Ketajaman assesment : kompetensi mutlak yang harus dimiliki sarjana psikologi

mapKurikulum Fakultas Psikologi se-Indonesia beberapa tahun belakangan telah berubah dengan mengurangi jumlah SKS yang diperoleh seorang mahasiswa untuk menjadi sarjana.

Bagi sebagian besar akademisi, hal ini sangat menguntungkan. Gelar sarjana dapat diraih hanya dalam kurun waktu 4 tahun (144 SKS). Bahkan 3 tahun belakangan, bisa dicapai dalam 3,5 tahun saja (<130 SKS, CMIIW).

Yang masih berkeinginan untuk memperdalam keahlian dalam bidang psikologi, dapat melanjutkan ke program Magister Profesi Psikologi (double degree : M.Psi dan psikolog). Bagi yang ingin segera beralih profesi dalam bidang lain di dunia kerja, difasilitasi dengan ijazah sarjana psikologi (S.Psi).

Hal ini mengundang beberapa pertanyaan seputar kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh sarjana psikologi. Jawabnya adalah assesment.

Tujuan asesmen sendiri adalah :

  • Mendapatkan orang yang tepat dan menempatkan pada fungsi jabatan yang tepat.
  • Analisis kesenjangan antara kebutuhan kompetensi jabatan dengan kompetensi yang dimiliki seseorang. Yang nantinya akan dipakai sebagai Individual Development Plan (IDP).
  • Mapping karyawan potensial yang nantinya diharapkan menjadi calon leader di level manajemen.

Bila dulu, lulusan psikologi diharapkan dapat melakukan asesmen melalui psikotes, sekarang wewenang ini hanya boleh dilakukan seorang psikolog yang merupakan lulusan Magister Profesi Psikologi.

Kompetensi lain dalam asesmen adalah observasi dan wawancara. Keterampilan ini sangat dasar dan sudah ditawarkan dalam perkuliahan di Fakultas Psikologi semenjak mahasiswa berada pada semester 2 atau 3.

Namun toh dari pengalaman pribadi saya, ada sekian banyak alat ukur (kinerja, kompetensi, atau pun profil kepribadian) yang dikembangkan dan disajikan dengan renyah sehingga mudah dicerna siapapun. Hal tersebut berimplikasi pada penguasaan alat tanpa harus mensyaratkan pendidikan formal psikolog.

Metode observasi dan wawancara pun lebih ditentukan oleh ‘jam terbang’ dan ‘street smart’ daripada pendidikan formal. Adalah tidak menjadi jaminan bahwa lulusan psikolog akan lebih tajam dan jeli dalam hal observasi dan melakukan depth interview.

Predikat sarjana psikologi dengan materi penguasaan yang serba tanggung karena daftar belanja mata kuliah yang dipotong demi mengejar waktu kelulusan yang semakin cepat, menuntut mahasiswa psikologi untuk proaktif menimba pengalaman di luar kuliah.

Menjadi freelance assessor alias ‘pengasong’ – istilah teman-teman UNPAD – bisa dijadikan media pembelajaran bagaimana aplikasi ilmu psikologi secara praktis, terutama penguasaan asesmen.

Selain meningkatkan jam terbang, dapat juga digunakan untuk menjalin network dengan human capital practitioners dari perusahaan-perusahaan bonafid.

Karena mempunyai kenalan ‘orang dalam’ merupakan metode paling efektif untuk mendapat pekerjaan. Artinya, seringkali perusahaan membutuhkan pekerja baru dalam waktu cepat dan tidak memanfaatkan media (cetak/internet) untuk mendapatkannya.

Jika ‘orang dalam’ tersebut sudah mengenal Anda dan mengetahui ketajaman serta kelihaian Anda dalam melakukan asesmen, tentu dia merekomendasikan nama Anda.

Strategi efektif, daripada Anda harus berdesak-desakan berkompetisi jika melalui rekrutmen massal kan?

6 Tanggapan to “Ketajaman assesment : kompetensi mutlak yang harus dimiliki sarjana psikologi”

  1. edratna Says:

    Pengalaman sebagai tim pewawancara (setelah semua test psikologi lulus), maka sarjana yang lulus cepat ada risikonya, selain kematangan, juga kadang dia hanya tahu dunianya saja, itupun kadang tak mendalam. Jadi menurutku anak sekarang harus pandai memanfaatkan waktu, tak hanya belajar dan kuliah saja, namun juga belajar hal lainnya.

    Sangat menyedihkan, jika seorang lulusan cumlaude terpaksa di coret dari daftar karena memang tak bisa dipancing-pancing, dan kompetensinya tak muncul. Kemungkinan setiap hari dia cuma berangkat dari rumah ke tempat kuliah.

  2. Mas Kopdang Says:

    ya..ya..ya..
    asah terus sampe tajam..
    tapi ada gak sih test psiko untuk urusan menilai “kejujuran dan integritas..”..?

  3. sanggita Says:

    @Bu Enny, nah itu dia, Bu. Banyak mahasiswa yang belum sadar bahwa nilai saja tidak cukup untuk menghadapi dunia kerja. Apalagi jika didukung kebijakan kampus yang seolah-olah mengebiri waktu dan kebebasan mahasiswa dalam berkegiatan di luar kuliah.

    @Mas Kopdang,
    Yah inilah komen khas dirimu. Selenge’an tur nganyelke, mas. Hehe…Btw, untuk kejujuran dan integritas : alat deteksi kebohongan, trackback pengalaman hidup orang tersebut, atau referensi dari orang yang mengenal sang kandidat. Kalo tes psikologi, kayaknya belum ada deh (padahal 2 hal tersebut menjadi syarat utama dan mutlak ya).

  4. ufi yusuf Says:

    duh..assesment ya?tapi rasanya itu juga semakin bergeser git, ya tadi itu, sekarang banyak alat canggih yang nggantiin orang malah
    saya malah berpikir, pemahaman sistem dan integrasinya yang sekarang penting, yang pastinya tetep dengan menempelkan kelebihan pemahaman individual yang jadi kelebihan psikologi itu…

  5. ufi yusuf Says:

    ngomong-ngomong assesment, ada yang lupa, saya paling takut malah sama pekerjaan itu
    beban euyyy…

  6. nayfos kawali Says:

    Dalam rangka the right man and the right place bagi PNS, saya masih ragu menggunakan sarana assesment sebagai fungsi yang efektif dan dapat diimplementasikan dalam menempatkan seorang PNS berdasarkan kompetensi jabatan yang diharapkan. Mhn masukan ya mbak ?, tq


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: