Anakku bandel sekali_part 2

Salah satu polah Wima. Sekali lagi, itu cuma salah satu!

Salah satu polah Wima. Sekali lagi, itu cuma salah satu!

Bagi ibu-ibu yang memiliki anak usia 1-4 tahun, tentu sangat memahami betapa melelahkannya menjaga si kecil di usia ini. Ada beberapa hal yang layak dicatat :

1. Ketahui penyebabnya

Rasa ingin tahu yang besar, ditambah daya eksplorasi motorik yang memang sedang tinggi-tingginya, pastilah membuat sang ibu kewalahan. Fasilitasi aja, ibu-ibu..

Sudah baca tulisan di blog ini yang Darimana Balita Belajar, kan? Berikut potongan tulisan favorit saya : *tulisan sendiri kok difavoritin

Biarkan ia mengeksplorasi lingkungannya. Biarkan tangan kecilnya menyentuh pasir, rumput, dan bunga. Biarkan ia mengamati semut yang berjalan beriringan. Biarkan ia mengejar kupu-kupu dengan kaki telanjang. Tugas kita adalah memandunya. Bukan sekedar melarang dan memarahi, yang kelak hanya akan memandulkan kreativitas dan potensinya.”

Kalo kasus Wima, pelanggaran batas –  seperti yang saya tulis di posting sebelumnya (part 1) – salah satunya dikarenakan  kurangnya perhatian.

Jika saya amati, bukankah jika dia melakukan kreativitas kelewat batas, saya dan ayahnya – yang sibuk sendiri-sendiri – jadi memperhatikan dia? Yaitu menegur. Cara itu seringkali digunakan Wima untuk memanipulasi perhatian kami berdua. Be aware with their manipulation! 😀

Kadang saya jelaskan bahwa ibunya sedang mengurus dedek Willa (memandikan, memberi susu, menidurkan) karena adiknya belum bisa sendiri. Tidak seperti aa Wima yang sudah besar, badannya tinggi, sudah bisa jalan dan lari-lari, bisa makan sendiri, dan seterusnya. Saya jelaskan juga kalo Wima waktu kecil juga seperti itu.

Masalahnya, waktu untuk menjelaskan seperti itu kan lama padahal urusan lain sudah sangat urgent. Dan butuh kesabaran ekstra untuk tidak serta merta menegur dengan amarah. Biasanya saya minta tolong suami untuk meng-handle Wima dulu (atau sebaliknya, saya bermain sama Wima, suami yang mengurus keperluan Willa). Karena Wima lebih mudah belajar dengan one on one. Dia masih minta perhatian penuh.

Rentang bosannya juga pendek apalagi kalo di kelas (Wima ikutnya kelas TK nol kecil) yang masih menggunakan metode : anak duduk manis, guru menerangkan di depan. Saya juga masih bingung mencari PAUD yang cocok untuk Wima. Sepertinya di Sukabumi belum ada sekolah-sekolah dengan kurikulum inovatif seperti PAUD di Jogja yang pernah saya tahu deh, macam First Step, Book Monster, PAUD Psikologi UGM.

Oke, let’s lanjut ke poin kedua yah..

(continued)

9 Tanggapan to “Anakku bandel sekali_part 2”

  1. junjung Says:

    no komen,,,😀
    *belum punya anak*

    Ntar komennya pas tema tulisan yang nyambung aja ya

  2. genthokelir Says:

    kebanyakan anak yang bandel pasti cerdas hahaha
    aku dulu katanya juga bandel hahahahaha

    Berarti mas Totok cerdas donk? Ceileeh…*semoga logika ini bukan logika sesat ya, hahaha*😆

  3. me Says:

    whaa, saya jadi lebih pede mbak habis baca ini. anak saya lagi suka meraih benda, dan semua bakal masuk mulutnya. saya cuma mencari mainan yang bahannya berkualitas, mencuci bersih. kalao dilarang malah tambah nge-cess liurnya ntar, hehehe

    Umur dibawah dua tahun adalah fase oral, Mbak. Jadi wajar kalo anak suka memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Tapi kalo udah lewat usia itu masih suka ngemut2, berarti ada masalah fisik or psikologis yang harus digali.

  4. Bundanya Dita Says:

    Kalau anak perempuan segede Wima, rata2 mungkin gak seaktif itu ya mbak. Dita sekarang sudah merangkak, semua benda di sekeliling dia dihampiri dan di raih. Kaca buffet ditepuk2. Benda-benda kecil di lantai dijumput. Semua yang bisa diklethek, ya diklethek. Pokoknya gak bisa diam. Ya memang fase nya seperti itu. Walau meletihkan, saya lebih senang Dita spt itu, daripada anak duduk lesu tidak bersemangat🙂

  5. mama ryan Says:

    @ Bagi ibu-ibu yang memiliki anak usia 1-4 tahun, tentu sangat memahami betapa melelahkannya menjaga si kecil di usia ini.
    Sutuju!! seringkali hari minggu menjadi hari yang amat sangat melelahkan dibanding hari kerja, karena penjagaan anak menjadi tugas utama hehehe

    @Kalo kasus Wima, pelanggaran batas – seperti yang saya tulis di posting sebelumnya (part 1) – salah satunya dikarenakan kurangnya perhatian.

    Pendapat saya amalnya juga begitu, karena saya punya keponakan yang seumurn dengan Ryan, yang tidanya penurut dan sngat kalem, berubah drastis 180 derajat (semua pengakuan orang seperti itu) sejak dia pisah sama Ibunya yang bekerja di semarang, dan ikut neneknya yang masih bekerja, sehingga kalo pagi hri dititip2kan ke tetangga.

    Anakku juga sering ditinggal kami (papanya didepan komputer,mamanya sibuk sendiri) dia mencari bentuk perhatian dengan berulah-ulah. Walaupun amarh yang dia dapat, mungkin dia berpikir itu bentuk perhatian daripada tidak sama sekali.

  6. edratna Says:

    Anak TK seharusnya memang lebih banyak bermain, apalagi anak seumuran Wima, yang keingintahu annya besar.
    Kedua anak saya dulu masuknya TK negeri, jadi banyak bermainnya….memang seharusnya TK seperti itu.

  7. nungqee Says:

    kalo saya, katanya dulu penurut, tidak bandel, tapi gedenya cerdas juga tuh😛

    ——
    Suit suit…tak diragukan lagi kok. Lulus cepat dan cum laude kan? Hebat bener ibu satu ini…

  8. ekojuli Says:

    numpang nempel tulisan sist

    Mencari Cara Mengasuh anak Tanpa Memarahi, apalagi dengan kekerasan:

    klik: Mencoba Mempraktekkan Reward & Punisment pada Anak

  9. bundarazan Says:

    lam kenal ya dik dari miss nita, ini miss sanggita mantan miss bm dulu bkn? kita satu perguruan dik, hanya aku resign duluan jauh sblm sanggita datang. masih keinget bm to dik? smg segera menemukan skul yg cocok uu wima ya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: