Konsultasi karir : dilema PNS di tempat ‘basah’

*Note : Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua

Berikut e-mail yang saya terima beberapa hari yang lalu :

angel-devil1Mbak, saya ingin berdiskusi (konsultasi tepatnya) kalo berkenan. Sebut saja nama saya Budi, 30 tahun, menikah,  2 anak.

Saya bekerja sebagai PNS. Lulus S1 dari FE salah satu universitas negeri di Indonesia. Sekarang saya sedang melanjutkan studi Master of Economics di luar negeri (beasiswa).

Masalah terbesar dalam hidup saya adalah pekerjaan saya sekarang yang mengarahkan saya ke hal-hal “yang kurang baik”. Saya takut terhadap dosa dari apa yang saya lakukan tapi saya juga agak menikmati pekerjaan saya.

Sebenarnya kalau saya “kuat” mungkin tidak masalah saya kerja di tempat sekarang. Tapi saya orangnya lemah/tidak kuat iman, sehingga lebih baik menghindari pekerjaan ini dari pada saya maju ke depan tapi saya jadi benar-benar menikmati pekerjaan saya (baca terjerumus).

Alasan saya untuk melanjutkan sekolah juga karena menghindari pekerjaan saya ini. Saya cari-cari beasiswa dari luar, Alhamdulillah dapat.

Yang ingin saya tanyakan : apakah pendapat saya untuk menghindari ini tepat?

Saya berfikir untuk resign dan cari pekerjaan baru tapi saya sudah “terlalu lama” menjadi PNS. Saya tidak punya skill apa-apa yang bisa saya “jual” di luar. Disamping itu, saya juga sudah punya tanggungan dan sudah terlalu tua (saya lulus S2 nanti umur 32) untuk memulai yang hal-hal baru. Saya “kurang pede” yang sangat parah. Saya sangat nervous saat diminta presentasi di depan.

Menurut Mbak, apa yang harus saya lakukan? Mungkinkan saya memulai lagi dari awal?

Respon : Berikut jawaban e-mail dari saya, mohon tambahan bagi teman-teman (khususnya psikologi) yang pernah menangani kasus seperti ini.

Mas Budi, saya paham bagaimana perasaan yang sedang Mas alami sekarang. Sungguh dilematis memang ketika kita belum bisa mengambil langkah tegas dari keraguan yang kita rasakan.

Jika saya cermati dari tulisan Anda, ada tarikan pilihan antara hati nurani dan rasa aman yang didapatkan dari bekerja sebagai PNS. Posisi Anda sekarang adalah 50-50, yaitu memilih hati nurani ataukah rasa aman. Di sinilah titik kritisnya.

Ketika mulai agak menikmati pekerjaan pun, Anda masih tetap mengambil program S2 di luar negeri sebagai upaya penghindaran dari pekerjaan. Bukankah ini berarti Anda masih berat pada intuisi dalam mendengarkan hati nurani?

Coba pertimbangkan lagi, kalau toh Anda mampu memberikan penghidupan yang layak pada istri dan kedua anak Anda hingga mereka dewasa kelak, bahagiakah Anda karena telah memberikan nafkah yang ‘tidak halal’?

Yang saya khawatirkan, Anda hanya akan terus dihantui perasaan bersalah sepanjang hidup. Dan tentu saja hal tersebut berimbas pada kesehatan psikologis Anda. Sudah cukup banyak kasus yang masuk ke ruang konsultasi psikologi dengan latar belakang seperti itu.

Masukan dari saya :doors1

1. Selami lagi apa yang menyebabkan Anda merasa begitu tidak percaya diri. Sejak kapan perasaan itu muncul.

Karena jika saya lihat, hal itulah yang menghambat Anda untuk bergerak maju. Misalnya,

a. Merasa terlalu tua. Padahal baru 32 tahun ketika lulus S2 nanti lho. Jika masa pensiun hingga usia 55-60 tahun, berarti Anda masih memiliki rentang berkarir 23-28 tahun.

b. Merasa terlalu lama jadi PNS. Padahal jika Anda bersedia menjadi fast-learner, apapun yang Anda inginkan, Insyaallah bisa Anda raih.

c. Merasa tidak punya skill apa-apa yang bisa dijual keluar. Benarkah seperti itu? Bagaimana dengan proses pembelajaran dan pengalaman selama 30 tahun Anda diberi umur?

Saya rasa, banyak sekali wisdom dalam diri Anda yang menanti untuk dituangkan. Anda hanya perlu mengambil jarak sejenak dari diri sendiri dan melakukan analisis SWOT.

d. Merasa nervous ketika presentasi di depan umum. Saya punya sahabat dari psikologi UGM yang mendalami NLP/Neuro Linguistic Programming.

Beliau bernama Teddy Prasetya Yuliawan dan Ronny FR. Silahkan simak tulisan-tulisan beliau berdua di http://portalnlp.com dan http://ronnyfr.com. Semoga membantu Anda meminimalisir ke-nervous-an. Gugup itu lumrah kok. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana mengelola kegugupan itu menjadi motivasi untuk melakukan presentasi mumpuni.

2. Pastikan kembali apa yang ingin Anda raih dalam hidup dan karir
Ada kalanya memang, kita harus berhenti berlari untuk mengevaluasi langkah-langkah yang telah diambil dan merencanakan kembali langkah strategis berikutnya.

3. Perluas wawasan

Untuk menambah referensi, saya pernah menulis di sini https://sanggita.wordpress.com/2008/08/29/benarkah-mendapatkan-pekerjaan- itu-sulit.

Silahkan mampir ke link yang saya sebutkan di tulisan tersebut. Seperti Pak Roni Yuzirman yang pasti akan mengompori Anda menjadi enterpreneur, Pak Suryosumarto yang merupakan headhunter dan bersedia memberikan tips-tips bagaimana sukses di dunia kerja, ataupun Anjar Priandoyo yang banyak mengulas kasus-kasus serupa dengan Mas Budi.

Last but not least, Anda tidak perlu memulai lagi dari awal. Karena apa yang Anda miliki sekarang, bisa menjadi batu loncatan untuk karir yang lebih tinggi lagi – serta tentu saja – prospektif dan sesuai hati nurani. Semoga membantu.

Warm Regards, Sanggita.

9 Tanggapan to “Konsultasi karir : dilema PNS di tempat ‘basah’”

  1. ciwir Says:

    terlalu percaya diri itu juga nggak baik mbak,
    bisa2 malah jadi nggak tau diri…
    hehehe

    Weits…memang yang berlebihan itu tidak sehat ya, Mas

  2. abdee Says:

    sebagai PNS, nasehat yang akhir2 ini sering saya dengar dari senior, bos, teman, maupun keluarga adalah
    “bekerja sesuai aturan”….

    nasehat ini kurang lebih adalah peringatan agar saya selalu berhati-hati, mencari rejeki yang halal, dan tidak neko-neko. Karena menjadi PNS adalah amanah yg diberikan oleh negara & masyarakat pd kita. Kalau kita bisa menjalankan amanah tersebut, Insya Allah barokah.

    Trenyuh. Terimakasih, Mas masukan berharganya. Semoga amanah ya *yang-ngga-nyangka-mas-pei-jadi-PNS-hehe

  3. suwung Says:

    weh kalo kerja ditempat basah dan hati ngak setuju ya jangan keluar atau malah melarikan diri!!!!!!
    harus tetap bertahan di dalam…. biar setidaknya masih ada nyala kesadaran di dalamnya
    jangan malah melarikan diri
    bukannya harus saling mengingatkan
    kalo ada banyak yang sadar.. cahaya lilin tersebut kan akan menerangi tempat gelap…..

    Hmm, Pak Budi…mungkin masukan ini bisa dijadikan bahan perenungan. Terimakasih, Mas Suwung.

  4. tukang nggunem Says:

    Ada cerita dari seorang teman. Dalam sebuah kantor BUMN sang atasan sering main kotor, dan pintarnya, atasan itu selalu membagi2kan hasil kotornya itu kepada para bawahannya. Yang jadi bawahan tentu saja juga dilematis, mau nolak kok bakal bikin runyam, sedang kalo diterima kok bertentanganh dengan hati nurani, nah akhirnya sangat bawahan itu menerima. Suatu saat ada audit dari pusat dan ketahuan borok sang atasan itu, tentusaja sang atasan menyeret semua anak buah yang pernah dia bagi2 hasil kotornya. Namun ternyata, seorang anak buahnya mampu mengembalikan semua pemberian sang Atasan masih utuh dalam amplop tertutup dan dibendel menjadi satu. Selamatlah anak buah tersebut. Selamat dari siksa dunia maupun akhirat.

    Nah, pada intinya kan tinggal tergantung person yang bersangkutan soal dilema tersebut. Btw itu tadi kisah nyata lho.

    Inspiring, semoga dibaca siapapun yang sedang bimbang dengan hati nuraninya sendiri.

  5. canggih Says:

    Dilema itu pasti. Kondisi yang diidamkan secara kasat mata telah di dapat, dihadapkan dengan sesuatu yang tak tampak. kepentingan duniawi dihadapkan dengan kepentingan rohani. kondisi ketidakstabilan politik, ekonomi dan kemanan juga mempengaruhi moral kita.
    Pegang Prinsip kita. Prinsip untuk berjalan di jalan Allah. menjadikan 99 sifat Allah…sebagai pedoman hidup. hidup memang berat. siapa tahu ini memang cobaan dari Allah. Anda harus bersyukur…amat sangat bersyukur…bahwa hati nurani anda masih memperingatkan. Masih memberi rambu-rambu. dengarkan lah…..

    Ceileeh, adikku komennya ngga nguatin, euy…Sudah besar kau rupanya, Nak

  6. deden Says:

    saya pernah melakukan yg ditulis tukang nggunem di atas. saya menerima beberapa amplop tentu saja ada isinya. saya bawa pulang dan disimpan di lemari beberapa minggu tanpa dibuka. tapi saya takut, kalo keadaan mendesak, membuat saya gelap mata untuk menggunakan uang tsb. akhirnya saya buka, lalu saya hubungi teman yg sangat saya percaya amanahnya untuk menyalurkan uang tsb untuk kepentingan masyarakat. oleh teman saya itu, uang itu disalurkan untuk pembangunan jembatan, jalan.

    saya juga kadang merasa seperti ini. antara mau keluar PNS dan tidak.

    Kerja dimana pun, akan riskan terjadi hal seperti itu kok. Yang penting adalah menjaga kejujuran dan integritas. Ya kan?

  7. zimmy Says:

    kalo gajinya dah berprikemanusiaan mungkin prilaku menyimpang (korupsi) bias sedikit demi sedikit dihilangkan.

  8. Tri Says:

    Wah, pantesan negara kita kagak maju-maju, ternyata masih banyak praktik demikian, baik dilakukan secara samar, terang-2an, malu-malu kucing garong, subhat, atau nyrempet-nyrempet dikit gak apa-2..🙂

  9. kadira Says:

    mba Sanggita ybk,

    saya tertaerik membaca blog anda…bolehkah saya curhat dikit…(banyak juga boleh ya he he).

    Gini, saya adalah seorang ibu dan kerja juga. Posisi saya sekarang adalah kepalad divisi. akhir-akhir ini saya selalu gelisah , saya terlalu mikirin perasaan staf saya, sehingga itu membuat saya saya tidak tegas bersikap dan ambil keputusan.

    apa lagi staf saya (katanya mantan manajer di tempat lain) itu tidak mau melakukan kerjanya sesuai saran saya, dia selalu membuat inisitif sendiri dan sering umbar pengalaman kerja ditemapt lain ( tapi saya jadi mikir, kanapa mau pindah jadi staf saja jika ditempat kerja yang lama sudah level manajer ya…apa yang dia cari ditempat baru.

    saya kadang bingung manghadapinya.

    Please inputnya…saya sekarang jadi peragu dan terus ternag jadi tidak suka dengan tingkahnya yang show off

    Salam,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: