Empat pertimbangan sebelum memutuskan resign

stop-and-thinkMenyambung tulisan Enam Alasan untuk Resign kemarin, berikut empat hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan resign :

1. Pastikan lagi bahwa keputusan Anda bukan karena emosi sesaat. Pertimbangkan matang-matang sehingga tidak menyesal kemudian.

Misalnya Anda tidak puas dengan careerpath dan people-development perusahaan. Cari tahu terlebih dahulu rencana pengembangan perusahaan ke depan.

Bisa jadi, saat ini perusahaan sedang melakukan rencana pengembangan (organization development) yang dibantu konsultan. Jika sistemnya sudah jadi, bukankah seringkali menguntungkan pekerja itu sendiri?

Atau Anda merasa jenuh karena role and responsibility yang tidak variatif dan berada jauh dari peradaban karena dikirim ke pedalaman hutan.

Probing lagi perasaan Anda. Apakah Anda memang merasa bosan ataukah sedang dalam kondisi penyesuaian saja. Share dengan atasan atau rekan kerja yang telah berhasil melalui masa transisi adaptasi. Mulailah lebih proaktif sehingga Anda tetap fun mengerjakan tugas-tugas kantor.

2. Tetaplah jaga hubungan baik dengan tempat kerja lama. Jika Anda ingin keluar karena gesekan dengan atasan maupun rekan kerja, carilah solusinya terlebih dahulu, selesaikan masalahnya.

Samakan frekuensi sehingga kedua belah pihak sudah merasa nyaman. Jaga tali silaturahmi. Karena silaturahmi membawa rezeki lho.

3. Pastikan bahwa Anda sudah mendapatkan ilmu yang mumpuni di kantor lama. Jika Anda keluar  dan ternyata knowledge maupun skill Anda sama saja seperti waktu masuk, sangat disayangkan ya.

Make the best of it. Rengkuh ilmu, keterampilan, dan kompetensi di pekerjaan sekarang sebanyak-banyaknya. Cetak prestasi. Jadi saat pindah, Anda memiliki nilai tambah.

4. Pastikan sudah mendapatkan tempat kerja baru yang lebih layak, bisa jadi tetap menjadi pekerja atau malah berwirausaha. Karena jika Anda serta-merta keluar dan belum mendapatkan sumber penghasilan yang bisa dijadikan pegangan, dapat menimbulkan stres yang tentu saja tidak diinginkan.

Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Dan wajar bagi kita jika menginginkan keputusan terbaik dengan resiko sekecil mungkin.

Yap, disinilah kemampuan manajemen resiko sangat dibutuhkan. Biasakan untuk selalu stop and think sebelum memutuskan sesuatu.

Bagaimana menurut Anda, adakah hal lain yang sebaiknya turut dipertimbangkan? Masukan dari pasangan mungkin?

11 Tanggapan to “Empat pertimbangan sebelum memutuskan resign”

  1. edratna Says:

    Saya agak susah mengomentari, karena saya bekerja sejak awal sampai dengan pensiun.
    Mengapa saya bisa bertahan lama?
    -Sebelum memutuskan bekerja di perusahaan tsb, saya telah mempelajari dengan teliti, bagaimana kemungkinan karir di perusahaan ini
    – Saya punya empat kelompok pertemanan: a) kelompok curhat (jika lagi jenuh, kita bisa mengobrol apa adanya), terdiri 3 orang yang benar2 memahami satu sama lain, b) kelompok gaul: dengan kelompok ini saya datang ke reuni, acara dansa, latihan aerobik sampai petualangan gila lainnya, c) kelompok penyemangat: disini kita belajar bahasa Inggris, belajar teknologi, dan hal2 lain untuk mendukung karir, yang dilakukan bergantian dan lebih banyak dirumahku karena ada satu ruang yang memang dikhususkan untuk belajar, d) kelompok rohani: disini hanya sedikit orang, namun benar2 membuat hati tenang, Saya bisa curhat pada teman dekatku tanpa takut dibocorkan. Sebaliknya dia dan suaminya menganggapku sebagai orang yang bisa memotivasi, mendorong semangat dan membuat berani.

    Dengan punya teman yang terdiri dari berbagai kelompok,saya belajar bahwa manusia makhluk sosial, tapi karakternya berbeda, sehingga perlu mempunyai teman yang aliran nya sama. Karena tak bisa dipaksakan, jadilah empat kelompok seperti itu.

  2. edratna Says:

    Duhh maaf…jadi kayak postingan tersendiri…..dan sekarang ada kelompok blogger, ini juga hal baru bagi saya, terutama karakternya yang masing-masing sangat berbeda. Dan saya baru pada tahap penyesuaian untuk kelompok ini.

  3. Norma Says:

    Yup, itu adalah jawaban dari kebimbangnku slama ini, kalo pengen resign sih ada karena alasan2 resign yang ditulis mb kemarin hampir semua kurasakan, tapi berfikir untuk memepertimbangkannya itu yang jauh lebih penting.

  4. Bundanya Dita Says:

    Tambah 1 lagi mbak, tunggulah moment yang tepat. Hehehe ini sih jurus gak mau rugi. Misal, resign setelah lebaran jd masih dpt THR. Atau setelah akhir tahun, siapa tahu ada bonus😉 . Ada nih temen saya memutuskan resign dan ingin berwiraswasta, tapi menunggu moment yang tepat. Ternyata moment itu adalah merger perusahaannya dg perusahaan lain. Jika resign pas proses merger, pesangonnya dapat lebih gede. Katanya sih emang ada peraturan seperti itu. Kata temen saya, lumayan buat nambah modal wiraswasta😉 . Dari kemarin komentar saya soal duit mulu ya hehehe. Saya sendiri tidak (belum) terpikir untuk resign. Belum ada alasan yang cukup kuat untuk itu sih.

  5. utaminingtyazzzz Says:

    salah satu pertimbangan terbesarku setiap kali resign adalah karier. mungkin ga sih aku berkembang di situ? kira-kira aku dikasi peluang buat ngembangin diri ga (dengan pelatihan, training atau kesempatan sekolah lagi)

    Alhamdulillah pertanyaan itu terjawab di tempat kerja yang sekarang🙂

  6. Arip Says:

    Karena pertimbangan nomer empat belum terpenuhi, terpaksa kembal ke status quo dulu deh…
    duhh!!!

  7. joe Says:

    ‘Pastikan sudah mendapatkan tempat kerja baru yang lebih layak…’

    betul, memang kalau tidak bisa mendapatkan yang lebih baik sebaiknya tidak usah resign…

  8. Pak Dhe Wicak Says:

    sepertinya pernah baca, tapi dimana ya??
    mungkin di blog ini juga kali ya..😀

  9. To be me Says:

    y nih……..aq bingung mau resign apa nda…
    lagi bete mikirin itu…eh..ternyata ketemu blognya mba…

    pas banget dengan aq….aq dah dapat pencerahan nya….
    aq coba dulu semuanya…..
    thanks y….

    Alhamdulillah, jika bisa turut membantu proses pengambilan keputusan. Itu salah satu misi keberadaan blog ini. Kalo sudah memutuskan, beri kabar ya…

  10. sjafri mangkuprawira Says:

    menarik untuk dikaji….apakah fenomena resign terjadi pada kalangan manajemen menengah atau manajer atau staf?….mengingat fenomena labor turnover di indonesia terbilang rendah….katakanlah di bawah 20%….mengapa lalu tak mau resign? karena memang tak banyak lowongan kerja….semacam tak ada pilihan….apalagi yang sesuai dengan kompetensinya…..

  11. Nuke Says:

    aku juga lg bingung, mau resign tapi gak enak sama atasan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: