Wima-Willa’s Update

1

dedek Willa ikut-ikutan memakai seragam Pesta Perpisahan aa-nya

willa pimbem

Banyak yang nanya : Nggi, boleh gigit pipinya? Boleeeh...

9

Aa Wima paling nggaya di antara temen sekolahnya. Ini pas manggung. Maklum, cucu seniman, hehe

Tulisan pemanasan 😆

Bulan Juni kemarin, sekolah aa Wima mengadakan perayaan kenaikan kelas. Anak TK kelas A ini, tahun ajaran 2009/2010 tetap kelas A. Maklum, baru 3,5 tahun. Kemajuannya adalah sudah bisa melafalkan ‘rrr’ dengan sempurna. Walhasil, apapun yang berbau r, akan dia katakan secara berlebihan : rrr *tumpengan*

Baca entri selengkapnya »

Belajar tentang kebesaran hati dari Wima

three-little-heartsSekitar jam 7 malam, menjelang isya, Wima terlihat mulai mengantuk. Kemudian saya bawa dia dan adiknya ke kamar mereka.

Sambil kucek-kucek mata, Wima bilang, “Pengen peluk ibuuu.” Itulah ritual Wima sebelum tidur jika ada saya.

Kemudian dia membuka kedua tangannya sebagai tanda memeluk. Saya langsung dekap dia sambil ikut tiduran.

Sementara di sampingnya, Willa masih merengek kecil karena mengantuk juga. Tak lama, Wima pun bilang, “Bu, dedek nangis ya.”

Baca entri selengkapnya »

Haruskah “kembali ke rumah”?

susan-chira“Ketika ibu bukan lagi selingkar penuh kehadiran yang menyapa kegembiraan dan kesedihan sang anak, ketika bahkan kehadiran itu bukan lagi sebuah kepastian, apakah yang kita ingat lagi tentang ibu kita?”

Karlina, dari Kata Pengantar Ketika Ibu Harus Memilih (Susan Chira, 1998)

Terus terang, kegelisahan yang sama senantiasa membayangi saya. Setiap saat. Tanpa pilih-pilih tempat.

Sejenak saja kehilangan fokus terhadap apa yang sedang saya lakukan, dengan mudah saya tersedot dalam ruang aneh nan gelap. Bergulat dengan rasa bersalah dan menyalahkan. Mengobrak-abrik ketenangan yang selama ini susah payah saya bangun.

Saya adalah ibu anak saya. Bagaimana bisa saya membayar orang untuk mencintai anak-anak saya?” Demikian pertanyaan retorik dr Laura Schlessinger yang semakin memerihkan hati. Seorang psikolog yang sangat tajam mengkritik ibu bekerja.

Baca entri selengkapnya »

Hasil jepretan Wima di Selabintana

Jalan masuk ke Selabintana

Jalan masuk ke Selabintana

Kemarin (29/03), kami sekeluarga jalan-jalan ke Selabintana. Objek wisata ini terletak di kaki gunung Pangrango, tepatnya 7 km ke arah utara kota Sukabumi.

Selabintana seringkali menjadi tujuan wisata karena kesejukan udaranya. Dan tentu saja keindahan pemandangannya karena dipenuhi pohon-pohon besar nan rindang.

Semacam Kaliurang-nya Jogja atau Tawangmangu-nya Solo gitu.

saya, Willa, Wima, dan suami

saya, Willa, Wima (sang fotografer), dan suami

Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang Selabintana di blog ini, saya pastikan Anda tentu akan sangat kecewa.

Karena saya tidak akan menceritakan secara detail apa itu Selabintana, dari mana asal muasal tempat wisata ini, sejarahnya, mitosnya, dll.

Karena saya juga tidak akan menjelaskan rangkaian objek wisata di daerah ini, semacam Tea Walk di perkebunan Warnasari, air terjunnya, Pondok Halimun yang seringkali dijadikan tempat hiking dan camping, ataupun kebun strawberry di jalur menuju Pondok Halimun.

Baca entri selengkapnya »

Anakku bandel sekali_part 3

Poin selanjutnya adalah :

2. Hati-hati dengan pemberian label pada anak

Jangan langsung dilarang ya. Dijaga sambil ditegur pelan-pelan : "Waah, aa jadi tinggi ya. Hati-hati lho, berbahaya karena bisa jatuh. turun yuk. Kita mewarnai aja gimana?"

Jangan langsung dilarang ya. Dijaga aja sambil ditegur pelan-pelan : "Waah, aa jadi tinggi ya. Hati-hati lho, berbahaya karena bisa jatuh. Turun yuk. Kita baca buku aja gimana?"

Saya sering mendengar para ibu mengeluh, “Duh, Mbak anak saya nih nakaaal sekali.” Baik ketika sedang di ruang tunggu dokter spesialis anak, di kereta, ataupun curhatan teman kantor yang anaknya balita.

Ini yang disebut dengan labeling. Dan persepsi yang terkandung dalam labeling itu akan mempengaruhi cara Anda  berperilaku dan berbicara di depan anak.

Yang pasti, Anda akan menjadi tidak sabaran dan gampang marah melihat perilaku sang anak. Di mata Anda, mereka selalu saja serba salah.

Label, menurut A Handbook for the Study of Mental Health, adalah definisi yang diberikan kepada seseorang dan akan menjadi identitas diri orang tersebut serta menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia.

Dengan memberikan label pada seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu per satu.

Dalam teori labeling, ada satu pemikiran dasar : Seseorang yang diberi label sebagai seorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian, akan menjadi devian.

Ini sama dengan : Anak yang diberi label nakal dan diperlakukan seperti anak nakal, akan menjadi nakal.

Baca entri selengkapnya »

Anakku bandel sekali_part 2

Salah satu polah Wima. Sekali lagi, itu cuma salah satu!

Salah satu polah Wima. Sekali lagi, itu cuma salah satu!

Bagi ibu-ibu yang memiliki anak usia 1-4 tahun, tentu sangat memahami betapa melelahkannya menjaga si kecil di usia ini. Ada beberapa hal yang layak dicatat :

1. Ketahui penyebabnya

Rasa ingin tahu yang besar, ditambah daya eksplorasi motorik yang memang sedang tinggi-tingginya, pastilah membuat sang ibu kewalahan. Fasilitasi aja, ibu-ibu..

Sudah baca tulisan di blog ini yang Darimana Balita Belajar, kan? Berikut potongan tulisan favorit saya : *tulisan sendiri kok difavoritin

Biarkan ia mengeksplorasi lingkungannya. Biarkan tangan kecilnya menyentuh pasir, rumput, dan bunga. Biarkan ia mengamati semut yang berjalan beriringan. Biarkan ia mengejar kupu-kupu dengan kaki telanjang. Tugas kita adalah memandunya. Bukan sekedar melarang dan memarahi, yang kelak hanya akan memandulkan kreativitas dan potensinya.”

Kalo kasus Wima, pelanggaran batas –  seperti yang saya tulis di posting sebelumnya (part 1) – salah satunya dikarenakan  kurangnya perhatian.

Jika saya amati, bukankah jika dia melakukan kreativitas kelewat batas, saya dan ayahnya – yang sibuk sendiri-sendiri – jadi memperhatikan dia? Yaitu menegur. Cara itu seringkali digunakan Wima untuk memanipulasi perhatian kami berdua. Be aware with their manipulation! 😀

Baca entri selengkapnya »

Anakku bandel sekali_part 1

orgil

Jepit jemuran : selain dijadikan robot-robotan, ternyata bisa jadi jepit rambut. Asli kreativitas Wima sendiri. Lihat tampang tengilnya. Tobat tenan.

Sudah cukup lama saya mendengar complain dari mama dan suami tentang kebandelan Wima. Sebentar saja ditinggal dan tidak mendapat perhatian, dia akan :

  • Menyiram tembok di ruang tv hingga kamar tidur dengan air minum
  • Mencoret-coret tembok dengan pensil warna
  • Berteriak-teriak hingga membangunkan Willa yang tidur terlelap
  • Berlari-lari di dalam rumah
  • Memanjat apa pun yang yang bisa dipanjat
  • Melempar mainan, terutama mobil-mobilan

Tidak hanya di rumah, demikian juga di sekolah. Hingga Sabtu (21/3) kemarin, saya memutuskan untuk observasi perilaku Wima di kelas. Dengan ikut masuk kelas tentu saja.

Selama 45 menit di dalam kelas, berikut daftar kegiatan Wima :

  • Lima menit pertama, nempel terus sama saya. Glendat-glendot sambil cengar-cengir manja.
  • Lima menit kedua, duduk manis di bangku dan mengikuti apa yang diinstruksikan guru di depan kelas.
  • Lima menit berikutnya dan seterusnya : mulai gelisah. Asyik sendiri dengan bermain balok. Naik-naik bangku. Gelitikin leher teman sampingnya. Dorong-dorong kursi mengelilingi kelas. Dan yang ekstrem, masuk kolong meja. Ngapain coba??!

Baca entri selengkapnya »