Tips ‘pedekate’ di era digital

mirror“…Makasih sudah respon balik. Saya baca – kalo tidak salah – Mbak menulis kalau Mbak itu penyandang ADHD. Pengalaman Mbak itu yang hendak kami wawancara. Karena untuk edisi depan, kami hendak mengangkat orang-orang berkebutuhan khusus yang berprestasi. Kami ingin mengangkat Mbak – kalo tidak keberatan – sebagai salah satu profilnya…”

E-mail seorang redaktur sebuah majalah anak

Saya sempat terhenyak. Merenung-renung, sepertinya saya bukan pengidap ADHD, darimana ya beliau tahu? Kalo masa kecil over-active, memang iya tapi untuk dosis hiperaktif? Ah, enggak kok.

Berprestasi? Ampun…saya tuh ndak pernah mendapat piala seumur hidup! Piagam sih ada. Sik, dieling-eling : piagam dokter kecil, piagam juara tari tradisional, piagam karate. Udah kayaknya. Berprestasinya dari mana ya?

Sepertinya beliau terlalu mentah menterjemahkan tulisan saya yang “Bagaimana Anda Menghadapi Meeting Tak Henti-henti” deh. Disana saya memang menulis, ‘…sebagai pengidap ADHD kronis…‘, tapi itu kan hanya supaya lebih lebay saja gitu.

Moral of the story :

Ketika Anda ingin mendekati seseorang yang baru Anda kenal di dunia maya, pastikan mengenal dia dengan baik. Ikuti profil dia di Facebook/Plurk/Twitter, siapa saja teman-temannya, dia pernah atau sedang mengikuti komunitas apa, baca – jika perlu – semua tulisan-tulisannya (kalo punya blog).

Dengan melihat profil lengkapnya di media jejaring sosial, Anda mendapatkan info dasar, seperti tahun lahir, apa hobinya, di mana dia bekerja/kuliah/sekolah, dll.

Dengan memantau teman dan komunitasnya, Anda bisa membuat gambaran lebih mendalam tentang minatnya, bagaimana posisinya dalam sebuah komunitas kecil, dll.

Dengan menelusuri tulisan-tulisannya, Anda bisa menggali lebih dalam pemikiran-pemikirannya, bagaimana dia melihat hidup, menyelami dinamika psikologisnya, hingga merangkai profil kepribadiannya.

Jadi, ketika kelak Anda bertemu orang tersebut, Anda sudah paham apa materi pembicaraan yang menggugah minatnya bahkan mampu membuat lompatan prediksi jika Anda bertanya A, dia pasti menjawab B. Jika Anda mengajak diskusi tentang X, dia akan meng-counter opini dengan Y.

Setiap saya akan komen di blog-blog bagus, biasanya saya juga menjadi silent reader dulu. Mengamati. Bahkan meng-ublek-ublek tulisannya hingga mendapatkan gambaran yang hampir utuh tentang profil orang tersebut. Tidak hanya bayangan samar-samar.

Seperti nama-nama di right-sidebar blog ini. Saya pasang di sana karena memang hampir semua tulisannya sudah saya baca, meski tidak selalu memberi komentar, serta rutin saya kunjungi karena kekaguman saya akan pemikiran-pemikiran mereka atau paling tidak sekedar memantau profil psikologis mereka setiap hari.

“Hmm, gini, Mbak. Sepertinya ada yang harus diluruskan. Saya sebenarnya tidak ADHD, Mbak. Jika saya menggunakan kata tersebut, hanyalah hiperbolisasi gaya penulisan saja. Saya pikir, saya tidak layak dijadikan profil orang berkebutuhan khusus yang berprestasi…”, demikian jawaban e-mail saya tadi malam.


7 Tanggapan to “Tips ‘pedekate’ di era digital”

  1. engeldvh Says:

    Hmmmn….gw jadi pusing🙂
    http://engeldvh.wordpress.com

  2. Bundanya Dita Says:

    yaaaa……gak jadi masuk majalah dong😉 .

    Iya, padahal udah ngarep, Bun bakal jadi artis even di majalah dulu😆

  3. abdee Says:

    ADHD kie apa sih?

    Opo ya, Mas. Aku yo lali kiy

  4. grubik Says:

    Kalo peribahasa, tak kenal maka tak cipok, ya jeng?

    Hush! Tak kenal maka tak kampleng, Pakdhe

  5. agoyyoga Says:

    Moral story yang saya tangkap, banyak orang yang menelan mentah-mentah suatu informasi tanpa menganalisa dengan mendalam, yang kedua, segala yang berlebihan itu tidak baik… hi-hi-hi

    *sembunyi sebelum dijitak mbak Gita*

    Tulisannya mengalir dan enak bacanya.

    Makasih untuk apresiasinya, Yog…Mau dijitak? Sini sini

  6. ciwir Says:

    ADHD = Anak yang hanya punya Dikit kapasitas Hard Disk

    😆 Kreatip kreatip, bro…*nyindir diriku-kah dirimu?

  7. madarmawan Says:

    kalo kakinya ga bisa diem.. kalau salaman ga pernah liatin lawan. kalau ada orang ngomong suka pengen nyela. itu ciri2 over aktif bkn ya ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: