Membiarkan pergi

monkeyAda ilustrasi menarik tentang konsep letting go. Ceritanya adalah bagaimana penduduk asli lembah Amazon menangkap kera. Penduduk asli itu menggunakan sebutir kelapa, sebutir kacang, dan seutas tali.

Salah satu sisi kelapa dilubangi agak besar dan di dalamnya diletakkan sebutir kacang. Di sisi satunya lagi, kelapa itu diikat dengan tali. Kera akan terus mengejar karena ingin kelapa yang bergerak dan juga ingin kacang di dalamnya.

Kera itu memasukkan tangannya ke dalam kelapa. Karena menggenggam kacang, kepalan tangannya yang lebih besar dari lubang kelapa tidak dapat ditarik keluar.

Kera itu panik dan berusaha menyingkirkan kelapa dari tangannya dengan memukul-mukulkan dan membentur-benturkan kelapa itu ke kepalanya. Tapi tetap tidak berhasil.

Apakah kera itu melepaskan genggamannya yang berisi kacang? Tidak. Akhirnya kera itu tertangkap dan melepaskan atau menyerahkan hidupnya, bukan kacangnya.

Cerita tersebut membuat saya terpekur. Selama ini saya terus mengumpulkan kacang. Kacang besar, kacang kecil. Kacang mentah, kacang rebus, kacang goreng. Kacang bagus, kacang jelek. Seringkali bukan butuh, namun berdasarkan ingin.

Ada berapa banyak kacang yang saya pegang terus? Ada berapa banyak kacang yang tidak saya lepaskan? Ada berapa banyak kacang busuk yang tak relevan lagi untuk disimpan masih terus saya pertahankan?

Tiba-tiba saya tersentak. Sudah siapkah saya kehilangan kacang paling enak?

5 Tanggapan to “Membiarkan pergi”

  1. abdee Says:

    hmmmm…. reflektif sekali ceritanya bu.
    saya jadi ikutan terpekur…

    *penthung mas Pei!*

  2. omiyan Says:

    manusia sekarang mengejar harta dunia tapi melupakan harta akhirat….

    Harta akhirat. Hmm, betapa saya sering lalai dengan yang ini.

  3. grubik Says:

    Ya bu, godaan kacang emang begitu menggiurkan, lha piye, langsung kroso enake je, dan sebenarnya manusia telah diberi peralatan yg menunjang dlm dirinya utk berpikir lebih panjang dari sekedar kacang..
    Tapi yo kuwi mau, kacange enak tenan je…

    Seperti pesan KH Zainuddin MZ : yang penting adalah pengendalian diri. Ya to?

  4. bodrox Says:

    Kacang paling enak itu, hidup itu sendiri ya bu. apa ada yang lebih tinggi dari eksistensi pribadi?

    he.. he.. he.. becande🙂

    Jadi pertanyaan katarsis itu kalo, kalo di balik kira-kira jadi: Saya udah siap mati belum?

    gitu ya bu kira-kira🙂

  5. canggih Says:

    Kayak lagunya LETTO…Perasaan kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya…mungkin (kata Aa Gym) ilmu yang paling baik di contoh adalah tukang parkir. Dia ngga pernah sombong walaupun punya banyak mobil…karena dia tidak pernah merasa memilikinya…Perasaan takut kehilangan pun hanya sebatas pada tanggung jawab dan amanat untuk menjaganya. KAcang-kacang tadi bukan hanya berujud UUD (ujung-ujungnya Duit), tapi bisa semuanya yang kita-rasa-miliki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: