Mencegah sibling rivalry sejak dini

22-10-08_0654“…Sulungku dulu sempat menjadi pendiam, termenung di bawah pohon, untung cepat ketahuan. Sejak itu saya hanya meneteki adiknya, setelah selesai segera diberikan pada suami atau si mbak. Dan ibu tetap momong si sulung sambil berusaha menjelaskan pada si kakak, betapa senangnya punya adik.”

Bu Enny, dalam salah satu comment

Sejak kelahiran Willa 2 bulan ini, alhamdulillah saya tidak melihat adanya kecenderungan sibling rivalry pada Wima. Malah Wima terlihat sangat menyayangi dan melindungi adiknya itu.

Misalnya, saat Willa menangis dan saya tidak ada, Wima akan dengan senang hati menghibur Willa, mengajaknya tertawa, dan menciumnya. Setelah itu, Wima memanggil saya dan memberitahukan, “Buuu, dedek Willa nangiiiss.” Duh, senangnya.

Oya, sibling rivalry adalah persaingan antarsaudara kandung dalam memperebutkan kasih sayang dan perhatian orangtua. Misalnya dengan berebut mainan, berebut tempat untuk bisa lebih dekat dengan ayah atau ibu, berebut kue, berebut kesempatan memainkan sesuatu, memukul, mencubit, hingga menendang.

Sejak mengetahui bahwa saya hamil lagi, antisipasi terhadap sibling rivalry ini memang menjadi agenda utama saya pada Wima. Pasalnya, saya mengalami sendiri tidak enaknya hidup dibawah bayang-bayang adik sendiri.

Usia kami terpaut 2 tahun. Berbeda dengan saya, adik berkulit putih, cantik, tinggi semampai, penurut, dan menyenangkan. Sedangkan saya berkulit lebih gelap, berwajah biasa saja, lebih pendek dari adik, dan yang membuat orangtua kewalahan : saya super duper keras kepala. Kalo ingin sesuatu harus segera dipenuhi, sangat lihai berargumen, dan cenderung ribellius.

Saya sering sekali diperbandingkan dengan adik. Tidak hanya oleh orangtua, tapi juga saudara-saudara dalam lingkaran keluarga besar. Lama-lama, bibit iri pada adik semakin terpupuk. Kebencian saya terwujud dalam perilaku agresif secara fisik dan verbal pada adik saya itu.

Satu-satunya yang bisa saya banggakan adalah prestasi saya di sekolah. Populer karena selalu juara. Oleh karena itu, saya mati-matian mempertahankan prestasi saya meski harus memotong jam tidur demi sebuah angka sempurna.

Saya baru menyadari bahwa apa yang saya lakukan tidak adaptif saat memasuki bangku SMA. Saat itu saya mulai banyak membaca buku-buku psikologi populer yang bersifat self-help. Dan memang sangat membantu memperbaiki hubungan saya dengan adik, dan juga orangtua.

Nah, berdasar pengalaman itu, yang saya lakukan untuk mencegah sibling rivalry sejak dini adalah:

1.    Persiapkan kakak sejak adik masih di perut
Ketika perut saya mulai terlihat buncit, dialog-dialog ini yang sering saya lontarkan :

Aa, coba pegang perut ibu. Gede ya. Ada dedeknya lho di dalam. Nyumput, hihihi. Lucu ya” – menekankan bahwa dedek=menyenangkan

Nanti, kalo dedek udah lahir, tidurnya sama aa ya?” – menunjukkan bahwa ibu sama sayangnya dengan kakak dan adik. Berarti, kakaknya juga harus sayang.

A, tau ga. Dedek bayi tuh, belum punya gigi, belum bisa jalan, belum bisa ngomong. Jadi, dedek nanti dikit-dikit nangis minta asi ibu. Kalo aa kan udah punya gigi, jadi bisa makan nasi.” – untuk membuat permakluman pada kakak kalo adik akan cukup banyak menyita waktu ibunya.

A, sini donk. Dedeknya dicium dulu sebelum tidur.” – kemudian si Wima mencium perut saya trus dielus-elus sambil bilang, “Tidur yuk, dek.”

2.    Memberikan penjelasan secara tidak langsung
Misalnya dengan menonton film yang ada bayinya atau membaca buku cerita. Wima sangat senang menyaksikan film The Incredible. Kesempatan itu saya gunakan untuk menunjukkan seperti apa tingkah bayi.

Dialognya seperti ini, “A, liat tuh dedek bayinya. Belum bisa ngomong ya. Eh, lucu mainin jeruk. Tuh lihat, kakaknya sayang banget. Rukun. Dedeknya dijagain. Aa nanti gitu ya sama dedek di perut ibu.

3.    Menjaga rutinitas kakak bersama ibunya
Tips dari bu Enny di atas bisa digunakan. Alhamdulillah Willa juga sangat kooperatif. Rutinitasnya adalah pipis/pup-minum asi-trus tidur lagi. Menangis pun harus “dipaksa”. Tidurnya juga tidak nanggung, bisa 3-4 jam. Jadi saya bisa tetap memandikan, menyuap makan, dan bermain bersama Wima seperti biasa.

4.    Tidak membandingkan
Ini pantangan terberat. Melihat Willa yang sangat “solekhah” dan berbanding terbalik dengan kakaknya yang sangat aktif, membuat saya gatel untuk menegurnya dengan : ”A, tidak perlu lari-lari di dalam rumah donk. Duduk sini aja, diem kayak dedek.” (ya iyalah, si dedek kan masih bayi).

Untung saya tidak pernah keceplosan. Yang seringkali berujar seperti itu malah saudara-saudara. “Dih, Wima! Cicing* atuuh! Kayak dedek Willa nih. Diem, nurut, senyam-senyum. Kamu tuh yaaaa!

Hehe, tentu saya tidak bisa semena-mena melarang orang berucap ya. Yang bisa saya lakukan adalah memberi Wima alternatif kegiatan untuk menyalurkan energinya yang berlebih itu.

Oke, semoga bermanfaat. Monggo kalo ada yang ingin menambahkan…

*cicing = diam (bahasa sunda)

5 Tanggapan to “Mencegah sibling rivalry sejak dini”

  1. edratna Says:

    Iya, saya dulu yang sejak awal kehamilan mempersiapkan si sulung, toh terjadi juga perasaan tersingkir…untung saya segera melihat, dan akhirnya setiap kali kegiatan si mas diikut sertakan. Hasilnya? Dia sayang banget sama adiknya…bisa dibaca komentar dia pada blog adiknya.

  2. ufi yusuf Says:

    saya mencoba menyiapkannya dari sekarang ah…*padahal belom hamil…*
    nuwun infonya….paling gak mbiasain dia sayang sama adek kecil kali ya?

  3. asri Says:

    ohhh itu istilahnya sibling rivalry tohhh *manggut manggut*

    diingat2 deh tipsnya…😀

  4. Bundanya Dita Says:

    Wah…tulisan yang sangat mencerahkan. Walaupun rencana ngasih adik buat Dita tidak dalam waktu dekat tapi nanti jika masih diberi amanah untuk hamil lagi (Amin), akan saya coba tips nya. Thanks Mbak🙂

  5. uus Says:

    kakak sering mukul, menjambak adeknya yang masih bayi..????

    belajar bahasa arab online gratis
    http://badar.muslim.or.id
    silahkan beritahu teman supaya banyak yang mendapat manfaat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: