Pilih mana : Susun goal dengan SMART atau goal-free saja?

goal-free-livingAwalnya saya berniat untuk menulis tentang bagaimana menyusun goal dengan SMART (Spesific, Measurable, Achieveable, Realistic, Timely), sebagai kelanjutan tulisan saya minggu lalu.

Namun draft tersebut akhirnya saya delete setelah ingat buku Stephen Shapiro yang berjudul Goal-Free Living.

Dikatakan bahwa 45% orang Amerika selalu menyusun New Year’s Resolutions, 17% infrequently set resolutions, 38% sama sekali tidak pernah menyusun resolusi.

Hanya 8% yang sukses mencapai resolusi mereka, 19% mencapai resolusi di tahun selanjutnya, 49% have infrequent success, dan 24% (1 dari 4 orang) TIDAK PERNAH sukses mencapai resolusinya setiap tahun.

Ini berarti, 3 dari 4 orang hampir tidak pernah sukses!

And here’s the punchline : There is no correlation between happiness and resolution setting/success.  People who achieve their resolutions every year are NO happier than those who do not set resolutions or who are unsuccessful in achieving them.” Begitulah hasil temuan Stephen Shapiro disini.

Pada bidang apa saja resolusi biasanya disusun?

  • 34% mengenai uang
  • 38% mengenai berat badan
  • 47% mengenai self-improvement or education
  • 31% mengenai relationships

Persis seperti yang saya tulis dan lakukan sepanjang tahun 2008 kemarin. Dan jujur saja, saya seperti berlari di atas treadmill of chasing my goals.

Untuk itulah, Stephen Shapiro menawarkan sesuatu yang unik tapi masuk akal. Daripada membuat resolusi yang sulit dicapai, ia menawarkan membuat “tema”. Yaitu tema yang luas, yang tidak spesifik tapi menggairahkan, membangkitkan antusiasme dan semangat. Tema yang sesuai dengan passion kita.

Misalnya Pak Roni Yuzirman. Owner Manet Busana Muslim dan Jenderal Tangan Di Atas (TDA) ini menulis dalam salah satu postingnya, “Di tahun 2005, saat bisnis mulai stabil, saya memiliki waktu dan energi yang terluang. Saya harus membuat waktu itu menjadi bermanfaat. Saya ingin “berkontribusi” dengan waktu dan energi yang saya punya. Tapi saya tidak tahu jalannya. Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk merealisasikannya.”

“Tiba-tiba “tangan Tuhan” menyentuh saya. Saya diberi ilham, inspirasi, jalan. Saya “dibimbing” untuk menulis blog. Akhirnya, melalui blog itulah saya bisa mewujudkan keinginan berkontribusi kepada orang banyak. Dari blog itu lahirlah Komunitas TDA yang sampai hari ini saya sendiri masih tidak percaya. Subhanallah, kok bisa seperti ini ya.”

“Saya tidak pernah membuat target untuk mendirikan organisasi TDA dengan member sekian dan cabang di sekian tempat. Tidak pernah terlintas sedkit pun. Tapi, mungkin karena “tema” itulah semua itu menjadi kenyataan sekarang ini.”

Akhir kata, pilihan terserah pada kita. Jika Pak Roni merasa nyaman membuat tema, saya pilih kedua-duanya.

Disamping membuat tema, yaitu quotemenikmati setiap detik peran yang saya jalankan dan memberikan yang terbaik di setiap helaan nafas” (ini sudah saya tulis dalam 2 posting sebelumnya, agar selalu ingat), saya juga membuat target yang SMART sebagai KPI/Key Performance Indicator.

Apalagi saat-saat sekarang di kantor sedang gencar-gencarnya konsolidasi mengenai perencanaan strategik tahunan yang tentu saja diramaikan dengan grafik-grafik serta tabel-tabel canggih penuh perhitungan. Masak hidup saya yang jauh lebih berharga tidak dibuat demikian juga?

Dengan goal yang SMART itulah saya menerjemahkan “tema”.

Bagaimana dengan Anda? Cukup membuat tema untuk tahun ini, ataukah saklek dengan target-target spesifik yang Anda buat?

5 Tanggapan to “Pilih mana : Susun goal dengan SMART atau goal-free saja?”

  1. Bangpay Says:

    Yang paling susah ialah: sukses mengejar kebahagiaan.

    Ning nyatanya dalam perjalanan hidup saya blusukan indonesia sering saya temui orang2 yang thok thil bahagia saja. Tanpa planning, tanpa resep apalagi resolusi wong tiap malam taun baru ya cuman mancal selimut njur tidur.

    Dan kata para ahli kejiwaan (yg kebanyakan justru bingung lantaran keterlaluan dlm mencoba merumuskan kebahagiaan) itu namanya kebahagiaan semu.

    Ayak! Semu.. Lha apa coba yg ndak semu di dunia fana ini? Bahagia ya bahagia saja..

    NB : Salam kenal…

  2. edratna Says:

    Saya selalu menyusun target, karena sebagai perempuan bekerja dan ibu rumah tangga, saya harus memahami apa yang diinginkan anggota keluarga, karena rencana ini akan terkait dengan budget …..kemudian akan membuat alternatif. Jika ada tambahan rejeki, maka plan A jalan..jika tidak maka lan B dst nya. Maklum saya manager keuangan rumah tanggaku, bagaimana agar anak-anak bisa mendapat kesempatan seluas-luasnya dengan dana yang ada.

    Tentu saja, anggaran nggak dibuat seperti anggaran perusahaan, pake sensitivity berbagai macam, serta stres test segala. Dan ada bulan-bulan tertentu yang pengeluaran tinggi dibanding bulan lainnya, nahh tanpa menabung, hal ini tak akan tercapai.

  3. sanggita Says:

    @Bangpay dan Edratna :
    Inggih…*Duh, ngomong apa ya sama yang sudah merasakan asam garamnya hidup?*

  4. seli_usel Says:

    . kalau menurut saya ,, pilih saja yang bisa bikin kita ke jalan ke bahagian
    . baru ittu pilihan yang tepat ..

  5. Ilham Prasetyo Says:

    Mantap solusinya! Kebahagiaan karena kesenangan, yang juga bermula dari tema yang menarik diri ini karena passion diri sendiri. Luar biasa, terima kasih atas sharingnya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: