Rinduku

Ku merindukanmu, sayangAlunan nada itu menyentak ruang dengarku.
Menjembatani penggalan waktu bersamamu :
Pendar lampu Kota. Batavia. Dini hari. Kopi. Dan, diskusi.

Tahukah, jangkar yang kau benamkan ini terlalu berat?
Bahkan aroma tubuhmu masih melekat?

Saat ini kuhanya ingin berteriak lantang.
Menembus gendang telinga setiap orang…

Ku merindukanmu, sayang.

*Inspired by one tempting-night at Dunkin’ Donat, Hayam Wuruk.

Dari Penulis:

Saya lahir di keluarga yang mempunyai concern besar terhadap kesenian. Dedikasi Bapak dan Ibu saya terhadap budaya, Jawa khususnya, sudah dimulai sejak beliau berdua masih remaja. Tak heran jika sejak saya balita, tidak ada rasa canggung berdiri di atas panggung. Melakonkan Harjuna kecil dan menari Jawa tradisional telah menjadi ritual mingguan saya.

Baca entri selengkapnya »