Perlukah menggunakan hak suara dalam Pemilu kali ini?

votePemungutan suara tinggal menghitung hari. Diumpamakan seorang ibu yang sedang mengandung, minggu-minggu ini adalah masa yang paling sibuk sekaligus menegangkan : sang janin akan keluar. Para caleg dan partainya pun semakin gencar mengeluarkan amunisinya. Demi mendapatkan sebanyak-banyaknya suara.

Bagi orang awam akan politik seperti saya ini, semua hiruk pikuk tersebut sungguh sangat melelahkan. Mulai dari sampah visual di jalan-jalan hingga mempelajari platform setiap profil. Demi mendapatkan wakil terbaik untuk memimpin negara ini, versi saya tentu saja.

Belum lagi kegerahan dan ketidaknyamanan saya ketika mempersepsikan politik dengan : intrik dan konspirasi. Terbersit keinginan untuk tidak memilih apa-apa dan siapa-siapa.

Mengapa tetap menggunakan hak suara?

Saya menghargai hak, kebebasan, dan tanggung jawab masyarakat yang demokratis. Saya adalah warga negara yang peduli dan memiliki informasi. Saya terlibat di dalam proses politik untuk memastikan suara saya didengar dan hak pilih saya dihitung.

Sekembalinya saya membaca salah satu kalimat visi yang saya tulis 6 tahun yang lalu tersebut, saya berhenti dan berpikir : bahkan kalimat itu saya tulis satu tahun sebelum Pemilu pertama saya!

Ya, saya sendiri memiliki kesadaran penuh untuk tetap menggunakan hak suara sebaik-baiknya bahkan di saat saya belum cukup umur untuk memilih.

Disadarkan oleh alam

Dalam perjalanan menuju Jakarta dini hari tadi, saya melihat pohon-pohon lebat di kanan-kiri jalan tol. Malu rasanya ketika menyadari betapa setiap daun di dahan-dahan pohon menjalankan fungsinya dengan maksimal.

Dan ketika semua daun tidak ada yang mogok dengan mengeringkan dirinya, apa yang kita dapatkan? Pohon rindang yang menaungi kita saat panas menyengat, pohon yang menyuplai O2 di siang yang gerah.

Kemudian lamunan saya berlanjut pada sang tubuh. Dengan kesadaran luar biasa, setiap organ penting dalam tubuh saya menjalankan fungsi mereka sebaik mungkin.

Tadi pagi, otak saya tersetel otomatis untuk bangun pukul 02.15, 15 menit lebih cepat daripada alarm yang saya setel. Adrenalin (dan kortisol😀 ) saya diproduksi lebih banyak sehingga saya terjaga dari lelapnya tidur yang baru saya cicip 3 jam. Jantung, lambung, ginjal, dan paru-paru saya menyesuaikan perubahan mendadak tersebut. Tanpa protes.

Saya malu menyadari semua itu. Saya – yang selalu berteriak-teriak sebagai manusia yang berakal, yang berbudi – menyerahkan diri pada keputusasaan dengan tidak menggunakan hak pilih.

Sekecil apapun peran saya bagi bangsa dan negara ini, saya tetap memiliki harapan. Harapan akan Indonesia yang lebih bermartabat. Saya akan berperan serta dalam proses transformasi ini. Yah, selirih apapun renik suara saya.

Bagaimana dengan Anda, Kawan?

Bagi para petinggi yang telah kami percaya, tolong tetaplah terjaga.

Related Posts :

Enda Pecas Ndahe

Gundah Melihat Parpol di Padepokan Budi Rahardjo

Solihin on Menghitung Dana Pemilu

20 Tanggapan to “Perlukah menggunakan hak suara dalam Pemilu kali ini?”

  1. sofwan.kalipaksi Says:

    Halo. Salam kenal.
    Di mata saya, menjadi golput atau tak menggunakan hak pilih adalah juga sebuah pilihan politik. Adalah juga hak asasi kita sebagai warga negara.

    Analoginya begini. Kita punya obsesi utk memilih barang berkualitas. Jika ternyata tak ada yg sesuai dengan kualifikasi yg kita kehendaki, pilihannya dua:
    – memilih yg terbaik dari yang terburuk
    – tidak memilih.

    Betul, bahwa pilihan pertama lebih bijak. Tp sekali-kali hrs juga tunjukkan sikap kedua, spy si produsen tau bahwa barang mereka tdk layak utk dipilih.

    Tks.

    http://www.kalipaksi.wordpress.com

  2. Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen Says:

    Saya termasuk pemilih yang rasional. Tahun 2004 saya memilih PKS. Namun kinerja mereka selama 5 tahun ini kurang oke; setidaknya secara ideologi saya banyak yang ndak setuju dengan pemikiran ekonomi mereka.

    Untuk tahun 2009 ini, saya akan memilih PD – SBY. Jujur, saya kira dia cukup berhasil memimpin negeri ini; dan untuk kestabilan + kesinambungan, maka saya merasa perlu memilih partai dia.

  3. deboeng Says:

    Ak tidak terdaftar je sebagai pemilih, jadi bagaimana caranya menyalurkan hak pilih ?

  4. Ki Syafrudin Says:

    @sofyan.kalipaksi

    Analogi anda menurut saya tidak tepat.

    Dalam memilih barang untuk dibeli, andai ada 100 buah barang, barang yang tidak dipilih akan terpajang sebagai tidak laku.

    Sedang dalam Pemilu, andai Golput 70% sekalipun (seperti yang sudah sering terjadi di luar negeri), Pemilu tetap sah dihitung dari 30% yang memilih dan orang tetap bilang demokratis.

    Jadi Golput bukan berarti “memilih untuk tidak memilih”, lebih tepat Golput itu “mendukung siapapun pemenangnya”, termasuk jika pemenangnya penjahat sekalipun.

  5. abdee Says:

    yang jelass…. saya akan tetap datang ke TPS..
    😆 Menghitung kertas suara kan ya?

  6. ufi yusuf Says:

    saya malah ndak ada yang datangi untuk didata, huaaaa

    Tuh, lapor sama Abdee bagian pendataan.

  7. fahmi Says:

    wah dari tulisan di atas sanggita ternyata sedang bersahaja dengan mendaku sebagai awam dalam politik. padahal dari uraian di atas sudah tampak sangat sadar politik. Kalau saya sebelumnya pasti memilih, tapi kalau sekarang harus mempertimbangkan kembali sikap saya itu.

  8. wewe Says:

    jadi…. ya perlu ya pilih caleg ?, ditempat saya ada 5 caleg yg bagi2 ke org2 ada yg 25rb ada yg 50rb termasuk ke saya. Rencananya sih mo saya pilih semua, kan dah kasih uang ke saya…. gmn ni?

  9. sigit nugroho Says:

    bagi saya memilih itu harus rasional.
    tidak ada barang bagus ya setengah bagus…tidak ada yang setengah bagus ya seperempat….begitu dan seterusnya. ibarat memilih pasangan hidup ya begitu…kecuali ada yang berprinsip kalau tidak “si dia” aku tidak akan menikah. ah…biarlah itu jadi cerita laila-majnun atau romeo-juliet.
    bagi anda yang sudah menikah apakah anda ketika menemukan kekurangan pada pasangan anda, Anda akan mengatakan ya sudahlah aku ganti yang lain…atau aku tidak akan ceraikan dan tidak akan menikah lagi..TANPA SEBELUMNYA MEMBERIKAN UPAYA UNTUK MEMPERBAIKI.
    naif sekali….
    begitu juga kita….kadang kita mengharapkan orang lain (baca :parpol) seperti malaikat dengan segala kelebihan dan tanpa cacatnya. padahal jika kita mau jujur dengan diri kita, sudahkah kita seperti itu? akankah kita lebih baik jika diposisi mereka?
    kenapa parpol banyak yang jelek dan tidak sesuai dengan harapan kita?boleh jadi karena kita “investornya”. kita tidak pernah mendidik masyarakat untuk berpolitik dengan baik karena kita sibuk dengan diri kita sendiri.

    “jika anda muslim maka anda akan dilempar ke neraka terlebih dahulu dibanding penyembah berhala jika orang disekeliling anda berperilaku buruk sedang anda tidak pernah mengingatkan” meskipun anda orang baik.

    tapi saya kadang ragu apakah kita sudah mendapatkan informasi yang proporsional dan objektif tentang parpol di dalam negara yang terbiasa dengan fitnah, media-media partisan serta wartawan-wartawan sogokkan.

    silahkan GOLPUT jika menurut anda itu ada manfaatnya…tapi saya akan memilih yang terbaik diantara yang jelek-jelek karena saya peduli dengan bangsa ini dan satu-satunya regenerasi kepemimpinan negara hanya terbuka lewat parpol (menurut UU).

  10. osolihin Says:

    Hmmm.. ternyata di-link juga tulisan saya di blog Anda ini. Terima kasih dan salam kenal..

    Soal pilihan memang itu hak ya. Jadi bisa menggunakan, bisa juga tidak. Toh, dalam demokrasi memang diatur. Tapi bagi saya sendiri, sebagai muslim, saya lebih mementingkan syariat daripada maslahat dalam pandangan manusia. Karena setiap orang memang akan dihisab berdasarkan apa yang dilakukannya (diperbuatnya).

    Ah, maaf, kok saya malah menggurui di sini, saya sekadar “menyuarakan” suara yang sudah sayup-sayup tak terdengar. Suara perubahan di tengah derasnya arus yang terus menggerus sisi-sisi keyakinan kita sebagai manusia akan adanya hari akhir dan pertanggungan jawab sebagai manusia yang harus menyembah penciptanya dan mengikuti semua aturan penciptanya (dalam bahasa Islam, sebagai agama yang saya anut, itu persoalan akidah dan syariat secara sekaligus).

    Golput mungkin saja tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi, setidaknya saya sendiri tidak ikut-ikutan dalam memilih yang sebenarnya tidak layak pilih menurut syariat dalam agama saya. Demokrasi, bagaimana pun juga bertentangan dan menentang Islam sebagai ideologi. Jadi, saya sendiri akan lebih memilih Islam sebagai ideologi ketimbang demokrasi. Dan, Islam sebagai ideologi tak bisa diperjuangkan dengan benar dan maksimal melalui jalur demokrasi.

    “Keterbatasan demokrasi ini harus disadari oleh kelompok demokrat dan kelompok politik syariah yang memperjuangkan aspirasi politiknya di jalur demokrasi. Demokrasi tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh demokrasi itu sendiri.” demikian pernyataan Dr. Saiful Mujani (http://islamlib.com/id/page.php?page=article&id=89)

    Terima kasih dan salam kenal untuk semuanya.

    O. Solihin

  11. astarisekarayu Says:

    dengan ikut pemilu juga permasalahan bangsa belum tentu selesai..🙂

    apalagi caleg2nya banyak yang aku gak tahu.. sekarang pelaku politik lebih mementingkan partai dan dirinya sendiri. yang sudah2 juga begitu…..

  12. sigit nugroho Says:

    yang tidak sepakat demokrasi setahu saya kalau demo ke DPR juga yang nota bene produk demokrasi..he2

    -“secara ideologi demokrasi bertentangan dengan islam” bagimana jika itu hanya sebagai sarana/alat mencapai tujuan? setahu saya Ismail Yusanto “HTI” juga mengaminkan hal ini.
    – “yang sudah2 juga begitu…” karena pilihan dominan rakyat ini masih yang begitu-begitu…tengok saja pemilu dari dulu ya golkar/PDIP terus yang menang…birokrasi isinya ya itu-itu saja. makanya bagi anda yang tidak yakin ganti dong dengan orang yang lebih baik….jika anda mengatakan tidak ada lagi orang yang baik,,…..he2 bagimana dengan anda?

    seorang bertanya kepada Ali ra : ya Ali kenapa jaman ini lebih buruk dibandingkan jamannya rasulullah?
    jawab ali : ya karena dulu ketika rasulullah memimpin rakyatnya seperti aku dan ketika aku memimpin rakyatnya seperti kamu.

  13. Bappilu Partai Golkar 09 Says:

    Memilih memang merupakan hak, wacana tentang golput yang merebak dimana mana memang sebuah kecenderungan logis jika melihat kinerja DPR atau DPRD yang belum bisa mengangkat masyarakat ke posisi yang ideal, tapi, mungkin sekarang saatnya kita berfikir seperti Ki Syafrudin. Mari kita berandai andai, jika saja golput diatas 60%, sangat mungkin mereka adalah simpatisan partai yang sudah digalang oleh partainya masing masing, kebanyakan yang melakukan penggalangan dengan baik adalah mereka yang saat ini masih duduk di DPR/DPRD (punya modal yang memadai), artinya jika golput banyak, bisa jadi yang terpilih adalah mereka yang sekarang sedang duduk di DPR/DPRD dan sirkulasi yang diharapkan saat pemilu tidak terjadi, akhirnya sebagian orang menyimpulkan dengan sederhana, bahwa golput berarti tidak ingin adanya perubahan.

  14. Ki Syafrudin Says:

    @osolihin:
    Tapi, setidaknya saya sendiri tidak ikut-ikutan dalam memilih yang sebenarnya tidak layak pilih menurut syariat dalam agama saya.

    menurut saya, tidak ikut-ikutan memilih sebenarnya secara syariat sudah ikut memilih, yaitu mendukung siapapun yang jadi pemenangnya, termasuk jika kebetulan yang menang penjahat sekalipun.

  15. Pedy Says:

    Sungguh naif mereka haramkan golput dengan dalih agama:

    Top 10 Alasan Sesat Wajibnya Pemilu

  16. Mahendra Says:

    Hak suara ibarat pisau bermata dua… Jika kita tidak tahu ilmu menggunakannya, maka pisau itu bisa melukai diri kita sendiri…

    Tidak menggunakan hak untuk memilih itupun juga hak suara yang dimiliki setiap orang. Bukankah hak suara memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk bersuara juga sekaligus untuk tidak bersuara.

    Hak berbeda dengan kewajiban… Hak boleh digunakan, tapi juga boleh untuk tidak digunakan. Apabila anda seorang karyawan, anda berhak untuk mendapatkan gaji. Tapi apakah gaji itu akan anda terima atau anda tolak, itu hak anda. Toch pimpinan anda atau bagian personalia tidak bisa memaksa anda harus menerimanya.

    Jikalau ada yang mewajibkan untuk menggunakan suara dalam memilih, maka itu bukan lagi hak suara melainkan kewajiban suara.

    Ikut berperan agar Indonesia menjadi lebih baik dalam bentuk sekecil apapun adalah kewajiban setiap warganegara yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan menggunakan hak suara untuk memilih.

  17. mudz069 Says:

    Saat hendak memberi komen, saya teringat dengan sbuah iklan balsem di televisi.

    Banyak gerak bikin badan jadi capek. Kurang gerak bikin badan tambah capek

    Weh, kalimat opo iki kog gak menehi pilihan blas. Serba salah.

    Enaknya ambil gitar aja, nyanyi bareng bareng dengan nada dasar C minor, dimulai saat ketukan 5/4.
    ……….jreng jreng……….
    rubah masa depanmu dengan tangan bila kau mampu, rubahlah dengan bibir bila kau telah layu dan rubahlah dengan hatimu bila memang kau mencoba jadi benalu……………..jreeeenggg.

  18. Yari NK Says:

    Memang sebaiknya kita tidak golput, namun masih mendingan golput daripada ‘salah pilih’. Tetapi yang penting kita usaha positif dulu. Ya, masing2 berusaha positif mempunyai perspektifnya sendiri2…… Mereka2 yang mengurangi resiko negatif bisa jadi juga dipandang sebagai usaha yang positif….. tidak ada yang absolut…. tidak ada yang paling benar……

    Nah… yang jelas…… jangan pilih caleg yang telah melukai banyak pohon di pinggir jalan…… Kalau kita malu dengan sang ‘pohon’ maka sebaiknya kita lupakan mereka2 yang sudah ‘melukai’ pohon. (Kalau tiang listrik atau pagar sih nggak apa2… huehehehe……)😀

  19. AriefDj™ Says:

    ..perlu.. sapa kali ada manfaatnya sedemikian sehingga orang yang pantas dan layaklah yang jadi wakil rakyat.. Secara sistem yang dipake adalah suara terbanyak, terlepas yg terpilih itu kompeten atau tidak, karena latar belakang sang pemilih itu juga beda2, maka akan tidak beradab rasanya jika membiarkan saja hal itu terjadi tanpa berpartisipasi.. kasarannya, dengan kemampuan mencari informasi yang lebih mumpuni dibanding sebagian besar rakyat di negeri ini yang berada di pelosok negeri, mestinya WAJIB deh memilih wakil rakyat yg kompeten berdasar analisis data yg dipunyai terhadap sampling2 yang ada..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: