Memahami bahasa asing dengan mudah

millitary-radarKamis (12/3) minggu lalu, saya menumpang kereta api ekspress jurusan Bekasi karena berniat menginap di rumah saudara.

Saat perjalanan, saya memperhatikan dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang berbincang dengan bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Kedua orang tersebut sama-sama duduk di bawah, di depan saya. Jika mengamati gayanya, saya menebak itu adalah bahasa Batak.

Wah, saya jadi ingat konsep pacing-leading dalam NLP yang pernah ditulis Teddy Prasetya Yuliawan – pendiri Indonesia NLP Society – yang juga teman seangkatan saya saat kuliah di Psikologi UGM.

Berikut cuplikan dari situs beliau : (dengan minimal-editing supaya lebih ringkas)

Membangun keakraban dengan pacing-leading

Bagaimana  pacing-leading bisa menjadi jalan untuk membangun keakraban?”

Demikian pertanyaan yang seringkali saya dengar pada beberapa kelas yang di dalamnya saya selipkan materi tentang cara membangun rapport ala NLP. Sebagaimana hobi saya memang amat gemar membagi pengetahuan apapun yang saya miliki sekalipun baru secuil, maka saya pun teringat pengalaman saya di kelas NLP for Teacher beberapa waktu lalu.

Bukan sulap bukan sihir, sebuah demonstrasi sederhana menggunakan prinsip pacingleading rupanya bekerja dengan amat baik untuk membantu salah seorang peserta mempelajari bahasa baru yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.

Bagaimana caranya?

Mudah saja. Kebetulan saat itu ada seorang kawan yang mampir di kelas, yang membawa kawannya lagi yang rupanya adalah orang Bali. Maka saya pun meminta kawannya kawan saya itu untuk maju ke depan.

Sementara itu, salah seorang peserta juga maju ke depan untuk menjadi subyek demonstrasi. Saya pun meminta kawannya kawan saya tadi untuk menggubah sebuah kalimat dalam bahasa Bali yang semuanya murni menggunakan kosa kata Bali.

Jangan sampai ada kata-kata yang umum di dalam bahasa Indonesia, gunakan hanya bahasa Bali,” tekan saya.

Maka ia pun menggubah sebuah kalimat dengan bahasa yang bagi saya betul-betul bahasa planet. “Sudah? Oke, sekarang ucapkan kembali kalimat tersebut dengan penuh penghayatan, sehingga seluruh bahasa tubuh Anda begitu selaras dengan isi kalimat tersebut,” lanjut instruksi saya.

Dan ia pun mengulangi kembali kalimat tersebut dengan penghayatan yang disertai dengan gerakan tubuh yang sesuai.

Setelah itu, saya pun meminta salah seorang peserta untuk menirukan persis kalimat tersebut berikut bahasa tubuh yang mendukungnya. “Tirukan saja, sepersis mungkin, setiap detilnya,” jelas saya.

Setelah beberapa kali ia mengulang, saya pun bertanya pada peserta tersebut, “Nah, jika Anda sudah merasa cukup persis melakukannya, sekarang, apa menurut Anda makna dari kalimat tersebut?

Mmm…persisnya kurang tahu ya. Tapi, rasanya kok seperti, ‘Saya tuh senang banget kalau pergi ke pantai‘,” jawabnya.

Ups, lagi-lagi saya tekankan, ini bukan sulap, apalagi sihir. Karena ini cuma pacing-leading kok.

Belajar meniru

Pacing-leading itu kan katanya ilmu meniru-niru, agar orang “merasa” sama untuk kemudian bisa kita arahkan. two-women-communicate

Nah, itu dia. Saya juga baru tahu setelah menguplek-uplek pelajaran dari para suhu NLP.

Dalam salah satu bukunya, Robert Dilts bahkan pernah menceritakan tentang penelusuran terhadap metode seseorang yang menguasai 40 lebih bahasa dunia, dan tidak pernah tertukar antara satu bahasa dengan bahasa yang lain!

Cara mempelajari bahasa baru

Usut punya usut, rupa-rupanya tidak jauh-jauh dari konsep dasar NLP tentang state alias kondisi pikiran-perasaan.

State dipengaruhi oleh representasi internal dan fisiologi (gerakan tubuh). Dan, state itu pulalah yang akan menjadi penentu munculnya perilaku tertentu.

Lagi state sedih, maka perilaku pun akan melow-melow. Lagi state gembira habis terima bonus, maka perilaku pun tebar senyum penuh pesona. Ketika state sedang percaya diri, bicara pun lancar. Saat state sedang grogi, maka menelurkan satu kata saja lidah kelu bukan kepalang.

Setiap bahasa pun memiliki state-nya masing-masing. Bukankah Anda merasakan emosi yang berbeda ketika bicara dengan orang berbahasa Jawa Solo? Bandingkan dengan bahasa Batak? Bagaimana dengan bahasa Minang?

Ya, mempelajari bahasa sejatinya adalah mempelajari kondisi pikiran-perasaan yang membangun bahasa tersebut. Masuk ke dalamnya, dan Anda akan mudah untuk memahami ruh darinya.

Maka tidak heran jika mereka yang pernah tinggal di negara tertentu selama beberapa bulan saja pastilah bisa menguasai bahasa negara tersebut dengan mudah. Bandingkan dengan seseorang yang les bahasa Inggris bertahun-tahun, lulus dan mendapatkan sertifikat dari lembaga bergengsi, namun masih terbata-bata ketika ditanyai oleh bule di Jalan Jaksa.

Kembali pada presuposisi NLP yang mengatakan bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Maka ketika kita mengikuti gerakan seseorang dengan penuh penghayatan, seketika kita pun diajak untuk merasakan kondisi pikiran-perasaan yang sedang ia alami. Tidak mengherankan, jika kemudian pacing-leading merupakan prinsip dasar membangun keakraban.

Bagaimana ndak akrab? La wong kita bisa merasakan getaran yang sama dengan rekan bicara kita. Bagaimana ndak merasakan getaran yang sama? La wong kita betul-betul menghayati gerakan tubuh dan pola bahasa yang ia gunakan.

Begitu kita berada pada state yang sama, kita pun bisa memiliki ‘gambar’ dan ‘suara’ yang selaras. Dengan sendirinya, kita pun bisa memahami map yang ia gunakan. Dan omong-omong, siapa coba yang tidak senang jika ia dipahami?

Demikianlah, pacing-leading yang diajarkan NLP bukanlah sebuah pepesan kosong belaka. Ia justru merupakan pesesan isi jika diterapkan secara benar dengan pengetahuan dan keterampilan yang benar.

Nah, omong-omong lagi soal benar ini tadi, inilah yang membedakan praktisi NLP pemula dengan berpengalaman. Mereka yang berpengalaman sudah mengetahui ‘rahasia kecil’ ini, the difference that makes a difference.

Kembali ke cerita di kereta tadi, saya pun diam-diam menirukan ekpresi dan gerak tubuh sang wanita. *hati-hati dengan cara ini, karena jika Anda tidak menyadari lingkungan sekitar, tatapan anehlah yang akan Anda terima* 😆

Tapi sebelumnya, saya lepaskan dulu apa yang sedang saya pikirkan dan rasakan. Saya lepaskan buku yang sedari awal di stasiun saya baca.

Apa yang terjadi? Subhanallah, saya tiba-tiba mengerti apa yang dirasakan sang wanita tersebut! Tiba-tiba saya merasa kesal dengan seseorang, dan merasa ingin mencurahkan kekesalan saya pada seseorang.

Ketika mata saya bisa bertatapan dengan sang wanita, saya pun tersenyum dan menyapanya. Setelah basa-basi sebentar hingga terbangun keakraban, saya sampaikan padanya bahwa saya tidak memahami bahasa yang ia gunakan bercakap-cakap dengan sang pria tadi sama sekali.

Saya hanya bertanya benarkah tadi sedang bercerita bahwa ia sedang kesal dengan seseorang dan – yang lebih mengesalkan lagi – orang yang dikesalkan tidak mau tahu bahwa ia telah mengesalkan. *hehe, olahraga kata dulu ya*

Wanita tersebut kaget. Dengan tatapan takjub, ia bertanya bagaimana bisa saya mengerti yang ia katakan padahal tidak bisa bahasanya sama sekali.

Saya cengar-cengir saja.

Terima kasih, Bang Teddy untuk pelajaran pacing-leadingnya. Pasti akan saya gunakan untuk mempelajari bahasa asing lain. *dan belajar memahami state pasangan 😀

8 Tanggapan to “Memahami bahasa asing dengan mudah”

  1. kellyamareta Says:

    ilmu baru neh, entar di coba ah …😀

  2. sanggita Says:

    😆 Lah, ternyata panjang banget postingannya ya? Pada mau baca ngga nih?

    *Nggit, kamu ngapain komen di blog sendiri? Pake fasilitas kantor lagi. Aneh.

  3. Bundanya Dita Says:

    Sabar mbak…jika tulisan miskin komentar bukan berarti gak dibaca lho😉. Nek tulisan isine apik tur nambah ilmu ki, lha mbok dowone koyo ngopo yo tetep diwoco mbak…🙂 .

    Mau nanya nih. Aplikasi detailnya gimana mbak? Kan nggak cukup sebagai pengamat trus menirukan ekspresi orang aja kan? Nantinya kan harus ada dialog juga menggunakan bahasa yang akan kita pelajari…Apa bedanya dengan metodenya yang sering didengung2kan kalau mau lancar berbahasa Inggris : sering2 lah bicara dengan bahasa Inggris.

    Maturnuwun, Mbakyu…
    Bun, pemahaman saya tentang NLP masih kulit banget ya. Cara belajar bahasa yang paling efektif ya menirukan cara anak2. Mereka menelan begitu saja kosakata baru dan dialek yang didengar.

    Supaya lancar, tetep aja harus sering berbicara dengan bahasa yang dipelajari. Misalnya menirukan dialog2 di film. Hanya saja, dengan NLP, kita dibantu untuk merasakan ruh bahasanya.

    Masih inget ngga waktu belajar bahasa Indonesia dan boso Jowo mulai dari Inggil sampe ngoko?

  4. Abdee Says:

    aku baca sampe akhir lho…

    saya jd tertarik dg kalimat;
    “Maka tidak heran jika mereka yang pernah tinggal di negara tertentu selama beberapa bulan saja pastilah bisa menguasai bahasa negara tersebut dengan mudah.”

    tp kan tergantung interaksi dgn bahasa negara tersebut kan. maksudku, jika kita tinggal di arab, tapi lingkungan kita indonesia banget, pasti akan menghambat kita menguasai bahasa arab.

    *lonjak2* Makasih, Mas. Tersanjung saya…

    Tentang alinea terakhirmu, tergantung niat juga ya. Misalnya, saya sudah setahun nyempal ke Sunda. Lingkungan Sunda. Tapi tetep aja ngga ngerti. Karena ngga niat, hehe. Seandainya, kita di Arab dan emang niat bisa bahasanya, meski lingkungan Indonesia banget, toh pasti bisa kok. CMIIW

  5. sibaho Says:

    wah, posting bagus nih. layak dipraktekkan. mau meluncur ke tkp NLP dulu mbak, mo belajar banyak. kelihatannya menarik. pantes anak kecil bisa cepat akrab walau bahasa belepotan…😀

    Inggih…silahkan

  6. achoey Says:

    postingan yang mantap mbak
    saya jadi mulai berpikir kembali untuk berani🙂

    Sip. Tapi harus disertai niat untuk memulai ya. Jangan berhenti di berani saja.

  7. wafimarzuqi Says:

    kalau bahasa arab gimana. bisa juga dengan mudah ta?maturnuwun.
    http://wafimarzuqi.wordpress.com

    Insyaallah, Mas. Tergantung niat juga kok😀

  8. yopie Says:

    artikelnya bermanfaat sekali mbak…..!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: