Hidup yang Erotik : Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba [page 1 from 4]

shadowDitulis oleh : Jansen H. Sinamo (Direktur Institut Darma Mahardika – Jakarta, penulis buku ‘8 Ethos’)

Eros, erotik, erotisme. Tiga kata ini akarnya sama. Suasananya juga sama: gelora semangat purba yang atraktif dan menggoda. Menjijikkan bagi kaum saleh tapi menggairahkan bagi orang kebanyakan, kotor bagi para pemeluk teguh tapi merangsang bagi warga abangan, najis bagi umat alim tetapi tonikum vital bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Kata Marc Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya, yang erotik dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama.


Maka, hidup yang erotik adalah hidup yang sakral. Bahkan, tanpa eros, kesucian kita cuma ecek-ecek, tidak jenuin dari jiwa yang terdalam. Tanpa eros, kesalehan kita pura-pura saja, tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional- organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu, tatanan semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meskipun dari luar terlihat masih utuh.

Hidup tanpa eros sepi dan kosong, yang ditandai dengan rasa resah melelahkan dan rasa bosan menekan. Tekanan ini berasal dari sebuah ruang hampa di hati manusia. Itulah hati yang sunyi-senyap dari gempita eros, yang hampa-kosong dari desah nafas eros.

Lalu, untuk menghindari tekanan itu, orang lari ke berbagai kesibukan. Tapi sebenarnya kesibukan itu cuma sebuah laku penghindaran, avoidance–a-void-dance, sebuah tarian di sekitar kehampaan.

Meski terlihat sibuk, sesungguhnya aktivitas non-erotik itu adalah sebuah tarian hampa, banal tanpa estetika. Dan untuk memenuhi kehampaan itu orang mencari berbagai jenis gratifikasi seperti pesta narkoba, seks suka-suka, atau kekerasan massal bergemuruh. Namun, lagi-lagi, sebenarnya tak ada pesta, tak ada sukacita. Sebab ternyata, usai acara, semua pemesta kembali ke dunia nestapa.

Gafni memberi metafora. Seekor lebah terperangkap dalam botol. Dari luar, ia tampak menari-nari penuh gairah, dari sisi ke sisi. Ia terbang meliuk-liuk, dari dasar ke puncak. Namun, dari dalam sungguh malang. Sebenarnya tak ada tarian gembira. Tak ada liukan bergairah. Yang ada cuma usaha tanpa harapan. Pelan tapi pasti, sang lebah mati perlahan. Tercekik lunglai kehabisan oksigen. Kata Gafni, begitulah gaya hidup tanpa eros yang dilakoni individu, keluarga, dan organisasi: palsu, menipu, lalu mati pelan-pelan.

Tapi, bagai nabi, Gafni berjanji. Ada gaya hidup baru untuk kita semua: hidup penuh sukacita kaya makna, hidup penuh cinta kaya warna, hidup penuh tari kaya dinamika. Di situ kita dimungkinkan menikmati setiap momen penuh isi. Tak lagi terisolasi, tapi terkoneksi. Tak lagi sepi sendiri, tapi larut berpartisipasi.

Sesungguhnya kehidupan ini menawarkan kesembuhan bagi luka-duka-nestapa kita. Maka, jangan pedih lagi sebab tersedia senar bagi getar-getar ekstasi surgawi. Jangan perih lagi sebab terbuka akses bagi arus sukacita ilahi. Jangan sedih lagi sebab ada tarian baru: tarian eros yang penuh gairah dan cinta!

(continued) Next : Who’s Marc Gafni?

5 Tanggapan to “Hidup yang Erotik : Merevitalisasi Kehidupan Modern dengan Semangat Purba [page 1 from 4]”

  1. cr9 Says:

    pertamax dulu juragan

  2. Bundanya Dita Says:

    Sebelumnya, aku merasa sepi kala suami belum pulang kerja dan anak sudah terlelap, sedangkan tubuh belum mau merebah. Makanya kucari kesibukan baru untuk menepis rasa sepi itu. Apa itu? ceritanya ada di blog nya Dita *hallah!, padune arep promosi*😀

  3. Bodrox Says:

    Yang penting, bersyukur menjalani hidup.

  4. yuniawan Says:

    ampek kehabisan o2 mbacanya…nice😉

  5. seli_usel Says:

    . harus bersyukur dalam menjalanin hidup ini ..

    . okke


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: