3 Penyebab gagalnya eksekusi resolusi


runAll famous people have high ambitions and winning strategies…

But execution is key to close the gap from good to great.

Saya sering mendengar orang mengajukan berbagai macam alasan hanya untuk menutupi satu-satunya masalah dasar mereka : kemalasan.

Bukan berarti saya sendiri terbebas dari penyakit satu ini. Tetapi kadarnya menjadi jauh berkurang semenjak saya berpredikat sebagai istri dan ibu.

Misalnya, saat masih mahasiswa, saya bebas menentukan waktu kapan untuk tidur dan jam berapa bangun. Rasa-rasanya saya bisa bermalas-malasan di kasur jika masih ingin tenggelam di balik hangatnya selimut.

Berbeda dengan kondisi sekarang yang tentu saja tugas dan tanggung-jawab senantiasa menanti. Priviledge untuk tidur lebih hanya saya dapatkan jika badan benar-benar meminta istirahat, seperti demam atau maag kambuh. Karena saya pikir, lebih banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan dibandingkan hanya tidur.

Selebihnya, kelihaian dalam alokasi waktu untuk diri sendiri, pekerjaan kantor,  melayani suami, mengurus anak, membaca buku dan menulis blog sangatlah dibutuhkan. Pun jika harus memotong jatah tidur dan ngobrol ngalor ngidul.

Yang saya ceritakan di atas hanyalah secuil cerita tentang pentingnya eksekusi. Tidak hanya merencanakan apa yang kita lakukan namun mampu melakukan apa yang telah kita rencanakan.

Saya menemukan slide menarik dari presentasi Irvandi Ferizal – Head of HR Nokia Siemens Network Indonesia – pada HR Expo 2 bulan lalu. Beliau membawakan materi HR Execution, Aligning and Delivering HR Strategy in Turbulence.

Salah satu slide yang mengena saya secara personal adalah tentang penyebab gagalnya eksekusi. Apa saja?

1. People fail to see the need to execute

2. Even when people see the need, they often fail to move

3. Even when people move, they sometime fail to finish

Kalo saya, selalu saja terjebak di level 3. Pemahaman tentang tujuan akhir, sudah. Memulai untuk melakukan yang harus dilakukan, sudah. Mampu menjaga semangat namun sayangnya hanya sampai di kuartal kedua. Setengah tahun berikutnya, mbleret, ndak fokus lagi. Saya gagal menjaga momentum hingga akhir tahun.

Padahal hidup seperti lari maraton. Kita tidak perlu terlalu ngoyo berlari, hanya harus mampu mengatur nafas dan ritme berlari hingga mencapai finish.

Mumpung masih awal bulan di awal tahun, kesadaran untuk terus menjaga semangat memang harus senantiasa dipupuk ya.

2 Tanggapan to “3 Penyebab gagalnya eksekusi resolusi”

  1. agoyyoga Says:

    Nice posting mbak.

    Barangkali kegagalan itu sudah bisa diprediksi sejak level 1, yaitu ketika goal yang direncanakan tak jelas, tak sesuai dengan kemampuan, dan tak tahu cara yang tepat untuk menggapainya.

  2. Boy Stuff Review Says:

    Hai mba Sanggita,
    Tulisanya inspiratif sekali.
    Aku suka yg bagian terakhirnya tentang jgn menyerah dan kehilangan momentum saat kita udh mulai berjalan.

    Aku mnta izin utk aku jadikan slh satu sumber tulisan blogku boleh?
    boystuffreview.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: