Bekerja dan berkeluarga (harusnya) menyeimbangkan hidup

ibu-bayiThe day has come. Berakhir sudah libur panjang saya. Besok sudah harus mulai bekerja. Kembali lagi pada rutinitas Jum’at malam pulang Sukabumi, Senin dini hari balik Jakarta.

Itulah kenapa dua minggu ini saya tidak pernah online. Pun sewaktu liburan ke Solo selama seminggu. Saya hanya menyediakan diri untuk keluarga. Menikmati setiap detik kebersamaan bersama suami, Wima, Willa, bapak, ibu, adik perempuan dan anak-anaknya.

Saya genggam erat setiap fragmen drama kebersamaan kami untuk dikulum pelan-pelan. Untuk dinikmati lain waktu melalui ruang ingatan.

Saya sangat mencintai keluarga. Bekerja juga memberikan kenikmatan sendiri. Suami paham betul bahwa saya bukan tipe perempuan yang tahan setiap hari di rumah saja. Saya butuh tempat beraktualisasi.

Bekerja dan berkeluarga menyeimbangkan hidup saya. Ketika berkunjung ke blog sesama pekerja, seringkali saya menemukan keluhan betapa perusahaan telah membeli waktu dan hidup mereka.

Bukankah pilihan untuk bekerja pun adalah keputusan sadar kita juga? Jika memang membuat waktu untuk keluarga jadi terpotong, itu adalah konsekuensi logisnya.

Jadi, kenapa tidak menikmati setiap detik peran yang kita jalankan dan memberikan yang terbaik di setiap helaan nafas? (wah, sepertinya akan menjadi quote favorit saya tahun ini)

Meskipun terlambat, saya ingin menyampaikan Selamat Tahun Baru 1430 Hijriah dan 2009 Masehi.

Sudahkah Anda mengevaluasi rapor tahun 2008 kemarin? Dan apa resolusi Anda tahun 2009 ini?

8 Tanggapan to “Bekerja dan berkeluarga (harusnya) menyeimbangkan hidup”

  1. ciwir Says:

    sebagai manusia yang berkeluarga, apalgai perempuan, bekerja harus benar2 disieimbangkan dengan keluarga.
    lak yo ngopeni anak barang tho?

  2. sanggita Says:

    Ho’o, mas. Hehe…

  3. ufi yusuf Says:

    hpfuuuf…dilema saya sekian lama, bahkan hingga hari ini

  4. fahri Says:

    iya seh, tapi susah… tapi ya, harus… namanya jg hidup… ya mba..!?

  5. abdee Says:

    resolusi?…. apa ya.
    Pingin lebih punya kamar yang bersih dan puasa (baik yg wajib maupun yg sunat) lebih baik dari taun kemaren.

  6. akuhayu Says:

    setuju soal keluarga dan bekerja harus seimbang.. ;D
    btw, aku kok ngerasa ga membuat resolusi ya tahun ini, rencana siy segudang, tapi resolusi, hmmm..

  7. Bundanya Dita Says:

    Wah..bener mbak. Bagiku juga berkeluarga dan bekerja emang harus balance. Keduanya sama2 membuat hidup lebih hidup. Dulu sempet takut kalau sudah berkeluarga disuruh berhenti kerja sama suami. Ternyata malah disupport habis, krn spt mbak juga, suami juga tahu jiwa saya butuh bekerja. Semuanya kembali dengan menerima apa2 yang ada dimana kita berpijak. Kalau ibu bekerja sll mengeluh dan iri dengan ibu rumah tangga yang punya banyak waktu buat anak/keluarga, atau sebaliknya, hidup gak akan pernah bahagia. Semua itu pilihan kok. Dan semuanya ada konsekuensinya.
    Selamat tahun baru 2009 juga🙂

  8. edratna Says:

    Selamat Tahun Baru, 1 januari 2009
    Semoga tahun ini lebih baik dibanding yang lalu.

    Hidup memang harus seimbang, dan hidup memerlukan kerja keras, semangat, untuk mencapai tujuan yang merupakan komitmen berdua, saat sebelum atau awal menikah. Perempuan berkarir di luar rumah, tak ada halangan untuk membesarkan anak dengan baik apalagi jika di dukung oleh kerjasama suami isteri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: