Penelitian tentang “catatan-harian-stres” ibu-bekerja

working-mom1

Whew, lama tidak baca jurnal penelitian. Sedang iseng membaca artikel, jurnal, dan buku tentang hubungan kelekatan anak dengan ibu-bekerja. Lha ndilalah kok malah menemukan penelitian ini.

Peringatan : Pembaca yang budiman, hasil penelitian Rosalind C. Barnett* yang saya tulis ini pure merupakan mekanisme pertahanan menghibur diri😆

Barnett melakukan penelitian terhadap 300 keluarga yang suami dan istrinya bekerja penuh-waktu. Penelitian ini berlangsung 4 tahun dengan disponsori oleh Lembaga Nasional tentang Kesehatan Jiwa.

Dalam “catatan-harian-stres” sehari-hari, ibu-bekerja dilaporkan lebih stres daripada pria, tetapi mereka menanganinya dengan lebih baik**.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kebanyakan ibu-bekerja mengalami stres karena harus menyeimbangkan kehidupan domestik dan kehidupan profesionalnya.

Namun – menurut penelitian tersebut – kebanyakan ibu-bekerja bagus kesehatannya dan tidak menunjukkan gejala-gejala depresi atau gelisah, sekalipun kebanyakan mengatakan stres.

Kesimpulannya adalah mereka puas tentang hubungannya dengan anaknya. Puas dengan pernikahannya. Dan – ini yang sangat penting – puas dengan dirinya sendiri.

Intinya sih itu saja, hehe. (padahal bacanya beberapa halaman, menyita waktu lagi karena pakai boso Londo… hiks)

Sebenarnya masih ada beberapa jurnal menarik. Dan seharusnya yang ditulis tidak sepotong-sepotong begini. Sebaiknya memang disajikan dengan mensintesiskan hasil temuan-temuan tersebut, baik yang pro maupun yang kontra.

Sayang, saya sudah tidak sabar untuk posting😀 Maka hadirlah tulisan prematur ini di hadapan sidang pembaca. *maap maap

Kembali baca dulu ya.

*Rosalind C. Barnett dan Caryl Rivers. 1996. She Works/He Works: How Two-Income Families are Happier, Healthier, and Better Off.  New York: HarperCollins.

**Kok saya tidak merasa demikian ya?

11 Tanggapan to “Penelitian tentang “catatan-harian-stres” ibu-bekerja”

  1. edratna Says:

    Karena kalau ibu bekerja, penyaluran stres nya mudah…begitu ketemu anak, semua beban hilang (mungkin udah dari sono nya ya).

    Padahal sebelum menikah, saya sempat kawatir apa saya kuat ya kerja di Jakarta, bagaimana nanti kalau punya anak? Secara fisik daya tahan tubuhku lemah…ternyata justru saya semakin kuat saat telah punya anak.

    Sempat kuliah sambil bekerja, seminar kesana kesini, malam tetap bisa mendongeng, ngecek PR, jalan-jalan sambil ngobrol di akhir pekan dengan anak-anak sambil menemani kursus piano.. Teman semasa mahasiswa pun surprise, karena dulu saya gampang pingsan…

    Benar, Bu. Anak tuh panggilan lelah. Ada saja kelakuannya yang bikin tertawa sekaligus kesal, hehe. Bu Enny ini benar2 hebat dalam cara menyeimbangkan dunia kerja dan rumah. Terima kasih, Bu untuk inspirasinya.

  2. nungqee Says:

    kalo saya … mm.. baru setahun sih jadi ibu bekerja, rasa2nya jauh lebih stress, tiap hari mengeluh, tiap pagi melow, sampe setaun sedihnya ga ilang, nangis ga jelas, tergantung orangnya masing2 kali ya mbak.. dan rasanya ga sanggup lanjut😦 *loh kok malah curcol😀

    kalo dijalani dengan sepenuh hati ya pastinya bisa seperti yang dibilang “puas tentang hubungannya dengan anaknya. Puas dengan pernikahannya. Dan – ini yang sangat penting – puas dengan dirinya sendiri”

    tapi kalo setengah hati kek saya ini susah rasanya😛

    I can feel what you feel, Mbak. Sejujurnya, saat jadi FTM, melihat perkembangan Wima di dua tahun awal usianya, sangat nikmat lho. Banyak fase ajaib di sana. Saya yang pertama kali melihat kata pertamanya, langkah pertamanya. Sayalah yang dia lihat saat bangun tidur, dan sayalah yang terakhir kali dia lihat saat beranjak tidur. Setelah jadi FWM, saya cuma dapet cerita saja tentang Willa dari suami via YM.

    Tapi dengan bekerja, saya juga mendapatkan kepuasan lain yang tidak saya dapatkan saat di rumah saja. Kalo setengah hati, mending ngga usah aja, Mbak. Sudah dikonsultasikan dengan Anjar kan?

    Pesan suami saya kalo lowbat di tengah jalan dan rasanya pengen resign aja : “Bu, make the best of it.”

  3. Bundanya Dita Says:

    Nah, yang beginian saya suka bacanya. Baca jurnalnya yg pakai boso londo itu di khatam-in ya mbak. Trus di ulas habis disini (halah…pengin enaknya ya😀 ).

    Hampir sama dengan Bu Enny, saya merasa jauuuuh lebih bahagia dan sehat semenjak menjadi ibu (dan tetap bekerja). Kolesterol saya turun setelah punya anak (angkanya jadi gak merah lagi😀 ). Benturan kehidupan keluarga & pekerjaan (professional) pasti ada. Bikin stress? Pasti lah. Justru menurut saya, FTM (Full Time Mother) lebih berat (stress) daripada ibu bekerja. Yang ini ada penelitiannya gak mbak?🙂

    *baca komen sambil nguplek sama jurnal* Sik sik, pertanyaan terakhir belum bisa terjawab

  4. grubik Says:

    Inti dari intine: puas.., puas.. puas…

  5. utaminingtyazzzz Says:

    wah!
    ibu bekerja…gimana ya rasanya. belum ngerasain, euy! tapi kadang suka ngebayangin.. enak kali ya kalo lagi capek n jenuh sama kerjaan terus ketemu anak yang lucu trus bisa mainan sama si anak🙂

    btw tnyata dirimu perhatian kalo z-nya ada 4, hehehe

    Menurut saya sih, seharusnya keduanya saling menyeimbangkan, say. Kalo tujuan bekerjanya jelas, pasti ngga capek dan jenuh kok. Ada juga full-time mother yang sering marah2 karena jenuh di rumah.

    Well, kapan nyetarbuck bareng bu Enny dan Yoga? Yuks

  6. Jaya Says:

    Kalo suaminya lucu kan stressnya bisa ilang bu… hehe

  7. Norma Says:

    Maksudnya……….? Kalo saya sih jujur merasa wal bekerja dan meninggalkan anak lebih dari 8 jam sehari sesuatu yang membuat saya tertekan dan sangat merasa bersalah, tapi ternyata itu semua berat diawal, karena anakpun terlihat seperti sudah menerima dan menganggap ibu pergi bekerja sst yang wajar dan tidak perlu ditangisi. Untuk sekarang, sepertinya berfikir meninggalkan anak 3 bulan untuk bekerja pun rasa2nya siap, karena pasti semua berat diawal, namun akan terbiasa, demi memikirkan masa depan yang lebih baik. untuk anak juga kan????? yang terpenting, anak masih mendapat kasih sayang, dari pihak lain seperti suami,eyang,dll. sehingga tanpa Ibu disisinya pun tangki cinta tetap terisi. About stress???? dengan motivasi dan tujuan yang lebih terarah setelah punya anak, stress pasti bisa lebih terorganisir. Munurut saya….

    Sepakat, Ma. Kondisi setiap rumah tangga itu unik. Jadi, pelaku-nya-lah yang tahu apa yang terbaik bagi diri dan keluarganya

  8. canggih Says:

    Hua ha ha…yang lain pada stres karena harus ninggalin buah hati and keluarga buat bekerja, sedangkan aku stres buat nyari kerja….

    Ngga stres kok, dik. Siapa bilang ke Jakarta buat kerja? Aku ngga pernah nganggap ini kerja lho, tapi belajar yang digaji. Lak penak to

  9. Bundanya Dita Says:

    *Setelah baca komen mbak Sanggita untuk Mbak Nungqee*

    Setelah punya anak (baru 8.5 bulan sih), kok saya gak pernah sekalipun pengin resign dari kerja ya? Terlintas di benak pun tidak (atau belum?). Kalau baca ada FWM berkeinginan kuat jadi FTM, saya salut banget. That is a big decision. Jangan-jangan saya yang egois ya? -lho kok malah nanya…-

    Egois. Ngga. Egois. Ngga…*ngikutin suara cicak*…Huehehehe…Soalnya masih terobsesi dengan ambisi pribadi juga sih (kalo saya lho). Cuma kalo misinya berhasil, saya bisa jadi PTWM. Part-Time Working Mother *mulai ngaco bikin singkatan sendiri* tanpa kehilangan relasi, uang jajan, dan gairah intelektual yang sebelumnya dirintis.

    Jadi pas anak-anak mulai pra-remaja kelak, saya punya banyak waktu untuk memantau perkembangan emosi dan sosial mereka.

  10. Bundanya Dita Says:

    Yup…jadi PTWM, saya juga pengin itu. Yang ini sempat terpikir, tapi belum ada keberanian meninggalkan yang sekarang, kayak si Hem di buku Who Moved My Cheese😦 .

    PTWM sepertinya jalan tengah untuk perempuan yang ingin dapat keluarga sekaligus aktivitas kerja ya. Ini pun tetap harus direncanakan dengan matang sih, Bun. At least, bikin tenggat waktunya dari sekarang.

  11. paperbag Says:

    tapi ibu ibu kalo stress kerja banyak lho yang kerjanya dirumah jadi marah mlulu …!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: