Pro kontra merokok : drama yang tak kunjung usai

stop-smokingKetika masih tinggal bersama orangtua di Solo, seringkali kali saya menyindir bapak tentang pentingnya berhenti merokok.

Misalnya ketika melihat bapak membersihkan pipa rokok, sambil ngeloyor pergi, saya menyeletuk, “Wah wah wah, pipanya aja sekotor itu, gimana paru-parunya ya, Pak?”. Bapak pun memasang muka datar karena tidak bisa menyentak dengan serangan balasan, hehe.

Begitu pun suami saya yang super duper anti rokok. Sampai-sampai di kamarnya dipasang stiker no smoking area demi mencegah teman-temannya merokok di kamar.

Almarhum papa pun dibuat bingung mencari rokok yang ternyata disimpan di kulkas atau diremas kemudian dibuang di kolam belakang rumah. Beliau hanya bisa tersenyum pahit melihat polah anak laki-lakinya itu.

Ibu saya – dulu – pernah juga merokok demi mendapatkan suara yang lebih berat karena profesi beliau sebagai seorang seniman yang harus sering nembang. Itu pun atas saran bapak. Tapi 10 tahun belakangan ibu sudah disuruh bapak berhenti merokok. “Saru,” katanya.

Jika saya amati, ibu-ibu di Sunda pun merokok, tapi hanya untuk menghilangkan bau petai atau jengkol. Halah, ini sih sama saja.

Saya sendiri, sekarang, merasa cukup terganggu dengan asap rokok dari orang lain. Apalagi jika di tempat umum. Biasanya saya asertif saja menegur sang perokok, “Pak/Mas (karena biasanya laki-laki), maaf saya keberatan terkena asap rokoknya. Maaf ya.” Mungkin karena saya perempuan, jadilah mereka buru-buru mematikan rokoknya. Dengan tampang kesal pasti, hehe.

Saya pernah mengalami kejadian lucu mengenai keasertifan saya ini. Waktu naik kereta api bisnis Jakarta-Jogja, ada segerombolan pemuda merokok. Saya pun menegur.

Walhasil, sepanjang perjalanan saya disindir terus. Saya sih senyum-senyum saja wong memang terganggu kok. Apalagi saat itu ada anak kecil, kan kasihan jika menghirup asap yang bisa merusak paru-parunya yang masih bersih itu. Biarlah mulut mereka pahit sepanjang perjalanan karena tidak bisa merokok.

Saat ini saya dibuat khawatir bagaimana jika anak sulung saya *sekarang sih baru 3 tahun* ketika remaja kelak merokok ya? Karena kata bu Enny disini, merokok adalah pintu pertama menuju narkoba. Alhamdulillah, dalam tulisan tersebut, beliau juga memaparkan trik-trik agar anak-anaknya terbebas dari belenggu rokok. Baca juga komentar-komentarnya karena sangat mencerahkan.

Disini pun, Pak Nukman Luthfie bercerita bagaimana beliau menginspirasi sopirnya untuk berhenti merokok demi masa depan anaknya.

Demikianlah, saya memilih peran untuk hidup sehat dalam lakon berjudul pro kontra merokok ini. Meskipun pelan-pelan tapi pasti masih harus berjuang menurunkan frekuensi minum kopi (sudah turun menjadi satu gelas satu hari), membulatkan tekad untuk meluangkan waktu berolahraga (sampai sekarang belum niat juga), dan mengistirahatkan lambung dengan berpuasa.

Bukankah paru-paru, lambung, otak, ginjal, rahim, usus, dan semua organ dalam tidak ada toko spare-partnya?

Saya berharap, Indonesia bisa lebih aware dalam hal manajemen merokok ini. Apalagi jika pola pikir “merokok tidak berarti jantan, keren, dan bikin otak bisa mikir” sudah membudaya. Banyak cara kok untuk membuat otak produktif tanpa harus adiktif.

11 Tanggapan to “Pro kontra merokok : drama yang tak kunjung usai”

  1. edratna Says:

    Sebetulnya yang penting, sejak kecil anak-anak sudah dilatih komunikasi dua arah dengan orangtuanya, kebiasaan ini akan terus berlangsung, sehingga nantinya mereka tak akan segan mengajak diskusi terlebih dahulu tentang hal-hal yang ingin diketahuinya.

    Juga ortu harus bisa berfungsi sebagai temannya, sehingga anak akan setiap kali berani datang ke orangtua. Dari pengalaman saya, hal ini tak sulit, cuma ortu biarpun kaget mendengar cerita anak, jangan terlihat tegang, dan mengajak diskusinya hati-hati…begitu kita tegang, mereka nggak akan mau datang lagi.

    Ngomongnya mudah… kenyataannya sulit sekali, saya kalau sudah panik, tak berani memperlihatkan ke anak atau suami, tapi ambil air wudhu dan sholat dua rakaat, mohon petunjuk Nya, agar anak saya dibukakan hatinya. Dan ternyata ini obat yang manjur, di saat kita pasrah, Allah menjalankan peranNya. Dulu si sulung sering banget bikin kehebohan, saya hanya berdoa…tak lama sekitar 30 menit, dia udah datang ke kamar ibu dan mohon maaf karena tadi ngomongnya dengan teriak.

    Sanggita, percayalah selalu ada jalan keluar, dan dekatlah sama Allah, di saat anak-anak menjengkelkan…entah kenapa setelah itu mereka tenang sekali.

  2. sanggita Says:

    Wow, langsung ditanggapi bu Enny. Sebuah kehormatan lho, Bu. Terimakasih untuk semua pencerahannya selama ini. Setiap orangtua tentu ingin mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang kebahagiaan dunia dan akherat ya.

  3. wedang_ronde Says:

    haiyahhh drama meroko keluara lagi nggak di indonesis selalu muncul hal baru terus itu sudah selsai ganti lagi he he besok RUU muncul lagi nggak mbak

  4. ciwir Says:

    pengen sih berhenti merokok….

  5. akuhayu Says:

    beruntung saya dibesarkan di lingkungan yang tidak merokok, saya tidak anti, tapi tidak nyaman saja dengan rokok.
    saya sih setuju sama Mia di Princess Diary, yang bilang bahwa: “Saya menoca menghormati tubuh saya dengan tidak memasukkan terlalu banyak racun ke dalamnya”
    ^_^

  6. omiyan Says:

    mau bebas tapi masih susah…sedang mencoba….

  7. Betapa ajaibnya tubuh kita « Sanggita Says:

    […] dari komentar miss dosen Hayu yang mencantumkan quote dari Princess Diary dalam tulisan tentang pro kontra rokok yang lalu, saya akan menambah penekanannya dengan mengutip tulisan Stephen R. Covey dalam The 8th Habit : […]

  8. atMA v^_9 Says:

    waDuh giT. . aKu caRi aRtikeL mu leM keTemu, eee maLah keTemu yaNg iNi, maMpir duLu aH. . .

    aKu siH N99ak mAu iKut2 deBat Pro koNTra yaN9 maSaLah ini.

    saYa haNya N99ak biSa miKir aJa kaLo N99ak aDa roKok, it’s fuNNy buT tHIs is reAL. aDa keNyamaN teRsendiRi. . . v^_9

  9. kalasenja Says:

    wah ngerokok pagi dan senja sambil minum susu anget rasa cokalt enak lo,,,,
    salam kenal

  10. frammy latupeirissa Says:

    merokok merupakan kebudayaan semua bangsa,namun bagi perokok yang sejati sebaiknya merokok di tempat yang tepat …..agar menjaga lingkungan keluarga anda….

    yg tepatyach tempat ngerokoknya….

    salam kenal

    framm anak amQ

  11. seli_usel Says:

    . hump’z ,,, di indonesia masih sering muncul kejadian seprti itu mbak.
    . oh iya mbak thanks iya infonya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: