Haruskah “kembali ke rumah”?

susan-chira“Ketika ibu bukan lagi selingkar penuh kehadiran yang menyapa kegembiraan dan kesedihan sang anak, ketika bahkan kehadiran itu bukan lagi sebuah kepastian, apakah yang kita ingat lagi tentang ibu kita?”

Karlina, dari Kata Pengantar Ketika Ibu Harus Memilih (Susan Chira, 1998)

Terus terang, kegelisahan yang sama senantiasa membayangi saya. Setiap saat. Tanpa pilih-pilih tempat.

Sejenak saja kehilangan fokus terhadap apa yang sedang saya lakukan, dengan mudah saya tersedot dalam ruang aneh nan gelap. Bergulat dengan rasa bersalah dan menyalahkan. Mengobrak-abrik ketenangan yang selama ini susah payah saya bangun.

Saya adalah ibu anak saya. Bagaimana bisa saya membayar orang untuk mencintai anak-anak saya?” Demikian pertanyaan retorik dr Laura Schlessinger yang semakin memerihkan hati. Seorang psikolog yang sangat tajam mengkritik ibu bekerja.

Saya dilahirkan di era internet. Zaman dimana kondisinya sudah sangat berbeda dengan kisah pingitan RA Kartini lebih dari seratus tahun yang lalu. (Keresahan yang bisa saya rasakan benar saat membaca Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer)

Situasi yang juga buah dari perjuangan para perempuan pemberani sebelum saya ini  telah membuka lebar-lebar ruang gerak para perempuan. Saya diizinkan melakukan apa saja yang saya suka. Menjadi siapa pun yang saya mau. Tak perlu lagi takut dan sembunyi-sembunyi untuk menulis dan menyatakan pendapat. Bahkan lembaga pernikahan bukan lagi sebagai bentuk pengebirian kebebasan perempuan, jika dibandingkan dengan jalan hidup nan ironis RA Kartini.

Namun kondisi itu ternyata melahirkan dilema baru. Dilema untuk memilih salah satu : aktivitas profesional ataukah anak-anak. Keinginan yang sangat untuk tetap bekerja sekaligus menjadi ibu yang baik adalah sebuah kemustahilan. Karena salah satu memang harus dikorbankan. Benarkah demikian?

Ironisnya, masyarakat cenderung menyepelekan ibu yang tinggal di rumah sekaligus menuduh ibu bekerja telah menelantarkan anak-anak mereka. Sosok ibu dan tugas keibuan telah terdistorsi hingga melahirkan ketakutan dalam diri perempuan.

Jika ia bekerja, entah demi kepentingan ekonomi ataupun demi menemukan diri yang utuh, seakan-akan dia menanggung dosa bagi segala kerusakan yang ada di masyarakat. Ibu yang bekerja meninggalkan anak-anaknya, menyuburkan anak-anak yang tak berperasaan, tak pintar, apalagi bermoral.

Ini pun diperkuat dengan segala macam Teori Kedekatan! Yap, bahkan Teori Kedekatan menjadi hantaman bagi ibu bekerja. Datang dengan menawarkan penjelasan ilmiah tentang sesuatu yang secara naluriah diyakini sebagai kebenaran.

Saya muak. Saya geram. Tak adakah jalan tengah bagi ibu gelisah seperti saya ini? Lelah rasanya jika saya terus merasa bersalah sepanjang hidup.

Pada satu titik, saya pun memilih untuk berhenti bergejolak.

Langkah pertama adalah dengan membedakan antara pengabdian dan pengorbanan. Pengorbanan tidak selayaknya mendapat tempat dalam kosakata keibuan. Seorang ibu dapat mengabdi pada tugasnya – entah bekerja atau tidak – tanpa perlu mengorbankan dirinya sendiri. Namun ini tidak berarti ketiadaan mengorbankan sesuatu.

Setiap pilihan berujung pada konsekuensi yang harus diterima. Ibu yang bekerja bersedih karena waktu bersama keluarga berkurang. Dan ibu yang memutuskan berhenti dari pekerjaan kehilangan jati diri yang ia peroleh lepas dari nama suami ataupun anak-anaknya.

Saya sepakat dengan jawaban akhir akan pencarian Susan Chira : bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri…tak terabaikan.

Sanggita

Jakarta, 3 April 2009

In commemoration of Women’s International Day (March, 8 ) and Kartini Day (April, 21)

Catatan penulis :

  • Anda diizinkan untuk meng-copy tulisan ini. Namun syaratnya sederhana saja : cantumkan alamat blog ini https://sanggita.wordpress.com/2009/04/03/haruskah-kembali-ke-rumah/ pada tulisan yang Anda kutip.
  • Artikel di atas mungkin akan menimbulkan pro dan kontra di antara pembaca. Blog ini terbuka dengan perbedaan pendapat karena opini Anda akan memperkaya tulisan, tentu saja. Hanya, berpendapatlah dengan santun dan bermartabat.
  • Terima kasih telah menggunakan waktu berharga Anda untuk singgah di rumah maya ini.

 

27 Tanggapan to “Haruskah “kembali ke rumah”?”

  1. nungqee Says:

    setujuuuuuuuuuuuuuuuuu mbak sanggita..

    ga da hubungannya bisa mendidik dengan baik/tidak dan ibu bekerja/pengangguran😀

    tugas mendidik memang tugas utama seorang ibu (orangtua lebih tepatnya, bukan hanya ibu saja), bisa dengan berbagai cara, toh jaman udah canggih seperti sekarang.

    Belum tentu ibu yang di rumah saja, anak2nya selalu bisa terdidik dengan benar, dan belum tentu juga ibu bekerja, anak2nya akan selalu kurang kasih sayang, kalau ibu bisa sepenuhnya melaksanakan fungsi dirinya, aku rasa semua bisa dijalani dengan baik. Asal ya itu tadi harus sepenuh hati🙂

    cayoo mbak.. jangan sia2kan perjuangan RA Kartini, xixixi😛

    oiya aku ingat ada dialog yang membuatku terinspirasi tentang ibu yang meminta ijin suaminya untuk bekerja, suaminya bilang “bu, aku lebih suka ibu bekerja, karena dengan bekerja, ibu bisa menyelamatkan dan mendidik ratusan anak di negeri ini, kalo ibu di rumah saja, ibu hanya akan bisa mendidik anak2 kita saja”. Very inspiring😉

    —–
    Saya sangat salut dengan keputusan Mbak Nurul untuk menjadi FTM. Sebuah keputusan jujur karena mendengarkan hati nurani. Yap, saya juga sepakat bahwa jika sang ibu harus bisa menjalankan fungsi dirinya sepenuh hati.

    Quote terakhir : I love it, Mbak…

  2. nungqee Says:

    tes tes, mbak kayake komenku masuk spam lagi deh, dipungut ya😦

    —–
    Sampun to? 😀

  3. devinzh4 Says:

    Mbak, di paragraf 5 disimpulkan kalo perempuan menikah sekarang jd lebih ‘bebas berekspresi’ salah satunya dengan bekerja di ranah publik sedang di paragraf 7, dibilang kalo masyarakat masih mandang negatif ibu2 yg kerja. jadi sebenernya masyarakat kita itu gimana sih? masih menomorduakan perempuan atau udah mulai berubah menghargai perempuan (bekerja atau tidak)? -kalo liat pengalaman pribadi sm temen2 deket sih, kayaknya udah ga ada stereotip negatif buat perempuan pekerja, baik dr tetangga2 rumah, temen kantor, apalagi suami- Tapi siapa tau bisa sharing, mgkin Mbak sanggita sndiri pernah punya pengalaman ga enak gara2 peran ganda jadi Ibu dan perempuan pekerja? selain konflik internal, tentunya.
    Hehe… maaf agak ga nyambung sm artikelnya🙂 Blog bagus, mau ta’taruh di blogroll (ato apa namanya) tapi ga bisa caranya. hehe…maklum masi baru di wepe..

    —–
    Untuk kalimat di dua paragraf tersebut, saya menggunakan common sense, Mas karena belum membaca ulasan mendalam sekaligus statistik mengenai persepsi terhadap ibu bekerja kaitannya dengan pola pengasuhan anak. Monggo kalo ada yang mau menambahkan… *Yang ada sih kebanyakan persepsi terhadap gaya kepemimpinan atasan 😀

    Secara personal, stereotip negatif terhadap keputusan saya bekerja sih belum pernah ya. Cuma tetap saja ada yang merasa risih dan aneh karena saya berani meninggalkan anak-anak yang masih balita berhari-hari hanya untuk sebuah pengembangan diri.

    Mualaf wepe? Kesini deh http://afatih.wordpress.com/tutorial-blog/

  4. agoyyoga Says:

    Sedang terburu-buru say. Dua kalimat ini dulu:- tulisanmu makin hari makin bernas. Keep up the good work!

    —–
    *nggondheli Yoga* Ntar balik lagi ya, Ga..

  5. Wong Bingungan Says:

    Apakah pekerjaan ibu yang paling mulia di sisi Alloh? Yaitu mengasuh, mendidik, menemani anak-anaknya hingga anak-anak kita itu memahami dan mengenal akan Tuhannya, nabinya, agamanya, kitab suciNya, dan sampai iman kepada hari pembalasan, dimana orang tua juga akan dimintai pertanggung jawaban terhadap pengasuhan anak-anaknya. Jika ada anak durhaka kepada orang tua, maka orang tuapun ada juga yang dinamakan durhaka kepada anak, karena tidak mau memberikan pendidikan dan pengarahan kepada anak-anaknya, karena lebih mementingkan karier dan semacamnya, sehingga anak itu tidak memahami hal-hal di atas. Makasih n salam kenyal mbah Sanggita.😀

    —–
    Mbah??! Mbak kali ya…
    Saya sepakat, Mas Wandi. Memang semua yang diuraikan di atas adalah misi utama setiap orangtua ya.

    Pesan utama tulisan saya sebenarnya hanya satu kata kok : ikhlas. Apapun bentuk aktivitas sang ibu, harus disertai semangat pengabdian, tanpa perlu mengorbankan dirinya. Mengabdi lebih dekat dengan keikhlasan dan pemenuhan daripada pengorbanan.

    Pengorbanan berkesan negatif. Jika seorang ibu mengorbankan dirinya, tentu akan ada emosi-emosi yang ditekan dalam bawah sadar. Dan apa akibat dari model pengasuhan yang dilakukan oleh ibu yang mengalami gangguan (baik dalam level tertipis sekalipun)?

    Lagi-lagi, diskusi ini akan bermuara pada : neraca kesetimbangan. Betul begitu?

  6. masjaliteng Says:

    karena hidup adalah pilihan maka pilihan yang terbaik kita lakukan adalah sesuai dengan kemampuan kita. yang tiap orang berbeda proses dan tujuannya😉

    —–
    Hmm, saya suka kalimat : ‘tiap orang berbeda proses dan tujuannya…’ Individual differences itulah yang terus mengingatkan untuk tidak terlalu kebangetan memaksakan pandangan ya.

  7. grubik Says:

    Hidup ibu sanggita..!!!

    —–
    Hieh??!

  8. Mengapa akhirnya mantap.. « little notes about my life Says:

    […] | Tags: Dunia wanita, full time mother, Ibu bekerja | No Comments  I really love this post : Haruskah “kembali ke rumah”?, thanx mbak sanggita for inspiring […]

  9. Bundanya Dita Says:

    Saya speechless membaca tulisan mbak yang menyentuh ini… Gak tahu harus nulis apa. Cuma bisa berterima kasih, tulisan mbak setidaknya menguatkan ibu bekerja yang mengalami kegelisahan yang sama…

    PS. Sepakat dengan mbak Yoga, tulisan mbak makin “yummy”…..

    —–
    Hehe, tulisan ini sekedar penguatan bagi setiap ibu yang ingin mengabdikan dirinya, dalam bentuk aktivitas apapun : 24 hours mother, pekerja kantoran 8-5, enterpreneur, social-worker, ataupun yang melanjutkan jenjang pendidikan, Mbak Ririn.

    Asal memahami benar apa yang menjadi tugas utamanya dibalik titel paling bergengsi di dunia, yaitu ibu.

  10. utaminingtyazzzz Says:

    menarik banget.. walopun belum mengalami dilema itu, tapi tetep suatu saat pasti akan menghadapi hal yang sama

    ——
    Sip. Dulu, jauh sebelum menikah, saya sering membaca buku, artikel maupun jurnal-jurnal tentang keluarga dan perkawinan baik dari kacamata psikologi, agama, maupun secara konstruksi sosial, Put. Jadi, waktu ada yang melamar, sudah punya frame harus seperti apa. Makanya umur 21 sudah berani menikah. Ngga ada ruginya deh dengerin curhat emak-emak kayak gini 😉

  11. dhilacious Says:

    belum jadi ibu nih saya..😀

    ——
    Semoga menambah wacana ya, dik *sok tua*

  12. Rindu Says:

    Buat saya ibu bukan hanya harus dirumah tapi WAJIB dirumah … orang orang besar lahir dari Ibu yang dirumah, sanggup kah kita meletakan tanggung jawab yang 8 jam kepada orang lain, darah daging kita loh itu.

    *serius amat sih saya, maaf mbak*

    ——
    Hehe, seriusnya asik kok. Mungkin tulisan ini tidak hanya ditujukan bagi ibu bekerja 8 jam ya, De. Kebetulan saja starting tulisannya dari pengalaman pribadi. Btw, terima kasih ya sudah sudi mampir ke blog ini. Ditunggu selalu komentar2 cerdasnya…

  13. hmcahyo Says:

    kalo saya suka pulang …🙂

    ——
    Sama, Pak.😀

  14. w4onecom Says:

    artikel nya bagus bgt, pesan moral nya tersampaikan dengan baik untuk para calon ibu dan para ibu, dan wawasan tambahan buat para calon bapak dan para bapak,.,
    hehhee,,

    salam,,

    ——
    Makasih wawan (bener kan ini namanya?) atas apresiasinya…Wawan sendiri bapak or calon bapak nih?

  15. Cah Angon Says:

    wah ternyata ketengan bisa diobrak-abrik ya mbak kirain cuma bajunya saja yang bisa diobrak-abrik. . . . . . .

  16. gwgw Says:

    salam kenyal ya mbak….
    tulisannya bagus…n pantas dikomentari….:-)
    kasih gw kritikan ya mbak…thx

  17. arisnb Says:

    menurut saya berhenti bekerja bagi seorang Ibu tidaklah akan melepaskan jati dirinya yg telah didapat selama ini, justru akan memperkuat jati dirinya yg sebenarnya. Dengan menjadi Ibu dan merawat si kecil dirumah maka tatkala si anak menjadi orang sukses, maka si Ibu telah mendapatkan keberhasilan yg besar karena telah menyelesaikan tugas yg di amanahkan dari Pencipta alam semesta kepadanya. Di situlah jati diri akan ditemukan.

  18. silvi Says:

    salam kenal mbak sanggita…Tulisannya inspiratif dan menyentuh….dan kata-kata yg paling ‘menyentuh’ saya adalah…’Saya adalah ibu anak saya. Bagaimana bisa saya membayar orang untuk mencintai anak-anak saya?’

  19. freztstep Says:

    salam kenal mbak sanggita. pemula wepe ni.hihi.

    satu hal yang kusuka di wepe, bnyk banget tulisan2 yg mnarik,mungkin karena latar belakang penulisnya yg beragam ya??

    mbak mau nanya, kl dari kacamata seorang psikolg, bagaimana melihat fenomena anak2 yg kurang perhatian dari orang tuanya, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja.

    oh ya mbak, di blog ini ada forum untuk konsultasi ndak ??
    terima kasih sebelumnya

  20. freztstep Says:

    btw mbak, boleh kok iseng blogwalking ke madarmawan.wordpress.com
    hehehe.xixi

  21. denspurnomo Says:

    salam kenal mbak…
    wow, dari tadi saya muter2 wira-wiri nyari sesuatu yg hangat2… wuiiingg…. akhirnya nemu ‘blog cute’ milik mbak Sanggita. hmmm… tulisan yg ‘mak nyuusss’ dihatiku… terimakasih… tengyu… sembah nuwun…

  22. Ajie Says:

    Aih..aih…seneng deh mampir kesini🙂

    hehehe..kayaknya judul “Psikolog juga Manusia” dipostingan ini juga pas mbak Sanggita..hihihi.
    soalnya saya pribadi kadang terbeban (curhat mode on) jika ada yg menanggap psikolog/org yg pernah serius mempelajari psikologi itu ‘sakti’, kebal ‘masalah’ yang berkaitan dengan hidup kejiwaan, punya ilmu tingkat tinggi yang jika masalah datang bisa ditumpas sampai musnah (tinggal debu dan asap kayak di film anak2..:P)

    dr Laura Schlessinger ‘juga manusia’ kok mbak, kritik terhadap ibu bekerja juga bukan ‘sabda’ yg wajib dipatuhi.
    Ah…mbak Sanggita pasti lebih tau itu semua (wong senior kok..hehehe). Teori Kedekatan (saya ibaratkan seorang cewek) walau terlihat manis ia juga bisa galak, cerewet, dan kadang tak bisa memahami orang lain. Pendek kata lagi2 hanya sebuah teori yg juga bisa dikritisi lagi.

    Dan dikotomi antara : ibu bekerja=abai vs ibu di rumah=kuper(hihi gak punya kata lain) juga tentu tidak tegas. Pengaturan waktu, kualitas pertemuan, dsb menjadi hal yg lebih menentukan. Dan menjadi tantangan dan keasikan tersendiri. Menguji kreativitas. Misalnya sedang ngajar di kelas sambil nggendong atau nyuapin anak misalnya…hihihi…kan asik tuh…hahaha…apalagi sambil pake daster…masker…timun….hihihi.

    Yah EGP dikiiitlah apa kata orang. Ah..saya bisanya cuma ngomong..gak tau gimana rasanya jadi mamanya anak2
    (itu kalimat yg akrab ditelinga saya dirumah..hahaha).
    Hadapi dengan senyuman aja dah dan saya juga sangat sepakat dengan paragraf terakhir.

    Update teruuus mom and kiddienya (obsesi : ayah yang selalu berkata…”ku tau yang kau mau” kepada anak istrinya) ;P

  23. mira Says:

    dear mbak…
    kalau bisa memilih aku juga mau jadi ibu rumah tangga
    masalahnya kalau aku nggak bekerja siapa yang mau membiayai anak2 aku…???
    sungguh bukan suatu pilihan untuk merawat dan mendidik anak dan menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi merupakan keharusan.
    tapi segala sesuatunya pasti memiliki alasan tertentu dan harapanku aku bisa melihat anakku berhasil

  24. mamaniwa Says:

    dear anggi,
    tulisan yang bagus banget…kalo menurut saya apapun profesi kita baik ibu pekerja maupun di rumah yang penting qta ikhlas ma pilihan yang qta ambil, dan tetap terus belajar jadi ibu yang baek. Sekarang kalo d rumah, tp stress dengan daily life, bawaannya marah2 mlulu, anak jg ga bs berkembang maksimal, begitu jg dengan ibu pekerja, kalo ampe rumah udah capek trus males maen ma anaknya jg ga bagus kan. Jadi buat ibu pekerja ga usah gelisah yang penting bs menempatkan diri ketika d rumah bener2 full buat anak…buat ibu yang d rumah…sisihkan sedikit waktu untuk dirimu sendiri biar selalu fresh saat mengasuh anak2mu…

  25. mamaray Says:

    Ah, Mbak Sanggita, dilematis sekali memang… saya juga sering ‘tarik-ulur’ perasaan itu…

  26. FTM? : a Choice to Consider « AlBew : Living the Path Together Says:

    […] tulisannya jeng Nurul mengenai keputusannya untuk resign dan menjadi FTM bagi putrinya, Azkia; tulisannya jeng Sanggita (aku jadi pengen baca buku ini ni… Ketika Ibu Harus Memilih (Susan Chira, 1998)) yang […]

  27. Miftahul Jannah Says:

    Saat ini saya FTM yang rindu bekerja hahaha… Hampir sampai dua tahun usia Zahra, disapih ASI, lalu aku bisa menjumput rindu bekerja itu. Tapi malah terasa berat melepaskan keasyikan yang hampir 2 tahun ini… akan bagaimanakah Zahra-ku jika aku benar2 telah bergelut dengan public area? Well, karena blog ini menghormati perbedaan pendapat, saya termasuk yang mengambil pijakan dalam berbuat dari norma dan nilai syariat (Islam). merujuk pada fitrah bahwa jumlah wanita>pria, dan jumlah anak>wanita, dan kedekatan fisik dan emosi anak yang lebih pada ibunya (asbab mengandung dan menyusui)… maka sesungguhnya kita para wanita tak bisa mengelak bahwa sudah menjadi fitrah pula bahwa ibu adalah madrasatul uula (pendidik pertama) bagi anak-anaknya, kalau kita memang menginginkan bahwa ‘al jannatu tahta li-aqdamil ummaahaat” (surga itu letaknya di telapak kaki ibu) dan ibu berhak dihormati tiga kali lebih tinggi daripada bapak. Saya kira Tuhan pun telah memberi reward yang pantas untuk fitrah ini kan?… so, zaman ini memang membuat para ibu banyak berada dalam dilema…hehehe… mudah2an dilema itu menunjukkan bahwa kita benar2 bertanggungjawab dengan fungsi dan peran kita sebagai ibu (bekerja di luar rumah maupun bekerja di rumah). Asalkan (mengutip paragraf ke-2 dari akhir tulisan) kita siap bahwa Setiap pilihan berujung pada konsekuensi yang harus diterima.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: