Dalang sering menggunakan manajemen ayam

ki-enthus2

Ki Enthus Susmono dengan Rai Wong-nya

Hal paling pokok yang paling sering terjadi pada dalang adalah manajemen keuangan yang salah. Dalang sering menggunakan manajemen ayam, yaitu langsung menghabiskan uang yang diperolehnya,” ungkap Ki Enthus Susmono dalam salah satu wawancara dengan Kompas cetak.

Dalang yang mengukir prestasi di Rekor MURI sebagai dalang terkreatif dengan jenis wayang terbanyak (1491 wayang) ini bukanlah sosok asing bagi saya.

Dengan Bapak yang seorang dosen jurusan pedalangan di ISI Solo, bertemu dengan seniman terkenal dan para mahasiswa dari luar negeri yang ingin mempelajari warisan seni di Solo selalu menjadi kebanggaan bagi saya.

Sayang sekali, anak-anak Bapak tidak ada yang berminat meneruskan darah seni ini. Kami yang sedari kecil sudah diakrabkan dengan seni tari, karawitan, hingga naik panggung pun tetap tidak terpikir untuk berprofesi sebagai seniman.

Suasana latihan di ISI Solo (Wima masih 2 tahun waktu itu)

Suasana latihan di ISI Solo. Searah jarum jam : Bapak, suami saya, saya, Wima, Ibu, Wildan. Fotonya pantulan cermin lho

Wildan Saputra keponakan saya

Wildan Saputra keponakan saya

Oleh karena itu, merupakan kebahagiaan tak terkira ketika salah satu cucu Bapak saya – dari 11 cucu beliau – menunjukkan bakat dan minatnya dengan seni pedalangan.

Bocah ini adalah anak sulung adik saya. Usianya hampir 5 tahun.

Sejak usia 1 tahun, lebih senang menyaksikan VCD Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono daripada film kartun macam Dora, Tom and Jerry maupun The Transformer. *beda banget sama Wima yang keranjingan robot dan mobil-mobilan*

Bahkan dia tidak pernah sungkan bertanya dengan menggelendot di pangkuan Ki Enthus saat ada pertemuan dalang di Solo. Saya sangat bangga dengannya.

———————————–

Bu, hari ini aku ambil uang X juta. X juta buat aqiqah Willa, X juta buat belanja bulanan dan kebutuhan keseharian,” lapor suami via YM tadi malam.

Hehe, dengan kondisi kami yang tinggal berjauhan, pemegang keuangan rumah tangga memang dikelola oleh suami tercinta karena beliau memiliki kemampuan manajemen keuangan yang sehat.

Ah, tidak tinggal berjauhan pun, saya tetap akan serahkan tanggung jawab tersebut ke suami kok. Ya itu tadi, manajemen ayam seolah-olah sudah mendarah daging dalam tubuh saya dan trah keluarga. *sekarang masih ngos-ngosan belajar hemat

Nah, apakah Anda juga menggunakan manajemen ayam ini untuk pengelolaan keuangan keluarga?

Foto Ki Enthus Susmono diambil dari Kompas.com

15 Tanggapan to “Dalang sering menggunakan manajemen ayam”

  1. nungqee Says:

    apa hubungannya dalang dengan ayam?

    *masih blum mudeng*

    Hmm, dalang suka makan ayam? *sambi nggusah pitik*

  2. edratna Says:

    Aku juga masih belum mudeng…..seperti kata Nunung

    Zaman dulu jangan-jangan semuanya manajemen ayam, tapi tetap ada yang disisihkan kan? Mungkin juga, karena kalau habis dan ada kebutuhan mendadak, masih ada orang yang dimintai tolong.

    Lha kalau keluarga kecil sepertiku? Anak sulung? Kan nggak ada siapa-siapa….bahkan keluar rumah sakit, menggendong bayi yang baru lahir, hanya berdua suami.

    Nahhh, ituuu sanggit* dari tulisan ini, Bu. Get the point kan?

    *sanggit : ide/tema utama (dari bahasa Sansekerta)

  3. nh18 Says:

    HHMmm asik bener ini …
    Yang jelas … saya juga suka wayang
    Saking senangnya …
    Ke tiga anak saya (lelaki semua …) … saya kasih nama … nama-nama Ksatria pandawa … (urut dari 1 ke 3)(Sayang cuma 3 … harusnya tambah 2 lagi yang kembar ya ,…)
    BIar pas … (hehehe)

    Salam saya

    Wah, Pak. Nanti kalo ke Solo, saya jamu nonton wayang sepuasnya deh. Trus lanjut makan malam di GALABO. Segala macam makanan khas Solo tumplek bleg di sana. Beratap langit pula. Jalan sepanjang 500 m sengaja diblokir untuk pesta makanan setiap malam tersebut. Kalo perlu bareng Bapak saya, biar bisa ngobrol tentang wayang sepuasnya.

  4. orakarek Says:

    realease your tension http://www.geocities.com\lookingfor60

  5. Bundanya Dita Says:

    Mbak..pas fokus baca dari atas ttg Ki Enthus trus darah seni Wildan trus ujug2 kok ada tulisan “Bu, hari ini aku ambil uang X juta…..dst. Kayak 2 posting tabrakan😀

    Mana tabrakannya, Bun? Ada pembatasnya tuh😆 Niatnya sih ngikut gaya alurnya Butet, tapi kok malah mbingungi yo?

    Intinya ada di paragraf pertama dan 3 paragraf terakhir. Yang tengah itu cuma intermezo yang dihubung-hubungkan tentang seni dan dalang. Getuuu…

  6. kawanlama95 Says:

    Wah mbak sami mawon.Aku kalo udah hemat mungkin udah kaya dari dulu.Tapi apapun juga memang kita harus berhemat
    apalagi zaman lagi paceklik gini.

    Paceklik atau ndak, tetep harus hemat, Pakdhe. Masih banyak orang yang harus disantuni *weits, nggayai*. Tapi kok – menurut saya lho ya – hemat ndak bikin kaya ya? Kalo investasi dan bisnis sih iya.

  7. abdee Says:

    wahh, bapakmu mesti seneng nak duwe mantu koyo aku… sing penggemar berat wayang.

    Wis ga ono lowongan mantu, Mas. Wis dho dikapling.

  8. grubik Says:

    saya juga model menejemen ayam, thothol sana thothol sini, hehe…
    wah, putrinipun seniman wayang to mbak?

    Putrinipun sinten ingkang seniman wayang? Mas, anak perempuan saya baru 4 bulan lho.

  9. utaminingtyazzzz Says:

    ‘Nah, apakah Anda juga menggunakan manajemen ayam ini untuk pengelolaan keuangan keluarga?’

    berusaha supaya ENGGAK sih.. tapi susah juga, haha

    Usul : gedein aja penghasilan, tapi gaya hidup tetap seperti mahasiswa dulu, hehe. Tapi tetep mindsetnya beda ya. Yang dulu dianggap mahal, sekarang bisa dikonsumsi setiap waktu. Duh! Tanyain aja deh ke Nurul dan Anjar, mereka lebih ahli untuk ini. *nglirik Nurul*

  10. nungqee Says:

    grubik Says:
    Maret 4, 2009 pukul 5:25 pm

    “wah, putrinipun seniman wayang to mbak?”

    kayaknya maksute yang komen itu= Wah, Anda putri dari seorang seniman wayang tho mbak? (bukan putrinya mbak sanggita yang seniman wayang)… hehe😀

    Oh iya ya, berarti jawabannya :”Inggih, saestu sanget, Mas.”

    *mikir* Bahasanya yang rancu atau saya yang sulit memahami ya? Lah kok malah jadi pelajaran Bhs Indonesia to ki.

  11. nungqee Says:

    oohh.. jadi dalang suka makan ayam ya. (mencoba memahami)

    kalo pengalaman saya, dari kecil dibiasakan menyisihkan dulu sebagian uang jajan yang saya terima untuk ditabung, sisanya baru dibelanjakan, dan bener2 hanya untuk ditabung, bukan ditabung untuk suatu hari dibelanjakan. Jadi sampai sekarang kebiasaan itu terbawa..

    Tapi setelah menikah, saya cukup syok, apalagi saat pas setelah beli rumah, mepeeet banget, ga punya tabungan kok rasanya jadi nelangsa gitu, hehe.. padahal si mas nyantai2 saja karena sebenernya masih cukup sih

    Jadi menurut saya memang kebiasaan menabung itu harus dimulai sedini mungkin

    Wedhew, salut dengan Ibu dan Bapak-nya Mbak Nurul yang disiplin menanamkan kebiasaan baik. Iya, saya juga pernah baca kok tentang nasihat perkawinannya ibu Mbak bahwa perempuan harus pinter mengelola keuangan keluarga *jleb*

  12. canggih Says:

    Akan lebih mudah memahami tulisanmu “andai” profile wildan tidak masuk. dengan masukin profile Wildan, pembaca seolah diajak untuk menelusuri identitas keluarga kita. gitu lho sayang….jadi alurnya agak semrawut he he he.
    Inti dari apa yang disampaikan jadi nggak jelas. (ngomong-ngomong tuh nyindir to apaan?)
    Koq aku ngga punya tuh poto?he he…

    Huehehe..Bundanya Wildan turut nimbrung. Fotonya diambil pake hp mas Widie, dik. Okeh…okeh…kuakui tulisan kali ini agak maksa alurnya. Pakai pengungkapan identitas keluarga lagi. Nyindir? No no…hanya mengamini pendapat Ki Enthus😆

  13. mudz069 Says:

    Weleh, si ayam kian ngetop saja. Sebelumnya dipakai untuk melabeli mahasiswi yang hobbienya nyambi………ayam kampus. Sebelumnya lagi dipinjam buat menyebut semangat yang gak konsisten, yang cuma marak didepan……..hangat hangat tai ayam.
    Eh, sekarang dipakai sebagai brand sebuah manajemen.
    [kayaknya baru dengar ya].

    Aku terus terang juga agak bingung, opo sih hubunganne dalang karo ayam ?
    Setahuku sih dalang itu bisa “naik pangkat” menjadi dalang kerusuhan, sedang ayam gak bisa naik pangkat jadi ayam kerusuhan…….[hehehehe].
    Kalaupun ada ya cuma di Chicken Run.

  14. dwi Says:

    halo mbak… wah aku baru baca nih, menarik lho
    sayang kemarin rencana mau mengangkat profile ki enthus kandas karena terkendala pendalaman cerita kata temanku yang garap.

  15. Maskur Says:

    oooo itu Chicken Mangement ya, oke tak copy paste ya bu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: