Antara bekerja dan bersenang-senang : menulis dan berbincang

Angkringan HR

Menulis di sela-sela pekerjaan rutin. Di luar job-desc soalnya, hehe...

Di divisi HRGA PT BUMA tempat saya bekerja, ada media sosialisasi project HR dalam bentuk buletin dua mingguan bernama ‘Angkringan HR’. Ide dari Mr. DGM (Deputy General Manager) sendiri yang sepertinya melihat hobi menulis saya. Aseek..

Saat proses pengiriman e-mail edisi ketiga kemarin ke level Managing Director sampai Supervisor, ada beberapa nama yang belum tercantum di sent list e-mail saya. Kemudian beliau menegur via e-mail :

Mr. DGM : “Kok untuk supervisor tidak ada?”

Saya : “Udah kan, Pak? Di e-mail susulan karena supervisor dilampiri PDF edisi 1 sampai 3 sekalian.”

Mr. DGM : “Ok tks, Kabag TC belum.”

[Kabag TC : Training Center Section Head]

Saya : “Inggih, Pak. Sendhika dhawuh..”

[Iya, Pak. Siap menjalankan perintah..]

Mr. DGM : [mulai main wayang]

“Wara Sembodro…

Lha, kowe kok lali… ora ngirimake gaman kang wujud wacan angkringan marang para punggawa-ku TC. Mengko para punggawa aning lapangan bisa2 ora mbiyantu aku ning laga Kurusetra. Lha mengko piye, para prajurit ku bisa pralaya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Happy Anniversary, Suamiku…

Bulaksumur Pos mewakili UGM di Kuis Kocok-kocok SCTV, hehe

Komunitas B21 (Bulaksumur Pos) mewakili UGM di Kuis Kocok-kocok SCTV, hehe...masih cupu yak.

Saya pertama kali bertemu suami 6 tahun yang lalu di sebuah komunitas B21 UGM, komunitas mahasiswa yang sama-sama meminati kegiatan pers. Saat itu saya baru memasuki semester 3 di bangku kuliah.

Setelah melalui rangkaian kegiatan bersama, terbukalah pintu komunikasi di antara kami berdua. Ternyata suami adalah tipe yang sangat serius dalam menyikapi hidup tanpa meninggalkan kemampuannya dalam menyampaikan humor dengan cerdas. Tidak seperti saya yang tipe hura-hura dan menjalani hidup apa adanya. Bagi beliau, hidup harus dijalani dengan visi.

Saya banyak menimba ilmu dari pria yang sangat saya kagumi ini. Kegiatan kami lebih banyak diisi diskusi dan jalan-jalan di toko buku.

Memasuki bulan ketiga sejak perkenalan itu, kami sudah sangat dekat karena komunikasi yang cukup intens. Hingga suatu hari, beliau menyampaikan statement yang membuat saya terkaget-kaget. Kata-katanya jauh dari romantis, malah disampaikan dengan nada dan tatapan serius, “Oh, ternyata ini yang nantinya jadi istriku.”

Seolah-olah hal tersebut menjawab tanda tanya besar yang menjadi misteri selama hampir seperempat abad usianya saat itu. Seperti apakah istrinya kelak? Seperti apakah anak-anaknya kelak? Wah, kalo saya sih mana kepikiran…

Baca entri selengkapnya »

Memahami bahasa asing dengan mudah

millitary-radarKamis (12/3) minggu lalu, saya menumpang kereta api ekspress jurusan Bekasi karena berniat menginap di rumah saudara.

Saat perjalanan, saya memperhatikan dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang berbincang dengan bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Kedua orang tersebut sama-sama duduk di bawah, di depan saya. Jika mengamati gayanya, saya menebak itu adalah bahasa Batak.

Wah, saya jadi ingat konsep pacing-leading dalam NLP yang pernah ditulis Teddy Prasetya Yuliawan – pendiri Indonesia NLP Society – yang juga teman seangkatan saya saat kuliah di Psikologi UGM.

Berikut cuplikan dari situs beliau : (dengan minimal-editing supaya lebih ringkas)

Baca entri selengkapnya »

Pentingnya memahami hidden need orang lain

interview-pic-2Di balik proses bisnis yang dinamis, selalu muncul riak-riak konflik yang jika dibiarkan begitu saja, akan mengganggu harmonisitas dan produktivitas kerja.

Oleh karena itu, dibutuhkan orang-orang yang mampu menjadi katalis untuk mendapatkan mutualisme yang optimal di antara pihak yang berkonflik.

Jadi ingat pada mantan manajer HRD saya, sebut saja Mr. Y. Beliau adalah orang yang mumpuni dalam memahami dan mempengaruhi orang lain. Usianya baru memasuki kepala tiga, namun sangat berwibawa dan bijaksana. Hingga saat ini pun, saya sangat respect dengan beliau meski tidak dalam satu perusahaan lagi.

Ceritanya, setelah jam kerja, saya meminta waktunya sebentar. Beliaupun mengiyakan dengan sangat ramah. Saat itu, ada 2 hal yang saya konsultasikan padanya, yaitu tentang permasalahan hubungan saya dengan salah satu rekan kerja dan masa depan karir di perusahaan.

Baca entri selengkapnya »

Apa yang harus dilakukan di tahun pertama menikah

just-married“Nah, emang waktu awal nikah dulu, kamu en suami ngapain aja?”

*Dara (lagi), masih via sms

Jawab : Bikin anak donk.

Oke, berikut ini jawaban yang serius:

Konsolidasi sebagai pasangan baru. Ini adalah fase penyesuaian. Komunikasi yang sehat sangat dibutuhkan. Saat-saat hanya berdua di awal pernikahan seperti ini, manfaatkan untuk mematangkan rencana pernikahan. Seperti:

  • Kapan akan punya anak, berapa anak, berapa tahun jarak kelahirannya, siapa dokter untuk anak (jika diproyeksikan pada pengalaman pribadi kami : rencana tinggallah rencana. Kenyataannya, anak-anak muncul di rahim begitu saja
  • Kemana Anda akan menyekolahkan anak dan pertimbangannya (seperti apakah lokasi, kurikulum, fasilitas, dan metode mengajarnya)
  • Seperti apakah kurikulum/konsep pengasuhan dan pendidikan untuk anak (jika Anda memutuskan untuk home-schooling)
  • Seperti apakah rencana karir/pekerjaan jangka panjang Anda berdua (apakah menjadi PNS/swasta /entrepreneur)
  • Seperti apakah rencana alokasi keuangan keluarga Anda (berapa % untuk konsumsi/saving/asuransi/investasi). Ini juga tergantung tipe pekerjaan yang Anda pilih.
  • Kapan memiliki rumah, dimana lokasinya, dan bagaimana cara mendapatkannya (KPR/tunai, cluster/lepas/apartemen, developer/membangun sendiri, second/baru). Hal ini berkaitan erat dengan pendapatan gabungan suami istri.

Baca entri selengkapnya »

Bagaimana berperilaku di depan balita Anda

Usia 0-5 tahun seringkali disebut fase usia emas. Apa pun yang balita lihat, dengar, dan rasakan akan langsung diserap tanpa melalui filter sama sekali. Balita adalah pengamat yang sangat teliti. Kata-kata/bahasa yang kita gunakan sebagai bentuk komunikasi, tarikan senyum kita, ekspresi marah kita, dan kebiasaan-kebiasaan kita akan ditiru habis-habisan oleh makhluk super cerdas ini.

Coba perhatikan perilaku balita Anda. Dialek, ekspresi wajah, dan pola perilakunya pasti tidak akan jauh dari figur lekatnya, yaitu orang yang mengasuh si balita.

Jadi, jika kita menganggap si balita ini susah diatur, evaluasi lagi cara kita mengasuh dan mendidik dia.

Dalam ilmu psikologi, tidak ada anak nakal, yang ada adalah orang dewasa yang gagal mengarahkannya.

Ini contohnya:

Balita mengamati perilaku orang dewasa yang lekat dengannya :

1-loh-wim-sholat-donk-nak-kok-malah-ngliatin-ayah-sih-kan-udah-dipake-in-sarung-si-cepot.jpg2-ayah-dan-anak-kompak-bgt.jpg

3-kegiatan-yang-menyenangkan-di-hari-minggu.jpg4-yah-jgn-maen-sendiri-donk-ini-layarnya-mana.jpg

Balita menirukan ekspresi wajah kita :

5-hwhe-serius-amat-maen-tembak2annya-ngerti-po-wim.jpg6-hiks-kok-ibu-ga-diajak-siiih.jpg

Apa prioritas hidup Anda?

woman-overcoming-solving_ca_8_4Dalam satu waktu, kita harus menjalankan peran majemuk. Saat ini pun, saya harus berperan sebagai istri, ibu, anak, cucu, sahabat, sekaligus wanita karir.

Masing-masing peran mempunyai tuntutan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun sayang, keseimbangan dalam menjalankan setiap peran seringkali dilupakan orang.

Harus sholat tepat waktu, tetap mengaji meski sedang malas, bangun untuk tahajud meski masih mengantuk, tetap dhuha meski pekerjaan menumpuk.

Harus senantiasa hormat dan mesra pada suami.

Harus selalu sabar dan total dalam mengasuh dan mendidik anak. Harus mampu me-manage amarah supaya tetap bijak menghadapi anak.

Harus menjaga komunikasi dengan orangtua, sahabat, dan siapa pun yang membutuhkan perhatian saya.

Harus cepat tanggap ketika ada pekerjaan di kantor. Harus cepat switch perasaan negatif menjadi positif ketika ada masalah. Harus pasang tampang senyum setelah menangis. Supaya pekerjaan kantor cepat selesai, kinerja tidak turun, tetap produktif, dan cepat dalam menyerap ilmu baru.
Baca entri selengkapnya »