Anakku bandel sekali_part 1

orgil

Jepit jemuran : selain dijadikan robot-robotan, ternyata bisa jadi jepit rambut. Asli kreativitas Wima sendiri. Lihat tampang tengilnya. Tobat tenan.

Sudah cukup lama saya mendengar complain dari mama dan suami tentang kebandelan Wima. Sebentar saja ditinggal dan tidak mendapat perhatian, dia akan :

  • Menyiram tembok di ruang tv hingga kamar tidur dengan air minum
  • Mencoret-coret tembok dengan pensil warna
  • Berteriak-teriak hingga membangunkan Willa yang tidur terlelap
  • Berlari-lari di dalam rumah
  • Memanjat apa pun yang yang bisa dipanjat
  • Melempar mainan, terutama mobil-mobilan

Tidak hanya di rumah, demikian juga di sekolah. Hingga Sabtu (21/3) kemarin, saya memutuskan untuk observasi perilaku Wima di kelas. Dengan ikut masuk kelas tentu saja.

Selama 45 menit di dalam kelas, berikut daftar kegiatan Wima :

  • Lima menit pertama, nempel terus sama saya. Glendat-glendot sambil cengar-cengir manja.
  • Lima menit kedua, duduk manis di bangku dan mengikuti apa yang diinstruksikan guru di depan kelas.
  • Lima menit berikutnya dan seterusnya : mulai gelisah. Asyik sendiri dengan bermain balok. Naik-naik bangku. Gelitikin leher teman sampingnya. Dorong-dorong kursi mengelilingi kelas. Dan yang ekstrem, masuk kolong meja. Ngapain coba??!

What a mess! Kelas jadi gaduh. Teman-temannya tidak bisa mengikuti pelajaran karena Wima menjadi focus-distraction. Saya juga cuma bisa cengar-cengir asem melihat kelakuan anak sulung saya itu.

Tapi dengan mudah saya bisa memahami Wima sih. Yap! Karena Wima mirip saya dulu waktu kecil. Saat-saat seperti inilah –  jika kita tidak memahami kondisi anak dengan baik – akan dengan mudah memberi stempel : Anak nakal, anak bandel, atau anak susah diatur. Ibu-ibu, ini sangat berbahaya lho. Karena bisa mematikan keberanian, kreativitas, dan keingintahuan anak.*pengalaman pribadi, euy!*

Tentu dua pertanyaan berikut selalu menggelayut di benak ibu-ibu :

  1. Apa penyebabnya?
  2. Dan yang paling penting : bagaimana mengatasinya?

Nah, tahan dulu ya. Karena penulis harus segera ke kantor, tulisan ini bersambung. Apalagi membaca blog terlalu panjang kan ngga asyik yak.

(continued)

9 Tanggapan to “Anakku bandel sekali_part 1”

  1. Bundanya Dita Says:

    Yaaa….tulisannya terlalu pendek mbak😀 . Sambungannya besok ya? Jangan kelamaan atuh… *hehehe pembaca ngatur penulis😀 *

    Hehehe, apa sih yang engga untuk mbak Ririn?😀

  2. Akmal Says:

    Mbak, Wima kayaknya seperti keponakan saya, Hakim. Awalnya dia makin bandel pas adik saya melahirkan. Mungkin jg dia begitu karna pingin perhatian sama abah-ibunya, dulunya dia akrab bangat sama ibunya, tapi pas punya adik, merasa seperti adiknya merampas segala perhatian abah-ibu, apalagi kelahiran adiknya itu pas dia lg umur 1,5 thn.

    Mungkin manajemen perhatiannya masih timpang ya, Mbak. Baiknya sih kalo sang ibu sedang pegang adik, ayahnya/figur lekat lain yang menjaga si Hakim. Jadi dia tidak merasa ditinggalkan dan dilupakan.

  3. zefka Says:

    emang punya anak kecil merupakan sesuatu yg menyenangkan, ttpi juga merupakan hal yg “memusingkan” ketika dia jadi besar.

    Anak besar atau kecil, tetap menyenangkan kok. Anak besar atau kecil, tetap akan terus memusingkan juga:lol:

  4. ufi yusuf Says:

    like mother, like son ya bu?
    suamiku bilang karma, hihihi
    saffa juga mirip banget sama aku yang ndak bisa diem, cerewet dan keras kepala
    jadinya, suamiku malah protes kok karma ngjak2, soale dia dulu pendiem, hehe

    Coba ntar perhatikan kalo udah ada adiknya saffa (kapan, jeung?). Bikin kita buka-buka lagi buku Psikologi Perkembangan-nya Hurlock ya, Fi. Tobat tenan…

  5. Maju Mundur Says:

    tanya aja kakek neneknya, dulu gimana cara mengatasi bapak ibunya wima, hihihi…. guyon…

    Suami saya sih anak idaman, Mas : nurut, anteng, sayang adik, ngga banyak omong (tapi suka mikir = bakat dari kecil), berprestasi di sekolah, cakep lagi (halah opo to, ki). Pokoknya, dia tuh child from heaven deh. Jadi mama dan amarhum papa sih seneng2 aja.

    Beda dengan saya : child from d’hell. Suka berantem sama anak2 cowok, manjat pohon, tersesat waktu sepedaan (umur 3 tahun), pergi tanpa pamit sampe ibu panik (TK), keras kepala, sak dek sak nyet (setiap minta harus langsung dipenuhi). Saya sering kok diancam mau dimasukkan ke sekolah anak2 nakal. Itu SLB bagian apa ya? 😆

  6. mudz069 Says:

    Melarang anak nakal bakal mematikan keberanian dan kreatifitas…………………..weh, ki ilmu tekan ngendi ?
    Sing duwe ilmu ngono mung pabrik deterjen.

    Jargonnya jelas : kotor itu baik. Ndak kotor berarti ndak ada kreatifitas
    Itu analogi yang sesat dan menyesatkan. Lha wong tujuannya cuma satu biar produknya tambah laku. Makin kotor makin laris.

    Ilmu kayak gitu sebaiknya ra usah digagas.
    Target kita ya kreatif tapi bersih, kreatif tapi gak nakal.
    Kalau masih nakal berarti ada driver yang gak beres, perlu di up 2 date.

    Coba lebih teliti bacanya, Mas. Bukan melarang anak, tapi memberi anak label : anak nakal/bandel/susah diatur. Karena labeling menyerang pribadinya, menurunkan kepercayaan dirinya, dan tentu saja anak akan terhambat proses pembelajarannya.

    Anak tetap harus dilarang, dalam koridornya. Dengan cara yang bijak dan waktu yang tepat. Dan yang ditekankan adalah peneguran atas perilaku, bukan kepribadian.

    Itu sih yang saya dapat waktu di kuliah dulu, dari baca buku, dari diskusi dengan pakar, dan direfleksikan ke pengalaman sendiri.

    Terima kasih untuk komentarnya yang – kayak bapak saya nih – cerdas dan tajam. Silahkan lanjut ke part 2 posting ini😀

  7. edratna Says:

    Hahaha…itu lagi melatih kesabaran ayah bundanya
    Anak sulungku malah sampai umur 10 tahun menjadi anak manis…sebelum sekolah, aturan yang paling didengar adalah kata ibu…kemudian menjadi “kata Pak/Bu Guru”. Walau ingin tahu nya besar, tapi karena dilingkungan rumah dan sekolah, tetap bisa dikendalikan.

    Rupanya setelah 10 tahun, dia mulai bereksplorasi keluar rumah, pulang kantor saya, mendengar dia cerita tentang Kalideres, padahal tempat tinggalku di Cipete Selatan. Lha apa nggak deg2an..akhirnya terpaksa diajari baca peta, cara naik bis, bagaimana mencari jalan pulang ke rumah.
    Setiap anak memang berbeda…dia lagi ingin menunjukkan eksistensinya

    Iya nih, Bu. Otot sabarnya sedang dipermainkan Wima.
    Wah, mbak Ani nyenengin ya waktu kecilnya. Anak idaman. Iya juga, Bu…mereka sedang menunjukkan keberadaannya dengan secara tidak langsung ingin bilang : Aku bisa sendiri kok. Great point, Bu!

  8. ekojuli Says:

    salam kenal

    Mencari Cara Mengasuh anak Tanpa Memarahi, apalagi dengan kekerasan:

    klik: Mencoba Mempraktekkan Reward & Punisment pada Anak

  9. hanny Says:

    saya sangat senang ada artikel seperti ini, tetapi saya ingin tahu kelanjutannya bagaimana cara mengatasinya, karena dilkelas tempat saya mengajar ada anak didik yang seperti ini berbagai cara sudah saya lakukan tetap saja tidak berubah,tolong yah artikelnya sangat saya nantikan, terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: