yang saya harapkan dengan sangat tepat. Sehingga alternatif solusi yang beliau tawarkan pas sasaran. Saya jarang menemukan orang tipe seperti itu, bahkan di lingkungan psikologi sendiri.

Saat proses konseling, beliau sama sekali tidak menghakimi apakah pemikiran saya benar atau salah. Hal tersebut membuat saya merasa dihargai dan merasa aman meneruskan pembicaraan.

Beside that, beliau juga tidak memotong curhat saya dengan memberi instruksi bahwa seharusnya saya melakukan ini atau itu, layaknya atasan-atasan pada umumnya.

Beliau hanya menjadi pemantik dengan melontarkan kalimat tanya seperti ‘kenapa?’ dan ‘bagaimana?’ sehingga timbul insight dari dalam diri saya sendiri. Dan ini sangat efektif.

Terakhir, beliau menyimpulkan kebutuhan dan harapan tersembunyi saya dan memberikan alternatif solusi yang bisa saya pilih. Meski malu mengakui, saya salut dengan kemampuan analisisnya itu.

Oh, ternyata itu salah satu cara beliau menjadikan suasana kerja di kantor senantiasa harmonis dan produktif.

Saya sepakat bahwa setiap orang harus mampu menjadi pendengar aktif, tapi yang lebih penting lagi adalah kelihaian memahami hidden needs orang lain. Sehingga menjadi jembatan yang dapat meredam konflik personal maupun interpersonal.

Dan ini bukan tugas HRD saja.

2 Tanggapan to “Pentingnya memahami hidden need orang lain”

  1. ufi yusuf Says:

    real psychologist itu si bapak, serius, jadi inget pendekatan humanistik nya pak roger
    saya pernah ketemu psikolog yang ngurusi SDM juga, sayangnya bawahannya malah bilang “kok gitu ya, padahal kan dia psikolog….”

  2. sanggita Says:

    Iya, fi. Padahal masih muda banged loh. Satu lagi yang bikin salut : tetep adem meski kondisi under pressure. Bikin ayem gitu. Maklum, beliau emang juga mendalami hipnoterapi.

    Dan kalo dinas bareng-bareng, misal rekrutmen ke UGM, suka ngajakin ke karaoke deket Wisma MM lagi (apa tuh namanya, lupa.) *halah*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: