Facebook di mata saya

digital-era“Dragged into Facebook

Status Mr Xtremegears

(Blog penuh citarasa tekno yg ciamik?:D)

Awalnya saya sepakat dengan tulisan Mas Yodhia di Blog Srategi + Manajemen tentang Blackberry, Facebook, dan Hancurnya Peradaban Membaca. Bagi saya, wabah facebook hanyalah :

1. Digital narcism syndrome

Heran kenapa pada upload foto hingga ratusan gitu ya?

Jujur! Siapa coba yang bakal manteng foto-foto itu jika bukan kita sendiri sambil berkhayal bakal mendapat pujian dari sang pengunjung?

Tanya : Setiap Anda berkunjung ke facebook teman-teman, apakah Anda melihat foto mereka satu per satu? Ngga kan?

Saran : Cukuplah tampilkan foto yang mewakili informasi dasar berdasarkan FAQ (Frequently Asked Questions) tentang Anda.

Misalnya : Kerja dimana? Domisili mana? Anakmu berapa? Tak perlulah, sampai-sampai foto masa kecil di-scan untuk ditampilkan di facebook.

2. Pengakuan eksistensi

Ada semacam demam aneh yang menjangkiti : harus selalu update, harus selalu connected. Banyak sekali caranya. Misalnya status aneh-aneh, macam :  (maaf bagi yang saya kutip statusnya, hehe)

  • “yup…hari ini jumat, siap2..!” <– Komen : siap2 apa ya? ngga jelas
  • dag dig dug… <– tambah ngga jelas
  • kamu di mana..???, dengan siapa…??? <– Cukuplah untuk berdua, tak perlu seluruh dunia tahu, diajeng…
  • `plurk off` , tidur dulu… http://plurk.com/p/k6msp. <– Ya Alloh, udah nge-plurk, masih di-cc-in ke facebook lagi. Maksudnya? Wedhew, pengen jadi artis?
  • Pusuk ni tobu na poso, uramuram ni situma, Sungkunon ma gogo tu na poso, ruhut adat tu natuatua. <– Bentar bentar. Hmm, bahasa Batak nih. Pernah dengar pas di kereta kemarin. Tapi ya ngga ngerti-lah yaw wong ngga liat ekspresinya.
  • Ada yg udah ngerangkum nota keuangan, lap.bi, lap. perekonomian indonesia g ? <– Meneketehe, pake YM or sms aja kali ke yang ngerti ini. *mulai sewot*
  • Tiap hari bgitu mpe rumah pasti langsung gabrukkk ke kasur,,, *ngerjain tesisnya dlm mimpi aja dehh..* ha ha ha.. <– Udah beruntung bisa thesis, kok masih ngeluh sih??! *tambah sewot karena ngiri* 😆

Menurut saya, berikut status yang lebih bermutu dan cukup informatif :

  • Mengamati maraknya kejahatan baik pembunuhan, penganiayaan dan perkosaan yang dilakukan oleh mantan orang dekat, mengindikasikan adanya sesuatu yang salah… <– Bisa dieksplore lebih dalam nih. Kan asyik kalo membuka ruang diskusi gini
  • Has deleted his blogspot and created http://www…. , u’re welcomed ^^ <– Sip, langsung update karena blognya mengulas tentang ekonomi, sesuai profil penulisnya
  • Is hardly exploring and mapping what people calls problem? It reminds me to Robert Chambers’ famous writing: Whose Reality Counts.. <– Mari hunting bukunya
  • Lagi ikut training organizational development di Satunama mpe Sabtu😀 <– Pedekate buat nyuri ilmunya ah, hehe

Namun saya pikir ulang, apa tidak terlalu pesimis dan judgemental ya? Toh ujung-ujungnya bertolak di prinsip Man Behinds the Gun.

Kemudian saya menceburkan diri menjadi Facebookers, tidak hanya menjadi pengamat nan sinis seperti sebelumnya. Sejak Selasa (17/3) kemarin, saya merasakan sendiri berselancar di dinding-dinding teman. Menghabiskan minimal 4 jam sepulang kerja.

Seperti apa sajakah kebermanfaatan facebook versi blog ini? Bentar, saya udah harus berangkat ke kantor. Sambung nanti malam ya…😀

12 Tanggapan to “Facebook di mata saya”

  1. mamas86 Says:

    Thank’s infonya ya…? Sangat bermanfaat

  2. Palembang Says:

    Hello
    salam kenal ya..
    ku indra
    senang berkenalan dengan kamu

    By :
    http://palembang-musi.blogspot.com/

  3. achoey Says:

    hehehe
    saya malah belum terbiasa gunakan FB
    tahu2 teman saya dah banyak aja😀

  4. Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen Says:

    Tengoklah hasil survei berikut, yang di lakukan di Inggris:
    Workers who spend time on sites such as Facebook could be costing firms over £130 M (atau lebih dari Rp 2 trilyun!!) a day, a study has calculated. According to employment law firm Peninsula, 233 million hours are lost every month as a result of employees “wasting time” on social networking sites.

  5. abdee Says:

    makanya saya gak pernah upload foto2 di fesbuk.

  6. edratna Says:

    Sebetulnya tergantung kondisinya kok…..temen2 saya, kegiatan FB maupun ngeblog paling hanya seminggu sekali, pulang kerumah udah malam, hari-hari dipenuhi banyaknya kerjaan dari pagi sampai malam.
    Sayapun ngecek FB, kalau ada waktu…dan rajin up load foto pas habis kopdar (hehehe), soalnya yang lain menunggu.

  7. Unsilster Says:

    skrg ini pake Facebook udh sprti pake Twitter aja, cuma dijejali oleh status updated friends kita. Padahal sprti diutarakan diatas, kebanyakan status updatenya gk penting🙂
    “off dlu yakh, mw bobo…”
    mending klo yg nulisnya gadis cantik,manis, menarik, dan seksi kan bisa berkhayal untuk nemeninnya he..he..

  8. agoyyoga Says:

    Udah beredar di FB juga? cari aku ya.😉
    Soal foto, aku paling cuma up load satu dua, lantas kalau ada puluhan itu karena di-tag ama teman, sampai foto jadul yang nggak tahu siapa yang motret juga beredar. Jadi aku bisa bikin dokumentasi dengan baik.

    Heuheu, kita sama. Foto banyak karena di-tag sama temen2. Satu hal yang cukup mengganggu : e-mail jadi penuh! Gimana sih caranya biar ngga menuh2in e-mail?

  9. hmcahyo Says:

    wah diblog saya ada hasil talkshow tentang fecebook vs blogger

    Weits, keren-keren…*langsung koprol ke TKP

  10. KauTsaR Says:

    fb jelek.. blogger keren…

    —–😆 Ah, masya’?!?

  11. juno Says:

    hai sanggita….nice writing…

    satu lagi, facebook tuh sebenernya arena interaksionisme simbolik….
    tapi mungkin status2 yg kayak kamu sebutin di atas penting untuk orang yg external locus of controlnya cukup tinggi, sehingga pengaruh peer support-nya juga cukup tinggi

    ——
    Sepakat, Jun. Ini yang disebut Jean Baudrillard (CMIIW) dengan imajinasi hiperrealitas. Dan saya paling suka quote-nya : “Kita tak lagi dapat membedakan antara imitasi dan realitas. Bahkan lebih suka memilih yang imitasi karena mereka jauh lebih tampak nyata.”

    Setelah mencebur jadi facebookers, saya juga sempet terpeleset untuk can’t live without it. Tapi akhirnya bisa sih puasa dikit-dikit. Hmm, jadi merenung setelah baca komenmu ini. Thanks for your inspiring comment, pal!

  12. Do You have a Facebook? Antara Narsis dan Networking | Run! Says:

    […] link yang berhubungan dengan artikel ini. Tags: […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: