Membuat anak menyukai buku

Willa mendengarkan Wima yang sedang membaca

Willa mendengarkan Wima yang sedang membaca

Kemarin saya dibuat takjub oleh polah tingkah ajaib Wima. Sembari menunggu saya yang sedang bersiap-siap karena akan jalan-jalan bersama di hari Sabtu, dia mengajak adiknya membaca buku.

Dengan gaya bak seorang guru, dia memilih buku tentang buku. Yap, judul bukunya adalah Aku Suka Buku, hehe.

Yang membuat saya makin geli, dedek Willa yang sudah bisa tengkurap ini, menyimak sang kakak dengan taklid.

Fokus perhatian Willa terarah pada kemana jari tangan Wima ketika menjelaskan. Dari foto sih sepertinya mengerti gitu ya? (Wah sayang, fotonya cuma pakai kamera hp, jadi gambarnya agak pecah)

Wima sudah saya ajak membaca sejak belum genap satu tahun. Awalnya dari melihat gambar-gambar. Ketika saya jelaskan alur cerita, dia selalu memperhatikan. Hingga saat Wima sudah bisa bicara, dia mampu menceritakan apa yang saya ajarkan dengan lancar. Hebat ya memori anak-anak itu.

Jika anak lain lebih menyukai satu buku sampai si pencerita bosan, seperti cerita Dee tentang Keenan di sini, Wima ternyata tipe yang suka variasi. Jadilah saya dengan senang hati mendampinginya, hehe.

Apa resep membuat anak menyukai buku?

Simpel, Ibu-ibu. Biasakan dan beri contoh. Udah.

Bagi saya dan suami, yang penting anak suka dulu sehingga terjalin asosiasi bahwa membaca itu menyenangkan. Jadi kegiatan ini bisa kapan saja.

Tentu akan lebih baik jika terjadwal, tapi perhatikan juga mood anak. Jangan sampai hanya karena sudah ada di jadwal, dia pun dipaksa membaca. Yakin deh, cara ini tidak akan efektif membuat anak suka membaca.

Untuk anak balita, buku-buku akan rentan rusak dan sobek. Oleh karena itu, pilihlah buku-buku yang setiap lembarnya berbahan tebal. Mayoritas toddler books seperti itu kok. Seperti seri Syaamil Kids yang dibaca Wima dan Willa di atas. Temanya pun bermacam-macam, ada Seri Mengembangkan Kemandirian, Seri Melatih Anak Beribadah, dll.

Ada juga buku seri Sesame Street dalam bahasa Inggris. Buku-buku tersebut kami dapatkan saat ada pameran buku di Jogja. Ada stand buku impor diskon. Lumayan, ngirit ratusan ribu, hehe. Yang penting contentnya, tidak harus mahal kan?

Pengennya sih kelak Wima dan Willa mempunyai perpustakaan buku dan ruang baca sendiri. Ide ini saya dapatkan saat menjadi part-timer di playgroup Book Monster-nya Mbak Alisa Gus Dur waktu masih kuliah di Jogja dulu.

Di sana, ada satu ruang khusus membaca, satu ruang untuk permainan konstruksi, satu ruang untuk role-play (barang-barangnya pun harus asli, mulai dari telepon, setrika, wajan, hingga kompor), menggambar dan mewarnai, membuat prakarya, dan sains.

Setiap anak bebas memilih hari itu ingin belajar apa saja. Asyik ya. Tidak seperti metode belajar konvensional saat saya masih kecil dulu.

Saat ini, buku Wima masih yang lebih banyak porsi gambarnya daripada huruf. Saya sedang berencana menggunakan metode Glenn Doman untuk menstimulasi Wima dan Willa mengenal huruf.

Daripada mengajari anak-anak mengenal huruf per huruf seperti a-b-c-dst, menurut penelitian ternyata lebih efektif jika diajarkan rangkaian huruf yang memiliki makna, baru diajari komponen-komponennya.

Namun sebagaimana diingatkan di sini, saya tidak akan menggunakan metode evaluasi. Flash card sebagai tool membaca dalam metode Glenn Doman ini hanya untuk stimulasi sedini mungkin. Keinginan untuk mengetes kemampuan baca anak, saya khawatirkan akan kontra-produktif.

Toh intinya semua anak senang belajar, tapi tidak suka diuji. Jadi biarkanlah hasil dari pembelajaran itu muncul dengan alamiah tanpa perlu dipaksakan.

Jika si anak jadi bisa membaca sejak kecil, bagi saya itu adalah bonus. Utamanya adalah waktu interaksi dengan anak yang berkualitas serta pemupukan ikatan batin antara ibu/ayah dan anak.

Semoga kebiasaan baik ini terbawa hingga dewasa ya.

20 Tanggapan to “Membuat anak menyukai buku”

  1. kautsar Says:

    BAGUS

  2. jono Says:

    katanya lebis cepet bisa baca bakalan gampang bosen nantinya kalo ud gede

    Oya? Bosannya kenapa tuh. Mungkin karena dia terlalu cerdas, sedangkan guru yang menerangkan lambat, bosan deh. Temen2 saya yang pinter2 dulu juga suka gitu kok.

  3. Fahrisal Akbar Says:

    Waduh, anak2 nya lucu2 banget…. jd inget ama keponakanku ne….๐Ÿ™‚

    Digambar sih lucu, aslinya nyebelin lucu banget!๐Ÿ˜†

  4. utaminingtyazzzz Says:

    hihihi… saya n adik-adik udah dikelilingi buku n koran sejak kecil jadi otomatis semua dilalap. turunan dari bapak, kayaknya.

    Whew, asik donk. But wait, jadi sejak kecil buku dan koran jadi lalapan gitu? *halah*

  5. pLuTo Says:

    aku dari kecil udah suka bgt baca buku, udah kulyah jadi malas bgt deket dengan buku hehehe,,,

    Kenapa, bro kok jadi males deket buku? Trauma? *sok2an psikolognya kumat*

  6. djayarus Says:

    Apa resep membuat anak menyukai buku?
    Simpel, Ibunya …beri contoh … se7

    Duh, kan udah ditulis di atas. Plz donk deh.

  7. Budiono Darsono Says:

    gak baca buku tapi baca via internet oke juga kan!!! soalnya sudah banyak anak anak yang digital native. mereka lahir sudah memasuki era digital. Tak kenal buku yang secara fisik terbuat dari koran. e-book bacaan mereka.

    Sepakat, Pak. Tapi karena anak2 masih balita, saya prefer buku dulu. Insyaallah baru dipercaya untuk memegang notebook/pun netbook saat kelas 2-3 SD. Wah, kalo sekarang saya belikan bisa dibanting2, Pak.

  8. abdee Says:

    hidup syamil !!!

    kenal syamil karena sering nganter *calon ibunya anak-anak* beli syamil buat ponakan2nya..

    Hehe, kadang Syamil jadi role-model Wima lho. Ada VCDnya juga kan? Kapan tuh calon ibunya anak2 dipinang?๐Ÿ˜†

  9. Bundanya Dita Says:

    Mbak, gimana dengan kartu baca yang ada di buku ABACA (Septi Peni Wulandari) itu? Efektif gak? Dulu ponakanku pas usia 3 tahun suka diajarin ibunya dengan kartu baca itu. Perkembangan membaca nya OK banget. Btw, dari foto dik Willa kok kayaknya udah gede ya?๐Ÿ™‚ . Kelihatan rukun lagi sama Kak Wima….seneng deh lihatnya…

    Apapun tools yang digunakan untuk menstimulasi anak, bagus kok, Bun. Asal interaksinya alami, menyenangkan, tidak ada unsur paksaan, dan tidak perlu orientasi hasil. Yang penting adalah terjalinnya komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak.

    Hehe, itu sih memang Willanya yang jumbo. Alhamdulillah Wima sayang banget sama adiknya, cukup protektif malah. Dan Willa juga seneng kalo main sama si aa. Kadang kalo nangis dan dihibur aa-nya, langsung senyum2 gitu.

    Pencegahan sibling rivalry-nya berhasil, hehe

  10. omiyan Says:

    buat sesuatu yang baik emang harus dimulai sejak dini agar kelak mereka terbiasa

    Betul! Dan kebiasaan yang baik, menumbuhkan karakter yang baik pula.

  11. danisharun Says:

    Assalaamu’alaykum
    Salam kenal Mbak.Alahamdulillaah.Senang baca artikel ini. Ingin saya terapkan pada bayi saya 15 bulan. Untuk yang seumur itu ada cara praktis lain tidak? Tentang playgroup Book Monster dan metode Glenn Doman, bisa ditulis artikel nya? Terimakasih Mbk

    Wa’alaikum salam wr.wb

    Untuk menstimulasi anak, bisa menggunakan media apa pun kok, Pak. Caranya ya cuma aktif dan konsisten saja menstimulasi. Kapan dan dimana saja.

    Bapak tinggal di Jogja? Silahkan kunjungi Book Monster di Jl. Timoho ke selatan. Atau baca opini ini http://enysant.wordpress.com/2008/08/01/pilah-pilih-playgroup/. Untuk detail lebih lanjut, silahkan simak disini

    Mengenai metode Glenn Doman, sebelum menulis sepertinya saya harus membuat riset kecil2an dulu, Pak. Maklum banyak sekali pro kontra mengenai metode ini. Sehingga harus disajikan dengan berimbang

  12. mamaniwa Says:

    anggi…mau nanya nih…niwa kan udah mulai aku kenalin ma buku..tapi kok ampe sekarang tiap mau dibacain cerita..bukunya malah diambil trus dibolak balik sendiri yah…ga bisa anteng kayak si wila di fotomu itu ;))

    Setiap anak kan permbawaannya beda, Mah. Kebetulan Willa anteng. Kalo Wima beda, dia tuh ‘kelebihan energi’.

    Coba deh cari cara ala Nikmah yang paling pas buat Niwa. Kan ibunya yang paling tahu. Sepertinya Niwa agak kholeris ya. Jangan dipaksa ya,ntar malah berontak. Coba pelan-pelan ajarkan dan contohkan cara memperlakukan buku yang benar. Selaraskan perlakuan dan pengasuhan kita dengan karakter anak.

    *Btw, Niwa udah bisa berdiri yaaa. Selamat selamat*

  13. Bundanya Dita Says:

    Sip mbak. Ditunggu banget hasil riset kecil2an nya ya๐Ÿ™‚ . Saya juga menemukan pro-kontra mengenai metode Glenn Doman ini. Yang kontra bilang metode ini sudah dideclare dan di ban oleh AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS Committee on Children With Disabilities (tp saya search di web nya sih gak ketemu). Juga sudah masuk fraud list di NCAHF (National Council Against Health Fraud). Bisa dibaca di ncahf di bagian PSEUDOSCIENTIFIC PSYCHOLOGICAL THERAPIES SCRUTINIZED.

    Saya jadi inget pernah nonton acara Kick Andy, ada anak penderita celebral palsy (namanya Dewa), ibunya menerapkan metode GD ini untuk mengajari Dewa berkomunikasi dan katanya sangat efektif.

    Busyet, referensinya lebih lengkap nih, Mbak Ririn. Jadi malu. Jangan2 Mbak Ririn ini psikolog anak ya? Ngaku! Ni lagi riset. Sabar ya, Mbak. Kudu mikir ternyata๐Ÿ˜†

  14. edratna Says:

    Saya dulu mengajar anak sulungku membaca, berhitung dll.
    Anak kedua tahu-tahu udah bisa baca, bisa menggambar, menulis dsb nya. Siapa yang mengajar?
    Kakaknya…..hehehe

    Dan sekarangpun kalau ada kesulitan, si adik selalu bertanya pada kakaknya…padahal kalau ibu tanya, dan si kakak nggak bisa jawab, selalu bilang..”Ibu tanya adik deh, adikku itu jauh lebih pintar dibanding aku..” Hehehe

    Hehe, ide yang bagus, Bu : memberdayakan si kakak. *segera-diaplikasikan-ke-Wima

  15. a. niappa Says:

    Baca buku yuukk… baca….
    komentar2-nya menarik semua๐Ÿ™‚

    salam buku,

  16. Norma Says:

    Mbak aku setuju banget dengan pembelajaran yang simple tapi pasti berhasil, dengan membiasakan dan memberi contoh. Untuk membuat anak senang membaca,hmmm, gimana ya,,,, kalau bapak n ibunya sama sekali gak suka baca, trus piye??? apa pura2 pegang buku gitu???
    Trus gimana dengan kesukaan Ibu ku dengan buku yang membuat dia bisa membuat perpustakaan pribadi??? tapi dar keempat nak2nya (Aku n 3 Adikku) kok gak ada yang suka baca ya??? padahal kalo lihat Ibu sampai sekarang bawanya bukuuuuu terus. Wah kaco nih. Ryan yang udah sekolah pun kalo dikasih majalah sama gurunya, blas gak dipegang, dia asyik mainan musik kesukaannya. Padahal, walopun saya tahu saya n suami gak suka baca buku, pengennya anak sukalah, karena kami sadar bahwa buku jendela dunia, n kalo bisa anak bisa lebih melihat dunia lebih dari ortunya.

    Pasal 1 : Tidak perlu memaksa anak.
    Pasal 2 : ntar, dipikirin dulu ya

    Informasi, pengetahuan, ilmu, bisa darimana saja kok, Ma. Bisa memakai video/film yang mendidik. Kalau Wima seneng banget sesi menonton bersama ini. Kan ada tuh vcd2 bagus dari beli susu ataupun beli seri pendidikan anak.

    Atau kalo tidak mau diminta baca sendiri, ortunya yang membacakan (bisa jadi si anak tipe auditori). Selingan Wima sebelum tidur siang adalah dibacakan buku cerita, tapi kalo dia sih seneng juga sambil merhatiin gambarnya.

    Kalo si anak tipe kinestetik, ajak saja permainan yang merangsang anggota tubuhnya. Tipe ini lebih mudah belajar dengan keterlibatan penuh.

  17. bunda dimas Says:

    Intinya semua ingin yang terbaik untuk anak, metode apapun kalau disajikan sesuai porsinya pasti tidak akan menimbulkan masalah.

    Saya sangat setuju dengan statement “Toh intinya semua anak senang belajar, tapi tidak suka diuji. Jadi biarkanlah hasil dari pembelajaran itu muncul dengan alamiah tanpa perlu dipaksakan.

    Jika si anak jadi bisa membaca sejak kecil, bagi saya itu adalah bonus. Utamanya adalah waktu interaksi dengan anak yang berkualitas serta pemupukan ikatan batin antara ibu/ayah dan anak.”

    Pernah seorang ibu secara langsung berbicara kepada saya bahwa “metode Glenn Doman memang membuat anak cepat membaca, maka ibarat buah, cepat matang maka akan cepat busuk. Sama halnya dengan buah karbitan pasti manisnya tidak merata”
    Si ibu mengibaratkan metode Glenn Doman ini dengan perumpamaan buah2an diatas tadi ( mungkin dia berjualan buah)…lalu ia dengan nada keras mengatakan bahwa anaknya jauh lebih pintar dan aktif dibandingkan teman2 sebayanya( anak saya adalah salah satu teman sebayanya) meskipun tanpa menggunakan metoda GD ini sejak lahir.

    saya diam bingung harus bersikap apa…
    menahan diri untuk tetap bersikap bijaksana meskipun GD adalah salah satu “mainan” saya dirumah bersama si kecil Dimas….

    Tak masalah saya keluarkan uang cukup banyak untuk membeli GD kit daripada uang habis terpakai untuk membeli pakaian/sepatu mahal, kamera jutaan dan jam tangan mewah. Uang belanja kebutuhan tersier perbulan pun bisa dialokasikan sebagai uang cicilan pembelian GD kit .Toh saat ini saya dan Dimas sangat menikmati bermain dengan kit GD ini,menempatkan tulisan2 dikartu sesuai bendanya adalah salah satu contoh permainan yang sering kami lakukan.

    kembali kepada statement favorit saya diatas sebagai kesimpulan akhir, dirasa lebih baik dari pada “menghina-dina” metode GD dan diam tanpa solusi serta membuang waktu si kecil
    dengan percuma begitu saja ditangan pengasuh/orang lain.

    Peace!

    ——
    Yap, metode sekedar metode ya, Mbak. Yang penting terjaga di filosofinya. Salut dengan konsistensinya mengaplikasikan metode Glenn Doman ini di rumah, Mbak. Anak hebat lahir dari ibu yang paham bagaimana mengasuh dan mendidik anaknya…

  18. bundarazan Says:

    betul dik, tak salah pepatah bilang, membaca itu ibarat jendela dunia. saya jg alhamd banyak dapat pelajaran sangat berharga ketika dulu pegang anak 2-3 tahun di bm, betapa itu tak bisa tergantikan dengan uang sebanyak apapun.
    sharing ya, razan sekarang hampir 3 tahun, alhamd sudah bisa baca dan tulis. saya mulai kenalkan ia dengan tulisan saat umur 4 bulan. kalau beberapa orang tua sibuk meng Glann Domman kan putra putri mereka, tidak dg saya dik. saya mencoba cari akal, gmn caranya dgn peralatan seadanya di rumah razan tetep bisa bermain asyik sambil belajar. walhasil kepikiran bikin tulisan di kertas karton persegipanjang kecil, mulai dari tulisan sederhana, ayah, bunda, razan, rumah, dll yg familiar dgn razan dan seminggu saya berikan 3 kartu 3 kata. dan kegiatan penunjang lain, saya sering ceritakan sesuatu, baik dongeng maupun cerita versi saya yg bahasanya saya bikin sederhana sesuai daya tangkapnya, dan bisa mendukung pada moral kesopanan dan kosa kata yg baru dipelajarinya saat itu. alhamdulillah dik, saat usia 7 bulan razan sudah bisa ngomong beberapa kata, dan saat usianya 2 tahun, razan sudah bisa membaca dan mendongeng, baik pada orang2 dekat maupun pada teman2 yang lekat dengannya.
    ini hanya satu kisah dari banyak kisah milik ibu2 lain yang pasti lebih berhasil mendidik putra putrinya dik. smg kita bisa saling memberikan manfaat lewat tulisan2 kita, smg bermanfaat. (gr banget miss nita ki…)

  19. bundarazan Says:

    oya, nambahin dikit. sebenarnya dgn metode apapun kita bakal mendidik anak2 kita, itu tdk masalah selama sesuai dg mood anak, tidak memakasa, tidak mengujinya dan jangan menuntut sesuatu dari apa yg kita berikan pada anak, biarkan anak berproses sesuai tahapan pertumbuhan dan perkembangannya…
    yg jelas, masing2 metode punya plus dan minusnya, mungkin baik u sekarang tapi blm tentu u yg akan datang. karena itu tugas kitalah sebagai orang tua untuk selalu membimbing dan mengarahkannya, semaksimal mungkin dengan segala limpahan dan kasih sayang yg kita miliki. kita kerja, kita berjuang mati2an itu buayt siapato? kl ga buat anak2 kita…. ya ga sih?
    kl tentang metode GD, saya pribadi kurang ssetuju, dan saya tidak ingin anak saya terjebak dalam simulasi tersebut, jg saya pribadi dik, tdk ingin terjebak dgn apa yg dinamakan MENUNTUT HASIL… terima kasih

  20. bundarazan Says:

    wa nambah lagi nih, boleh ya… kalau kita hobi nyanyi n ya punya suara ga jelek2 amit sehingga merdu bila didengar oleh anak, ada baiknya kita jaari anak lagu2 yang populer. yang kemudian bisa kita gubah syairnya jg lo, dengan irama yang sama. tapi sesuai dengan tema yg dilakukan saat itu. mereka senang lo dengan permainan ini, malah tanpa kita sadari pasti nanti pada suatu ketika mereka pun akan juga menjadi penggubah lagu seperti kita, itung2 memancing anak jadi kreatif kan? sembari memperkaya kosakatanya?

    maaf kl sharingnya panjang banget n dirasa mengganggu ya dik..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: