Pernikahan itu seharusnya…

iseng-foto-in-suami-ah-heheheSeperti apakah pernikahan itu seharusnya?”

Setiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda, tergantung pada bagaimana ia menerjemahkan pengalamannya sendiri, pengalaman orang lain, bacaannya, dan kolaborasi semua hal tersebut.

Bagi saya – yang masih bau kencur dalam masalah perkawinan tapi sedang belajar untuk sok tahu ini – dalam pernikahan itu akan ada : perbedaan, agar bisa saling melengkapi. Persamaan, agar bisa saling menguatkan. Dan kebersamaan untuk saling memahami perbedaan dan persamaan itu.

Pernikahan itu menyatukan dua anak manusia yang segala sesuatunya berbeda sekaligus sama. Dari yang basic saja, yaitu masalah tipe kepribadian.

Misalnya, saya dan suami bagai bumi dan langit. Beda 180°.

Saya tipe Sanguinis Populer berpadu Kholeris Kuat dengan ciri :

Sedangkan suami saya tipe Melankolis Sempurna berpadu Plegmatis Damai dengan ciri :

Memiliki banyak teman, naïf, dan mudah mendapat kenalan baru.

Introvert, hati-hati dalam berteman, sedikit teman akrab tapi mendalam

Suka berbicara (dan cenderung mengulang-ulang cerita). Prinsipnya : berbicara dulu, berpikir kemudian

Sedikit bicara, penuh pemikiran, dan berbicara langsung pada pokok permasalahan

Menyukai warna-warni

Menyukai diagram, grafik, dan bagan

Sangat antusias terhadap segala sesuatu dan ekspresif dalam menunjukkan emosi

Tenang, sabar, pendengar yang baik, dan lihai menyembunyikan perasaan

Asertif, cenderung egois dan merasa benar

Kurang asertif, bersedia mengorbankan keinginan sendiri demi orang lain

Menyukai kegiatan spontan/tidak terencana

Penuh rencana, berorientasi jadwal, tertib dan terorganisasi, teratur dan rapi

Orientasi “harus sekarang” dan “untuk sekarang”

Tidak tergesa-gesa, orientasi “demi hari esok”, alon-alon waton suwe eh kelakon

Sulit berkonsentrasi pada satu hal dalam satu waktu, mudah berubah

Serius dan tekun ketika sedang mengerjakan sesuatu, konsisten dan persisten

Senang menjadi pusat perhatian

Menghindari perhatian

Always miss the details

Selalu sadar dengan perincian dan hal-hal kecil

Sering mengambil keputusan yang dampaknya beresiko tinggi

Bermain aman, berusaha agar “semua orang senang”, win-win solution

Tapi kami sama-sama menyukai jazz, telur ceplok, baca buku, air putih, diskusi, kopi, pantang sinetron dan
infotainment, sambel bawang, nge-blog, merapikan rumah, mengamati anak-anak tidur, duduk di depan laptop/komputer daripada hiking, dan berpakaian kasual.

Dari suami, saya belajar untuk lebih terorganisir. Dari saya, suami belajar untuk sedikit bersenang-senang dan menikmati hidup. Kami pun belajar untuk saling memahami.

Pada akhirnya, kami saling menggenapkan. Menuju titik kesetimbangan. Tidak ada lagi Sanggita yang terlalu Sanguinis Kholeris, tidak ada lagi Widi yang terlalu Melankolis Plegmatis.

Sekaligus seperti bercermin satu sama lain. Sebagaimana umum diketahui, kita dan bayangan dalam cermin senantiasa melakukan gerakan yang sama dalam satu waktu. Hanya berbeda ruang. Kita dan bayangan dipisahkan oleh cermin. Karena jika cermin dipecah, tidak ada lagi bayangan kita.

Mengutip tulisan Fahd Djibran – penulis muda yang brilian dan kontemplatif – dalam artikel “Cermin” :

“Cermin sebagai batas tidak selamanya merupakan “pembatas”. Sebuah batas kadang-kadang juga adalah penghubung yang tak tergantikan. Batas adalah sebuah kesadaran ruang, “jarak antara” yang membuat kita dengan yang di seberang batas masing-masing memiliki maknanya tersendiri. Batas. Jeda. Spasi, ternyata adalah cermin. Agar satu dan yang lainnya bisa saling menatap dan memaknai.“

Jadi, jika ada batas antara saya dan suami, biarlah ia tetap menjadi batas. Sebab bila batas itu tiada atau kita tiadakan, mungkin seperti kita yang sedang membaca deretantekstanpaspasi.

Begitulah bagi saya pernikahan itu seharusnya : melebur sekaligus berbatas.

Jadi, bagi Anda, pernikahan itu seharusnya… (silahkan diisi)

*Ayo, bu Enny …berbagi pengalaman pada kami yang masih anak bawang ini…

Baca juga :

Apa yang harus dilakukan di tahun pertama menikah

Tips bagi yang ingin menikah

9 Tanggapan to “Pernikahan itu seharusnya…”

  1. Abdee Says:

    walah, bojomu lagi ngopo kui kok difoto.

  2. Ika Says:

    wuaaaa nice couple………. perpaduan yang serasi mbak……. seperti air dan tanah…… congrats!!

  3. ciwir Says:

    jenenge wong bebojoan kuwi rak yo koyo tumbu oleh tutup?
    beda namun serasi?
    rak yo ngono mbak yu?

  4. akuhayu Says:

    wah mbak sanggita, buka konsultasi pernikahan saja ^_^
    menarik mbak, dan inspiring..

  5. Bundanya Dita Says:

    Kalau saya sih simpel aja, pernikahan itu seharusnya bisa kompromi🙂

  6. moenk Says:

    mantebbbb….🙂 lam kenal mbak…

  7. ario saja Says:

    nikah = enak he..he..he… sok tau yah !!!

  8. Jay Says:

    Nikah itu wajib…
    Enak lagi…
    Kwikikikikiikikikiki

  9. Sisranau Says:

    Nikah ya enak to..
    Tp hrs sm2 enak gt lho, jgn seenak e dewe no..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: