Kabut di perjalanan Senin dini hari

car-dashboard-nightTepat pukul 2.45 pagi di setiap hari Senin, saya bersiap meninggalkan Sukabumi menuju Jakarta. Ritual yang dulu sangat saya benci namun sekarang berlahan-lahan saya nikmati.

Ternyata pagi itu berkabut. Kaca mobil bagian depan menjadi buram. Dari 130 km jarak yang harus ditempuh, mobil terpaksa berhenti di km 13. Pun meski telah dibersihkan, jarak pandang hanya 5 m ke depan. Sedikit terbantu karena pendar-pendar lampu.

Tapi dengan mantap, mobil terus melaju. Seolah ia tahu ke mana arahnya, rute mana yang harus dilalui, dan kapan harus sejenak berhenti. Namun sebenarnya, mobil sekedar menyusuri aspal jalan yang disediakan. Ia hanya berpegang pada peta dan kompas dari Sukabumi menuju Jakarta.

Ah – pikir saya – bukankah demikian pula hidup?

Sepanjang saya tahu apa yang ingin diwujudkan dalam sepenggal jatah waktu ini. Sejauh saya mampu melihat dengan visi, yaitu sepasang mata possibility. Tak ada lagi yang perlu saya khawatirkan. Saya tinggal menyusuri jalan yang tergambar di peta dan sesekali melihat kompas, sekedar mengawasi apakah sudah berada pada arah yang pas.

Mobil yang saya kendarai terus menderu. Ada kalanya ia harus lihai melewati kelokan dan lubang jalan, tak jarang  harus memiliki kesabaran ekstra ketika berada di belakang kelambatan truk besar. Ada waktunya juga saya menikmati kelenggangan ketika berada di jalan tol Dalam Kota. Sayang, setelah beberapa lama, jalan yang terbentang itu malah membuat saya  terlena.  Mobil seolah kehilangan kelihaiannya berkelit. Tak ada lagi keterampilan memainkan pedal gas dengan cantik.

Hidup adalah dualisme yang menyatu, batin saya. Gelap-terang. Dorongan nafsu-desakan moral. Sehat-sakit. Hidup-mati. Ketika saya merasa, bukan berarti saya berhenti berpikir. Saat saya sedih, tak berapa lama saya pasti merasakan indahnya bahagia.

Seperti kopi yang akan terasa lebih nikmat jika sedikit pahit. Coklat pun terasa lezat jika sedikit pekat. Saya pasti kehilangan selera jika mutlak manis. Untuk kemudian saya nikmati keduanya sambil terus mengasah gergaji. Seperti yang dipesankan Stephen Covey.

Saya pun tidak selalu menatap ke depan kaca mobil. Sesekali menengok ke samping sekedar mengamati kilatan cahaya kota dan menikmati rindangnya pepohonan. Karena itulah yang sedang saya alami. Serta perlulah melirik spion untuk melihat kondisi di belakang. Supaya lebih berhati-hati melaju ke depan.

Saya sedang belajar untuk tidak lagi mencemaskan masa depan ataupun menyesali masa lalu. Belajar untuk menjadi pengamat dan penikmat. Bukan hakim.

Sejenak, pikiran saya tertambat pada dreambook. Sebuah buku berisi gambar-gambar yang mewakili keinginan saya selama hidup. Sebuah peran yang ingin saya mainkan. Untuk meyakinkan diri sendiri  bahwa keberadaan di dunia ini menjadi lebih berarti, termaknai.

Hati saya tersentak begitu menyadari betapa satu per satu khayalan yang ada di buku tersebut menjadi kenyataan. Memang benar rasanya bahwa hanya ada satu cara untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Yaitu, bangun dari tidur.

Tepat pukul 5 pagi, saya menginjakkan kaki di Jakarta. Saya puas karena telah belajar banyak tentang satu perjalanan dengan menempuhnya. Dibandingkan jika hanya melihat peta dunia.

8 Tanggapan to “Kabut di perjalanan Senin dini hari”

  1. zefka Says:

    tiap minggu ngelakuin perjalan kayak gitu ya mbak… ngeri kalo kabut menghadang.
    Suerr.. gw bingung bacanya🙂 pas perjalanan di mobil tidur ya?
    Berkendara di keremangan, kepekatan kabut malam kemudian dihubungin dengan perjalanan mengarungi gelombang kehidupan sungguh suatu ilustrasi yg menarik.

    ——
    Yap, tiap minggu Sukabumi-Jakarta, Mas Eko. Kabutnya jarang-jarang kok. Makanya, sekali ada kabut, langsung dapet aha! buat nulis. Tidur di mobil? Ya enggaklah..Kalo tidur, mana mungkin ngalamun:mrgreen: Anyway, makasih untuk apresiasinya..

  2. ciwir Says:

    hidup itu perjuangan,
    atau
    perjuangan untuk hidup…

    ——
    Mbuh, Mas. Njenengan niku, esuk-esuk ngajak mikir. Masih ngantuk @_@

  3. suwung Says:

    naik mobil kok jadi mikirnya macem macem….. awas konsen tergangu

    ——
    Karena mikir macem-macem gitu jadinya konsen, Mas 😀

  4. Jagoan Says:

    wuiiih kabut ky gt 130 km😀 salut bener…

    ——
    Ngga kok. Begitu masuk tol Jakarta, dah bening lagi. Beneran, hehe

  5. bodrox Says:

    solilikoi…

    Keep rock it gal’s!
    ——
    Yups, lagi banyak soliloquy..makanya ngga update” *alesan!*

  6. Norma Says:

    I like this post….
    jadi inget pernah ada teman yang mengibaratkan dirinya seperti mobil,….
    pokoknya komplit, adarem, gas, spion, dll yang semua ada artinya….tapi lupa je….
    ternyata memang kita hidup dibumi seperti mobil yang melaju dijalanan yah….
    bagus…..

    ——
    Hahaha…berhubung belum bisa menguasai mobil sendiri, tulisannya dibuat dari kacamata penumpang dulu aja deh. Maklum, belum bisa bedain mana pedal rem dan pedal gas😀

  7. Listiana advokat Says:

    Rupanya masih tatap semangat yah…

    Sudah lama saya tidak datang ke blog …… salam

    —–
    Semangat menulis blog sih selalu ada, Mbak. Cuma kapan update-nya, itu yang musti pake penthungan. Hihihi..

  8. seli_usel Says:

    . awas konsentrasi nya terganggu ..

    . tapi awas jangan sampai terjadii apa”. amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: